
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjar, Edy Rosadi Napak Tilas Ke Makam Tokoh NU dari Banua, Idham Chalid Rabu, (29/4/2026)
Albanjari.com, Bogor — Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Banjar, Edy Rosadi melakukan ziarah ke makam Pahlawan Nasional, KH Idham Chalid yang berada di komplek Yayasan Darul Qur’an, kawasan Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat Rabu, (29/4/2026).
Dalam keterangannya, Edy Rosadi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari napak tilas perjuangan Pahlawan Nasional, tokoh bangsa, sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama.
“Ziarah ini adalah upaya meneladani perjuangan beliau sebagai ulama dan negarawan yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan umat,” ujarnya.
Menurutnya, KH Idham Chalid merupakan sosok yang sangat inspiratif yang ia kagumi baik sebagai tokoh bangsa maupun tokoh agama.

“Pengabdian beliau di lingkungan NU diawali dari berkhidmat di GP Ansor, sehingga memiliki kedekatan historis dengan kader Ansor masa kini,” tegasnya
KH Idham Chalid lahir di Setui, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1922. Setelah menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor, beliau kembali ke kampung halaman pada tahun 1944 dan memimpin Madrasah Ar-Rasyidiyah.
Jiwa nasionalismenya yang tumbuh sejak masa penjajahan Jepang mendorongnya aktif dalam pergerakan politik daerah.
Pada tahun 1945, beliau terlibat dalam pembentukan Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah di Kalimantan dan dipercaya sebagai sekretaris.
Saat Belanda kembali melalui NICA, KH Idham Chalid turut bergerilya bersama para santri dan pejuang daerah.
Dalam masa perjuangan kemerdekaan hingga mempertahankan kemerdekaan, KH Idham Chalid turut terjun langsung ke medan perjuangan, bahkan pernah mengalami penahanan oleh Belanda.
Pada 1947, beliau bergabung dengan kekuatan militer bersama Brigadir Jenderal (Brigjend) Hasan Basry dan diangkat sebagai staf penasihat umum.
Karier politiknya terus berkembang, mulai dari anggota Dewan Daerah Banjar hingga menjadi anggota DPR RIS pada tahun 1950–1955.

Salah satu kontribusi pentingnya di parlemen adalah merumuskan sistem penyelenggaraan ibadah haji nasional, termasuk melakukan studi ke luar negeri atas arahan KH Wahid Hasyim.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, karier KH Idham Chalid dimulai sejak aktif di GP Ansor . Pada Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1952, beliau terpilih sebagai Sekretaris Jenderal PBNU, kemudian menjadi Ketua I PBNU, hingga akhirnya pada tahun 1956 terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.
Beliau tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah NU terlama dalam sejarah, dengan masa jabatan selama 28 tahun (1956–1984).
Dalam periode tersebut, beliau juga memegang berbagai jabatan penting negara, seperti Wakil Perdana Menteri, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Ketua DPR (1968–1977), Ketua MPR (1972–1977), serta Ketua DPA (1978–1983).
Memasuki era Soekarno (Orde Lama) dan Soeharto (Orde Baru), beliau tetap aktif berkontribusi, baik di lingkungan Nahdlatul Ulama maupun dalam pemerintahan.
Jabatan Ketua Umum PBNU yang diembannya selama 28 tahun tidak hanya menjadi yang terlama, tetapi juga mematahkan anggapan bahwa kepemimpinan PBNU harus berasal dari kalangan “darah biru” atau keturunan ulama besar.
Terlepas dari posisinya sebagai pejabat negara, beliau tetap mendapatkan kepercayaan luas dari kalangan ulama dan warga nahdliyin, yang menunjukkan kapasitas, kontribusi, dan profesionalismenya.
Di bidang pendidikan, KH Idham Chalid mendirikan Yayasan Darul Qur’an Idham Chalid dan Darul Ma’arif di Jakarta Selatan, yang melahirkan tokoh-tokoh besar seperti KH Zainuddin MZ dan KH Syukron Makmun.
Atas kiprah keilmuannya, beliau menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar pada Maret 1957.
KH Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010 dalam usia 88 tahun. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 7 November 2011.
Namanya juga diabadikan dalam uang kertas rupiah pecahan Rp5.000 yang diterbitkan pada 19 Desember 2016.
Beliau merupakan putra Banjar ketiga yang menyandang gelar Pahlawan Nasional setelah Brigjend. Hasan Basry dan Pangeran Antasari.
Edy mengatakan kegiatan ziarah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi kader GP Ansor untuk terus meneladani semangat perjuangan ulama dalam menjaga agama, bangsa, dan negara.
Editor : Ahmad Mursyidi






