Juni 10, 2024
Foto bersama PC Ansor Banjar serta perwakilan banom NUdi depan bioskop XXI Duta Mall, Banjarmasin,foto-Istimewa

Foto bersama PC Ansor Banjar serta perwakilan banom NU di depan bioskop XXI Duta Mall, Banjarmasin,foto-Istimewa

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama (PC GP Ansor) Banjar dan perwakilan dari Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama Kabupaten Banjar nonton  bareng film Sayap-sayap Patah bersama Kapolda Provinsi Kalimantan Selatan dan Polres Banjar di Duta Mall Banjarmasin, Selasa (6/9).

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Banjar, Muhammad Syafiie Rifqi mengatakan film Sayap-Sayap Patah yang rilis di seluruh bioskop yang ada di Indonesia merupakan adaptasi dari kisah nyata.

“Film Sayap-Sayap Patah diambil dari kisah nyata, ada pesan moral bagi kita tentang bahayanya paham radikalisme yang mengganggu keutuhan Negara Republik Indonesia,” ujar Ketua Ansor Banjar.

“Kita mengambil pelajaran dari film tersebut. Sehingga semua kader paham bahwa apa yang dilakukan untuk memerangi kelompok intoleran dan anti Pancasila merupakan keharusan,” sambungnya.

Dia berpesan kepada para remaja, bahwa film ini sangat baik ditonton. Agar kita bisa menghargai perjuangan para polisi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Berhati-hati lah dengan paham-paham intoleran dan paham yang menimbulkan terorisme,” katanya.

Bertempat di Bioskop Duta Mall, Banjarmasin, kegiatan nonton bareng film Sayap-Sayap Patah ini selain bersama Ansor, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU Kabupaten Banjar ada juga  Serikat Buruh Provinsi Kalimantan Selatan.

Sekilas mengenai film Sayap-sayap Patah

Merupakan sebuah film yang disutradarai Rudi Soedjarwo. Film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra yang berperan sebagai Adji, dan Ariel Tatum sebagai Nani tersebut, diangkat dari peristiwa nyata kerusuhan berdarah di Mako Brimob, Depok, pada tahun 2018 silam.

Diceritakan, Adji dan Nani merupakan sepasang suami istri yang hidup bahagia. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika Nani mengandung, dan seiring waktu berjalan, kandungan Nani semakin membesar.

Namun, di sisi lain, Adji sang suami tidak dapat menemani Nani setiap saat, karena pekerjaannya sebagai personel kepolisian di satuan khusus Densus 88 yang harus siaga saat dibutuhkan untuk bertugas.

Hampir setiap hari, Adji harus bertugas dan meninggalkan Nani sendirian. Padahal Nani tengah mengandung tua dan ia divonis dokter memiliki tekanan darah tinggi yang dapat menyebabkan keguguran.

Mereka pun sempat bertengkar, dan Nani berkeinginan pulang ke Jakarta agar kehamilannya bisa terjaga.

Film ini menceritakan cinta keluarga dan cinta tanah air. Keluarga Adji dihadapkan dengan rasa cinta pada dua keluarga.

Film ini juga menggambarkan bagaimana beratnya tugas seorang polisi, khususnya Densus 88 dalam mengemban amanah memberantas kelompok-kelompok intoleran dan radikalisme yang akhirnya menyebarkan teror.

Reporter : Rohmiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *