
Rekanita Latipah, Ketua PC IPPNU Kabupaten Banjar masa khidmat 2024-2026 (foto: istimewa)
Albanjari.com, Martapura – Tak terasa sudah berada di penghujung amanah besar. Amanah yang memberikan banyak pelajaran, pengalaman dan pendewasaan. Berbagai dinamika telah dilalui dan meninggalkan banyak kenangan.
Berbagai peristiwa dan kegiatanpun telah dilalui bersama. Ada yang memberi tawa, ada juga yang menyebabkan tetesnya air mata. Semua itu, merupakan wujud dari pengkaderan nonformal yang telah banyak merubah paradigma.
Latipah, Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Banjar masa khidmat 2024-2026 sedang berada di titik-titik purnanya tugas. Ketua organisasi yang bersemboyankan belajar, berjuang dan bertakwa. Kini, organisasi yang dipimpinnya itu sedang menghadapi konferensi.
Konferensi yang bukan hanya soal pergantian pimpinan dan pengalihan amanah, melainkan sebagai tumpuan arah dan kebijakan IPPNU kedepan. Pada forum tersebut rekanita-rekanita itu tidak hanya mendialogkan siapa pemimpin selanjutnya, tetapi kemana IPPNU akan dibawa.
Data yang kami terima dari panitia pelaksana, ada dua kandidat yang nantinya akan berlaga di Konfercab tersebut. Dua orang itu adalah Rekanita Raisya Zazkia Ramadhani dari PAC Martapura dan Rekanita Aulia Rohmah dari PAC Karang Intan.
Kalo kita telisik trackrecord kedua kandidat tersebut, dua-duanya berkader dari bawah. Rekanita Raisya berkader mulai dari PK IPPNU PP. Darussalam dan Rekanita Aulia Rohmah berkader mulai dari PR IPPNU Mandikapau. Itu artinya, mereka berdua memang pantas, karena sama-sama berporses dari tingkatan paling bawah.
Kilas Balik, Kesan dan Harapan Latipah di Penghujung Kepemimpinannya
1. Kilas Balik Perjalanan Selama Satu Periode
Selama satu periode ini, perjalanan kami di PC IPPNU layaknya sebuah miniatur kehidupan. Kami bergerak di wilayah Kabupaten dengan keberagaman kultur dan budaya yang sangat kaya di setiap kecamatannya. Tentu tidak selalu mudah.
Kami melewati dinamika rasa, mulai dari tawa, rasa bahagia saat agenda sukses, hingga air mata dan rasa kecewa saat menghadapi tantangan. Namun, semua itu kami lalui bersama karena bagi kami, IPPNU bukan sekadar organisasi, melainkan rumah untuk berproses dan wadah utama dalam berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama.
2. Implementasi Program Kerja
Kami berusaha menyeimbangkan antara penguatan internal dan dampak sosial. Beberapa program unggulan yang telah terlaksana antara lain:
– Pengkaderan Formal & Non-Formal: Pelaksanaan Latpel 1 dan Lakmud, baik di tingkat PC maupun pendampingan di tingkatan PAC. Kami juga fokus pada pelatihan administrasi, berbagai kajian dan talkshow edukatif.
– Pendampingan & Regenerasi: Kami terjun langsung memastikan PAC-PAC tetap hidup agar distribusi dan regenerasi kader tidak terputus.
– Aksi Sosial & Kemandirian: Melalui gerakan “IPPNU Peduli” saat musibah banjir, serta inovasi seperti Katalog Rekanita dan Dapur Rekanita untuk pemberdayaan anggota.
Masih banyak agenda lain yang mungkin tidak bisa disebut satu per satu, namun semuanya memiliki tujuan yang sama: kemajuan organisasi.
3. Peristiwa Paling Berkesan
Jika ditanya apa yang paling berkesan, bagi saya pribadi bukan tentang panggung besar atau penghargaan. Momen paling mengharukan adalah ketika saya, sebagai Ketua, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rekanita-rekanita saya berkembang.
Melihat mereka yang dulunya pemalu kini berani bicara, yang dulu ragu kini mampu memimpin. Pertumbuhan karakter anggota adalah prestasi terbaik yang pernah saya saksikan selama menjabat.
4. Pesan dan Harapan untuk Calon Penerus
Untuk kedua kandidat yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan ini, pesan saya sederhana: Menang atau kalah dalam pemilihan adalah hal yang biasa. Namun, jika nanti kenyataan tidak sesuai dengan keinginan, saya harap kalian berdua tetap pada niat awal, yaitu sama-sama berkhidmat.
Sebab bagi saya, khidmat yang sejati tidak selamanya harus memiliki jabatan. Khidmat dimulai dari diri sendiri yang terus mau mengambil peran, sekecil apa pun itu.
Ingatlah, perjalanan ke depan tidak akan selalu mudah, maka jangan pernah sekalipun melupakan sumpah yang pernah kalian ucapkan saat berbai’at. Tetaplah kokoh untuk IPPNU.
Empat poin di atas merupakan hasil wawancara penulis kepada Rekanita Latipah via daring pada hari Rabu (13/5/2026) pagi.
Penulis: Muhammad Fahrie






