Juli 20, 2024
kerajinan banjar arguci

Nor Syifa, pengrajin Arguci di Kampung Melayu, Martapura. Foto-Albanjari.com.

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Sejumlah remaja putri di Kampung Melayu, Martapura menekuni kerajinan tangan, Arguci. Selain sebagai bentuk melestarikan kerajinan Banjar, mereka juga dapat tambahan uang jajan.

Mengutip Pariwisata kalsel.id, arguci adalah kerajinan tangan menyulam khas Kalimantan Selatan yang sudah menjadi tradisi sejak ratusan tahun yang lalu, terbuat dari kain beludru berhias manik-manik berwarna emas atau perak dirangkai dengan jalilan benang menjelma menjadi gambar-gambar atau tulisan indah dan penuh cita rasa seni yang mencondong ke motif islami.

Di abad ke 18, Kain Arguci dulu hanya digunakan oleh para raja Kerajaan Banjar sebagai symbol kemewahan kaum bangsawan. Sulaman arguci dulu kerap ada di baju kebesaran raja-raja Banjar. Hiasan dindingnya juga berupa sulaman arguci yang kerap menghiasi dinding-dinding istana.

Perbedaan kain guci koleksi kerajaan dengan kain guci yang sekarang dijual kepada warga terletak pada hiasannya. Jaman dahulu sulaman kain dihias dengan perak atau batu mulia. Sedangkan sekarang hanya memakai manik-manik biasa. Biasanya arguci dijadikan hiasan dinding, busana pengantin Banjar, dinding pelaminan, dinding ranjang pengantin Banjar hingga busana tradisional Banjar dan Dayak. Sulaman arguci ini menjadi produk cinderamata andalan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

kerajinan banjar

Di Kampung Melayu, Martapura, kerajinan tangan ini masih lestari. Bahkan sejumlah remaja putri masih aktif menjadi pengrajinnya. Salah satu pengrajin Arguci, Nor Syifa mengatakan, dirinya sudah menyulam berbagai motif.

“Biasa yang ulun sulam itu seperti kaligrafi ‘Allah dan Muhammad’, ‘Ayat Kursi’, ‘Bismillah’, hingga sulaman untu baju pengantin khas Banjar,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya.

Dari hasil keringatnya turut melestarikan kerajinan Banjar itu, Nor Syifa dan teman-teman sebayanya mendapat upah dari pemesan.

“Lumayan buat menambah uang jajan. Untuk satu sulaman biasanya diupah Rp30 ribu sampai Rp40 ribu sesuai tingkat kesulitan dan luas diameter sulaman yang kami kerjakan,” ucapnya.

Kerajinan Arguci ini, sambung Syifa, dikerjaka sepulang sekolah.

“Sambil ngumpul teman-teman, mengisi waktu luang,” tutupnya.

Kontributor: Fitriyanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *