Juni 12, 2024
Tuan Guru Husin Ali

Tuan Guru Husin Ali bersama Kiai Falak Bogor. Foto-Istimewa.

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Dua tahun setelah berdirinya (1926), NU membuka cabang di luar Jawa Timur yang pertama, yakni di Martapura-Kalimantan Selatan pada 1928. Ketua NU pertama itu adalah KH Abdul Qadir Hasan atau yang lebih dikenal dengan julukan Guru Tuha.

KH Abdul Qadir Hasan ini adalah murid KH Kasyful Anwar, yang diperintahkan mengaji kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari (pendiri NU) di Jombang dan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Sepulang dari Jombang, menurut KH Muhammad Husin, Guru Tuha mendirikan cabang NU di Martapura. Ketika itu, KH Abdul Qadir menunjuk KH Husin Ali yang masih berumur 21 tahun menjadi Katibnya.

Selang beberapa tahun kemudian, KH Husin Ali dipercaya menjadi pimpinan NU di Martapura, Kabupaten Banjar.

“Tepatnya periode 1931-1936 M,” ujar Guru Muhammad Husin.

Selain menjadi pengajar di Pondok Pesantren Darussalam dan organisasi, KH Husin Ali menyibukkan diri dengan menjadi pengusaha intan permata. Beliau tidak menggelar majelis di kediaman, sebagaimana ulama di masanya.

Sebagai pengusaha, beliau dikenal pengusaha yang jujur, tak banyak basa-basi. Menurut KH Syaifuddin Zuhri, pengasuh majelis taklim Bani Ismail, Banjar Indah, Banjarmasin, biasanya orang-orang membeli intan beliau tanpa menawar. Selain karena ketokohan beliau, juga karena barang dijual KH Husin Ali memang bagus.

“Ini ada barang. Harganya sekian. Kalau mau beli silakan. Untungnya untukku dan santunan kepada fakir miskin,” ujar Guru Syaifuddin, menirukan ucapan KH Husin Ali ketika menawarkan barang.

Ada banyak jumlah fakir miskin yang disantuni KH Husin Ali setiap bulan. Setelah wafat, fakir miskin tersebut pun diserahkan untuk disantuni kepada KH Seman Mulya. Dan ketika KH Seman Mulya wafat, para fakir miskin diserahkan kepada Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani.

“Di tangan Guru Zaini, jumlah (fakir-miskin) tersebut bertambah lima kali lipat. Tiap satu minggu sekali, beliau mengeluarkan dana Rp 1 miliar untuk 1.500 orang,” terang Guru Syaifuddin.

Penulis: Muhammad Bulkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *