Mei 27, 2024
Kubah Datu Taniran, foto-net

Kubah Datu Taniran, foto-net

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Albanjari, selain memiliki karya fenomenal yang berjudul Sabilal Muhtadin, beliau juga banyak memiliki zuriat keturunan yang dikirim untuk berdakwah ke berbagai pelosok pulau Kalimantan.

Diantara zuriyat Syaikh Muhammad Arsyad yang dikirim untuk melanjutkan dakwahnya adalah Syaikh Muhammad Thaib yang bergelar Haji Sa’duddin bin Haji Muhammad As’ad bin Puan Syarifah binti Al- alimul Allamah Syaikh Haji Muhammad Arsyad Albanjari atau yang dikenal dengan sebutan Datu Taniran.

Mengutip dari ceritaparakekasihallah.blogspot.com, Datu Taniran dilahirkan pada tahun 1194 H atau bertepatan dengan tahun 1774 M di Desa Dalam Pagar, Martapura. Beliau merupakan anak kelima dari 12 orang bersaudara dari keturunan Haji Muhammad As’ad

1 Alimul Allamah H Abu Talhah, wafat dan dimakamkan di Tenggarong , Kutai, Kalimantan Timur.

2 Alimul Allamah H M Abu Hamid, wafat dan dimakamkan di Ujung Pandaran , Sampit, Kalimantan Tengah.

3 Alimul Allamah H Ahmad, wafat dan dimakamkan di Balimau Kandangan Kalimantan Selatan

4 Alimul Allamah H M Arsyad, wafat dan dimakamkan di Pagatan, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

5 Alimul Allamah H Sa’duddin, wafat dan dimakamkan di kampung Taniran Qubah Kandangan Kalimantan Selatan

6 Saudah

7 Rahmah

8 Saidah

9 Shalehah

10 Sunbul

11Llimir

12 Afiah

Syaikh Muhammad Thaib sempat dididik langsung oleh Syaikh Muhammad Arsyad Albanjari dan ayahnya, Mufti Muhammad As’ad sampai berusia 25 tahun, kemudian beliau pergi ke Mekkah untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu di tanah haramain. Pada tahun 1227 hijriah ketika Syaikh H Muhammad Arsyad Albanjari wafat, beliau berusia 33 tahun. Namun beliau tidak berada di tanah air ketika Syaikh Muhammad Arsyad Albanjari wafat, baru setelah 2 tahun mangkatnya Syaikh yang mulia tersebut, beliau kembali ke tanah air.

Genap 10 tahun menuntut ilmu di Tanah Suci Mekkah, Syaikh Muhammad Thaib yang bergelar H. Sa’duddin kembali ke tanah Banjar dan beliau selalu membersamai ayah serta kakak-kakaknya dalam berdakwah ke berbagai daerah dan pelosok.

Pada tahun 1812 M datanglah utusan (tatuha) masyarakat Taniran ke Martapura mendatangi rumah Al-‘Alimul Al-‘Alamah H. M. As’ad dengan maksud agar beliau berkenan dapat mengirim guru agama ke Taniran.

Makam Datu Taniran
Makam Datu Taniran

Mendengar hal itu, maka sebagai mufti di Kerajaan Banjar, beliau merasa berkewajiban untuk memenuhi permintaan masyarakat taniran. Maka beliau dengan senang hati mengirim anaknya sendiri yaitu Al-‘Alimul ‘Allamah H.Sa’dudin yang waktu itu baru 2 tahun kembali dari Makkah.

Taniran dimasa itu dipimpin seorang lurah bernama Abah Shaleh. Mendengar Tuan Mufti menyanggupi permintaan masyarakatnya dan bahkan mengirim langsung anaknya, sang lurah begitu gembira. Beliau dijemput dan datang disambut dengan gembira oleh masyarakat Taniran.

Masyarakat menghibahkan sebidang kebun kelapa sebagai tempat untuk membangun rumah dan komplek kegiatan belajar mengajarnya. Maka berdatanganlah para murid dari berbagai daerah di Hulu Sungai dan lainnya.

Beliau ulama yang waro’, qona’ah, lemah-lembut dan segala sifat mahmudah lainnya. Dakwah beliau dengan bebagai cara, selain dengan lisan, terkadang dengan mencontohkan (bil’hal), sehingga murid-murid bisa mengikutinya.
Apabila beliau mandi, tidak pernah membuka pakaiannya karena begitu menjaga takut terlihat auratnya. Dan dalam soal menjaga kehalalan makanan beliaupun sangat berhati-hati.

Beliau suka berkholwat (menyendiri), hanya keluar jika mengajar atau sholat ke mesjid, terlebih setelah kakaknya Al-‘Alimul ‘Allamah H. M. Arsyad Lamak wafat. Bahkan beliau jarang sekali pulang ke Martapura karena kakak yang dikunjungi tidak ada lagi.

Datu Taniran pernah ditawari pemerintah Belanda untuk menggantikan kakaknya sebagai mufti, tapi beliau menolak tawaran tersebut, karena beliau lebih senang fokus dalam mengajar ilmu dan amal di masyarakat.

Setelah kurang lebih 45 tahun berdakwah, beliau wafat pada 5 safar 1278H (1858 M) dan dimakamkan di Taniran, Kandangan yang dikenal dengan Kubah Taniran.

Editor : Muhammad Abdillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *