Juli 20, 2024
IPPNU Banjar foto/Hasanuddin

IPPNU Banjar foto/Hasanuddin

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Banjar membagikan 300 cup bubur dalam rangka memperingati 10 Muharram atau yang dikenal dengan hari Asyura  di lampu merah yang berada di hadapan Gedung PCNU Kabupaten Banjar pada Senin (8/8/2022) sore.

Zahratun Naimah, Ketua PC IPPNU Banjar mengatakan kegiatan ini merupakan rutinan setiap tahun IPPNU Kabupaten Banjar. Ia memaparkan, proses pembuatan bubur asyura ini dibantu oleh warga sekitar Pesayangan.

Bubur Asyura yang dibagikan IPPNU Banjar ke Masyarakat
Bubur Asyura yang dibagikan IPPNU Banjar ke Masyarakat

“Proses pembuatan bubur Asyura kami dibantu oleh masyarakat. Alhamdulillah mereka sigap membantu kami, dari menyediakan tempat, kompor, dan fasilitas untuk membuat bubur asyura tersebut,” ucap Naimah.

Naimah mengungkapkan kegiatan ini diadakan untuk menambah  mengenalkan kepada masyarakat bahwa IPPNU tidak hanya sebuah organisasi yang bergerak di bidang keagamaan saja, tetapi juga bergerak di bidang sosial kemasyarakatan.

”Terimakasih kepada para donatur yang telah menyumbangkan sebagian hartanya untuk kelancaran kegiatan kami ini,” ujarnya.

Naimah berharap semoga setiap tahun bisa mengadakan kegiatan berbagi ini serta berharap agar bisa membagikan bubur dengan jumlah yang lebih banyak lagi.

Sekretaris PC IPPNU Kabupaten Banjar, Melinda Nursabrina Almadantie mengatakan kegiatan berbagi bubur asyura ini adalah bentuk dari ekspresi kebahagiaan kita menyambut tahun baru islam 1444 Hijriah, bentuk syukur, serta bentuk berbagi kebahagiaan kepada sesama

“Yang paling utama, kegiatan ini untuk menyatukan kerjasama IPPNU,” pungkasnya

Melansir dari situs okezone.com, ada berbagai fakta unik mengenai sejarah bubur asyura yang sudah menjadi tradisi hampir disebagian daerah di Indonesia.

1. Berawal dari perang Badar

Banyak cerita yang beredar di media massa tentang asal usul Bubur Asyura. Konon, bubur ini berawal dari perjuangan Nabi Muhammad SAW saat berjuang dalam perang Badar. Kala itu, disebutkan bahwa seorang sahabat Nabi sedang mengolah hidangan untuk para prajurit Islam.

Hidangan tersebut ternyata olahan bubur. Namun, ia tidak menyangka bahwa jumlah prajurit pada saat itu sangat banyak, sementara porsi yang sedang dimasak sedikit. Nabi Muhammad SAW kemudian memerintah salah seorang sahabat untuk mengumpulkan semua bahan makanan yang mereka temukan, lalu dicampurkan ke dalam olahan bubur yang sedang dimasak.

Tujuannya adalah untuk menambah jumlah porsi makanan, sehingga cukup untuk memberi makan seluruh prajurit. Meski belum diketahui kebenarannya, kisah ini cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan telah dijadikan tradisi khusus untuk menyambut perayaan Muharram.

2. Bubur Asyura sudah ada sejak zaman Nabi Nuh

Ada juga kisah yang menyebutkan bahwa Bubur Asyura sudah ada sejak masa Nabi Nuh AS. Pada saat itu, Nabi Nuh turun dari kapalnya setelah diterpa banjir bandang yang hebat dan terombang-ambing di air selama berbulan-bulan. Ketika menyentuh daratan, ia memerintahkan umatnya untuk mengumpulkan bahan makanan yang tersisa dari dalam kapal.

Bahan makanan tersebut kemudian dicampurkan menjadi satu dan diaduk-aduk hingga menyerupai olahan bubur. Alhasil, bubur inilah yang disajikan untuk umat yang selamat dari banjir bandang agar bisa bertahan hidup.

3. Jadi tradisi di Kalimantan Selatan

Jelang perayaan 10 Muharram, masyarakat di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, turut meramaikan momen spesial ini dengan memasak dan menyantap Bubur Asyura bersama. Mereka kerap menyuguhkan bubur ini untuk para anak yatim piatu dan kaum dhuafa.

Kegiatan tersebut sudah menjadi tradisi dan kegiatan tahunan. Biasanya, ibu-ibu rumah tangga akan bergotong royong membuat Bubur Asyura menggunakan berbagai bahan baku, termasuk beberapa jenis bumbu rempah-rempah. Menariknya, seluruh bahan baku tersebut dibeli dari hasil patungan antar sesama tetangga kompleks.

Setelah masak, mereka akan mengundang bapak-bapak atau kaum pria untuk makan bersama. Namun sebelum sesi makan berlangsung, kaum pria biasanya akan membaca doa terlebih dahulu. Perlu diingat pula bahwa bubur Asyura tidak mudah dijumpai karena hanya disajikan saat perayaan 10 Muharram saja. Tapi Anda bisa mencoba membuatnya sendiri di rumah.

Kontributor : Istiqomah

Editor : Muhammad Abdillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *