Mei 26, 2024
manuskrip sabilal muhtadin

Manuskrip Sabilal Muhtadin. Foto-ALBANJARI.COM/Wafi Hasbullah.

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Puluhan manuskrip di desa Dalam Pagar terawat dengan baik di kediaman Guru Sibawaihi. Hal itulah yang mendorong beberapa pegawai Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berkunjung pada hari kamis (16/06) untuk mengonservasi dan mendigitalisasi manuskrip-manuskrip yang sudah berusia ratusan tahun itu.

Guru Sibawaihi, selaku pemilik manuskrip, mengaku mendapatkannya dari sang ayah.

“Awalnya yang menyimpan itu ayahanda, kemudian setelah beliau wafat, saya yang merawatnya,” ungkap lelaki yang biasa disapa Guru Bawai ini.

Puluhan manuskrip itu terdiri dari beberapa judul kitab, salah satunya adalah Sabilal Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Ketika kru Albanjari.com datang, terlihat beberapa manuskrip yang sudah dilaminasi digantung berjejer untuk dikeringkan.

Salah satu pegawai Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia, Toto, menjelaskan bahwa itu bagian dari proses mengonservasi naskah manuskrip agar awet.

“Setelah dilaminasi memakai tisu jepang, disemprot dengab etanol, lalu dikeringkan, biar awet,” ungkapnya.

Namun, yang menarik adalah pada kertas manuskrip. Novi Murdianti, Pegawai Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang bertugas di bagian alih media memperlihatkan pola putih yang terlihat di kertas. Ia mengatakan kalau pola putih itu adalah tanda air (watermark) yang hanya ada pada kertas dengan kualitas tinggi di zaman dulu dan menjadi tanda tahun berapa dibuat.

“Kalau ada tanda airnya menandakan kalau kertas ini diimpor dari Eropa. Harganya mahal namun kualitasnya bagus. Perbedaan pola tanda air juga menandakan perbedaan tahun dibuat. Jadi kalau ingin mengetahui tahun berapa dibuat, maka bisa dilihat dari pola tanda airnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebanyakan manuskrip biasa memakai kertas Daluang yang terbuat dari kulit Pohon Sae. Adapun kalau memakai kertas yang ada tanda airnya, maka menandakan kalau pemiliknya dulu orang kaya.

“Dulu kertas yang umum digunakan itu kertas Daluang, yang terbuat dari kulit pohon Sae, ditumbuk sampai jadi kertas. Kalau kertas seperti ini yang ada tanda airnya kualitasnya bagus,” tambahnya.

Senada dengan Novi Murdianti, Dede Hidayatullah menjelaskan bahwa pemilik manuskrip yang ada tanda airnya menandakan orang itu kaya dan cinta ilmu pengetahuan.

“Itu tanda kalau pemiliknya dulu orang kaya dan cinta ilmu. Buktinya dia mampu membeli kertas impor dari Eropa yang harganya mahal, dan tidak segan menggunakan hartanya membeli kertas berkualitas untuk menulis kitab yang bermuatan ilmu pengetahuan,” ungkap pria yang bekerja di Badan Riset dan Inovasi Nasional ini.

Reporter: Wafi Hasbullah
Editor: Muhammad Bulkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *