Mei 28, 2024

Mahfuzhat merepresentasikan pesantren modern dan bagian dari identitasnya. Maka, jika ingin mengenal pesantren modern, lihatlah Mahfuzhat.

Oleh: Yunizar Ramadhani*)

ADA satu mata pelajaran di dalam kurikulum pesantren modern yang tidak terdapat di pesantren lain. Bukan sekedar ilmu, pelajaran ini juga menjadi sumber nilai kehidupan pesantren yang diharapkan juga jadi sumber nilai kehidupan santri-santrinya. Lebih dari itu, sifatnya yang unik lagi orisinil dapat dinilai sebagai representasi dari modernisme pesantren. Pelajaran itu bernama Mahfuzhat.

Apabila pelajaran-pelajaran lain pada umumnya bermuatan teori-teori atau kaidah-kaidah ilmiah, Mahfuzhat berisi kalimat-kalimat mutiara. Tentu saja semuanya berbahasa Arab. Jika dewasa ini banyak pengguna media sosial membagikan gambar-gambar pemandangan disertai dengan kutipan kalimat mutiara di status akunnya, santri-santri modern sudah sejak lama mempelajarinya.

Buku pegangan guru Mahfuzhat kelas 1 (7 tingkat SMP)

Kalimat-kalimat mutiara tersebut sebagian berbentuk kalimat tunggal, sebagian lain berbentuk syair-syair Arab. Kalimat-kalimat terkenal seperti man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh dapatlah ia) dan man shabara zhafira (siapa yang sabar niscaya beruntung) sesungguhnya berasal dari Mahfuzhat.

Mahfuzhat adalah salah satu pelajaran yang diajarkan di semua kelas, di semua jenjang pendidikan (dari kelas 7 SMP hingga kelas 12 SMA). Di salah satu pesantren modern di Kalimantan Selatan, pelajaran seperti Tafsir tidak masuk dalam kurikulum pembelajaran kelas tertentu. Nahwu dan Sharf juga baru diajarkan mulai kelas 8 tingkat SMP. Ini menandakan Mahfuzhat tidak hanya pelajaran yang sangat penting tapi juga utama dalam tradisi pesantren modern.

Kalimat-kalimat mutiara dan syair-syair Arab dalam Mahfuzhat bersumber dari karangan-karangan para ulama Muslim dan para penyair kenamaan, mulai dari syair sebelum era Nabi Muhammad Saw hingga kontemporer, dari Imam al-Syafi’i hingga Ma’ruf al-Rashafi (w. 1945 M). Semakin tinggi kelas yang santri duduki semakin tinggi pula nilai sastranya.

Dengan demikian, Mahfuzhat adalah salah satu pelajaran dalam bidang bahasa dan sastra Arab (selain Tamrin al-Lughah, Nahwu, Sharf, Balaghah, Insya dan lain-lain). Pesantren modern memang menitikberatkan keterampilan berbahasa Arab dan Inggris santri-santrinya. Hal itu merupakan wujud dari prinsip al-lughah taj al-ma’had (bahasa adalah mahkota pondok).

Dalam proses pembelajaran guru biasanya memberikan kosakata Arab baru dari materi Mahfuzhat yang akan disampaikan. Guru kemudian melafalkan kalimat atau syair mutiara diikuti oleh para santri, lalu menuliskannya di papan tulis.

Guru lalu menjelaskannya dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Sebagian guru di masa sekarang bahkan menggunakan perangkat proyektor untuk menampilkan gambar, video, atau film yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan.

Bagian akhir: menghafal. Guru akan melafalkan keras-keras kalimat atau syair Mahfuzhat berkali-kali dengan diikuti para santri seperti di awal pembelajaran, tapi kali ini sembari melafal guru menghapus kata demi kata yang tertera di papan tulis. Begitulah teknik guru membantu para santri menghafalkan kalimat-kalimat atau syair-syair dalam Mahfuzhat.

Dari ini dapat kita lihat bahwa di samping metode pembelajarannya yang khas, pelajaran Mahfuzhat juga ditransfer ke dalam pikiran santri dalam bentuk hafalan. Ini menandaskan pesantren modern tidaklah sama sekali meninggalkan ciri-ciri tradisional pesantren.

Sudah sejak lama hingga hari ini kita telah menyaksikan pesantren-pesantren tradisional mengadopsi beberapa pola pesantren modern. Sebaliknya, pesantren modern masih mempertahankan unsur-unsur tradisional. Jika demikian, apa yang mendefiniskan kemodernan pesantren modern? Saya berargumen modernisme pesantren modern dapat kita lihat melalui Mahfuzhat.

Santri modern. Photo credit: darunnajah.com

Mahfuzhat sebagai Representasi dan Identitas

Sekalipun Mahfuzhat termasuk bagian dari pembelajaran bahasa Arab – dalam Ujian Lisan (al-imtihan al-syafahiy) setiap akhir semester termasuk salah satu materi dalam bidang bahasa Arab, ia juga bertujuan membentuk akhlak atau karakter santri-santri. Pertanyaannya: karakter yang bagaimana?

Di balik tampilan sastra Arabnya, kalimat-kalimat dan syair-syair Mahfuzhat mengandung motivasi atau nasihat-nasihat moral, seperti motivasi belajar, adab berhubungan sosial, bersungguh-sungguh dalam mengejar cita-cita, pentingnya mengelola keuangan, dan lain-lain. Semuanya adalah karakter-karakter yang memenuhi jati diri seorang Muslim modern.

Inilah kiranya jawaban untuk kawan saya yang menanyakan: jika Mahfuzhat memuat kalimat-kalimat mutiara nan bijak, kenapa tidak ada puisi Jalaluddin Rumi, mengingat sang penyair Persia menulis ribuan syair? Rumi jelas adalah juga seorang sufi, sehingga syair-syairnya lebih cenderung sebagai syair-syair sufistik. Sementara pesantren modern lahir dari angin modernisme Islam yang berhembus di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Apa yang kita ketahui tentang peradaban modern, pendidikan modern, seni modern dan lain-lain, sebenarnya merujuk pada gerakan filsafat dan seni yang tumbuh di Eropa. Kolonialisme di negeri-negeri di Afrika dan Asia Tenggara membawa semangat modernisme itu. Penduduk pribumi lalu terinspirasi olehnya, termasuk kaum Muslim (perhatikan tokoh Minke dalam Bumi Manusia-nya Pram).

Modernisme muncul bersamaan dengan kemajuan pesat sains dan teknologi pasca masa renaisans Eropa. Sejak saat itu kehidupan tidak lagi berpusat pada makna ontologis, apalagi metafisis, tentang sesuatu, melainkan pada teknik: yaitu bagaimana pengetahuan dan alat-alat teknologi berfungsi secara praktis bagi manusia.

Apa yang bermakna bagi manusia bukan lagi apakah sesuatu memang punya arti pada dirinya, melainkan bagaimana sesuatu itu dan alat-alat berfungsi bagi kehidupannya. Semangat ini bercita-cita dan nantinya secara perlahan melahirkan apa yang disebut dengan masyarakat industri.

Masyarakat semacam itu membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kepercayaan dan kesadaran diri: diri yang sadar akan kemampuan dan otoritasnya. Pribadi yang demikian adalah pribadi pembelajar, gigih, ulet, terampil dan punya semangat kerja yang tinggi. Semua itu demi satu unsur “sakral” dalam masyarakat industri, yakni produksi.

Bagi Muslim, karakter-karakter itu dipadankan dengan jiwa keislaman, yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berpegang teguh kepada al-Quran dan Hadis. Formula ini terlihat jelas di dalam Mahfuzhat.

Oleh karena itu, bersama dengan Mahfuzhat, pesantren modern memiliki struktur kurikulum yang memadukan ilmu-ilmu keislaman dan sains. Bahasa Arab dan Inggris sebagai alat penghubung dunia Islam dan antar bangsa menjadi “mahkota pondok” dan agar menguasainya santri dituntut berkomunikasi dalam pergaulan sehari-hari dengan menggunakan kedua bahasa tersebut.

Santriwati modern Ponpes Darul Hijrah Putri, Martapura, Kalimantan Selatan

Pesantren modern juga membina minat dan bakat serta keterampilan profesional para santri melalui kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler. Kegiatan seperti Muhadharah (latihan berpidato) dan Pramuka membantu membangun kepercayaan diri santri modern.

Pengambilan muatan Mahfuzhat yang hampir semuanya perkataan ulama dan syair pujangga juga menjadi karakteristik lainnya dari pesantren modern. Perilaku ini mirip dengan situasi dunia Islam abad ke-4 H/ ke-10 M yang Oliver Leaman dalam History of Islamic Philosophy (Nasr (ed.), 2003) sebut dengan era Humanisme Islam.

Leaman mendedah bentuk karya tulis yang khas periode tersebut adalah literatur kebijaksanaan. Literatur tersebut berupa kumpulan pepatah, argumen, anekdot, komentar biografis dan komentar mengenai fenomena alam. Bentuk literatur itu menggambarkan sekumpulan ucapan para sarjana dan orang-orang bijak – bukan wahyu kenabian. Ini sungguh terdengar seperti Mahfuzhat.

Yang ditekankan dalam literatur seperti itu, urai Leaman lagi, adalah hendak memaparkan sifat kehidupan sebagai suatu phronimos (kebijaksanaan) dengan memperlihatkan seperti apakah ragam gaya hidup dan pemikiran yang diharapkan mungkin dapat dicapai oleh individu yang menerimanya. Lagi-lagi hal ini terkesan seperti pembelajaran Mahfuzhat.

Secara sederhana humanisme dapat dipahami sebagai pemikiran filosofis yang mengedepankan nilai dan kedudukan manusia dalam segala hal. Kecenderungan humanis, baik dalam paham keagamaan, politik, budaya maupun seni, mendapatkan momentum di era modern. Ketika segalanya terpusat pada manusia dengan segala pikiran dan kemampuannya, modernisme diharapkan akan mencapai cita-citanya.

Suasana zaman modern memberi kesempatan bagi pelajaran Mahfuzhat untuk memainkan peran. Selain melalui kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas, nilai-nilai yang terkandung dalam Mahfuzhat juga ditanamkan ke dalam jiwa santri di lingkungan asrama. Kutipan-kutipan dari Mahfuzhat acapkali terlontar dalam ceramah Kyai dan guru-guru.

Kutipan-kutipan tersebut juga terpampang pada tulisan-tulisan yang menghiasi lingkungan asrama. Sebagian pesantren modern bahkan memperdengarkan rekaman bait-bait syair Mahfuzhat lewat pengeras suara setiap pagi sebelum para santri masuk kelas dan selama waktu istirahat.

Proses internalisasi yang begitu intens ini secara perlahan menjadikan Mahfuzhat bukan hanya sekedar materi pengetahuan yang dihafalkan, tapi juga sumber nilai yang dijaga dan dilestarikan bagi kehidupan di pesantren modern (mahfuzhat berarti yang dihafalkan atau dijaga). Diharapkan pula tetap demikian ketika para santri selesai mondok.

Dengan ini Mahfuzhat menjadi satu kesatuan dengan pesantren modern beserta warga-warganya. Dengan kesatuan itu Mahfuzhat kemudian menjadi bagian dari identitas pesantren modern itu sendiri.

Identitas berarti pengenal, penanda, atau simbol yang memisahkan atau membedakan suatu objek dengan objek yang lain. Identifikasi pesantren modern melalui Mahfuzhat bukan hanya dapat dilakukan dengan menempatkan pesantren modern sebagai objek, melainkan juga sebagai subjek yang mengidentifikasi dirinya. Inilah yang coba warga pesantren modern tampilkan.

Pentas Seni santri modern Ponpes Darul Hijrah Putra, Martapura, Kalimantan Selatan

Pada kesempatan tertentu, khususnya ketika tidak ada berita atau informasi yang perlu disampaikan ke publik, akun media sosial pesantren modern kerap membagikan kalimat-kalimat atau bait-bait syair Mahfuzhat. Seorang kawan alumni pesantren modern yang juga seorang pendakwah mengaku sering menjadikan Mahfuzhat sebagai bagian dari materi ceramahnya.

Contoh terbesar mengenai ini adalah novel-novel Negeri Lima Menara (2009), Ranah Tiga Warna (2011), Rantau Satu Muara (2013) dan Anak Rantau (2017). Buku-buku tersebut ditulis oleh Ahmad Fuadi, seorang alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, yang terinspirasi dari kehidupan penulisnya yang sangat menghayati ajaran-ajaran Mahfuzhat.

Demikianlah pelajaran Mahfuzhat merepresentasikan pesantren modern dan menjadi bagian dari identitasnya. Maka, jika ingin mengenal pesantren modern, lihatlah Mahfuzhat.[]

*) Penulis adalah pengajar di Ponpes Darul Hijrah Putri dan STIT Darul Hijrah Martapura, Kalimantan Selatan; pengurus LTN PCNU Kabupaten Banjar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *