Juni 9, 2024
guru tetaplah guru

Guru tetaplah guru. Ia layak dihormati dan dimuliakan, bahkan jika suatu waktu ia membuat kekeliruan. Bila itu terjadi, guru tetaplah guru, sebab secara tak langsung ia mengajari kita apa yang tidak boleh kita lakukan di masa depan.

Oleh: Yunizar Ramadhani*)

SUDAH lazim kiranya bahwa istilah guru dipahami sebagai “orang yang mengajari kita ilmu”. Tapi orang bagaimana yang dimaksud? Apakah seseorang dapat disebut guru karena ia mengajar di sekolah? Siapakah atau apakah sebenarnya guru itu?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan guru adalah “orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar”. Oxford English Dictionary juga menampilkan definisi serupa: guru (teacher) adalah “a person whose job is teaching, especially in a school”.

Sementara bahasa Arab punya beberapa kosakata yang berkaitan dengan profesi guru. Di antaranya adalah mudarris (pengajar) dan mu’allim (pemberi ilmu). Ada pula yang lebih dekat ke dunia yang digeluti guru, seperti murabbiy (pendidik).

Bila kita berpijak pada definisi pendidikan menurut Naquib al-Attas, pemikir pendidikan Islam masyhur, guru lebih tepat disebut dengan mu’addib (pembentuk adab). Guru yang mengajar pelajaran agama seringkali disebut ustadz, meski dalam kamus-kamus bahasa Arab klasikal berarti the master, guru besar di perguruan tinggi.

Semua definisi di atas menekankan aspek-aspek yang kurang-lebih serupa, jika tak sama, mengenai siapa itu guru, yakni guru sebagai manusia dan guru sebagai suatu profesi. Guru profesional berarti guru yang aktivitas mengajarnya terikat pada aturan-aturan dan standar-standar suatu lembaga pendidikan.

Sementara di lain pihak, kita juga banyak mendapatkan pengetahuan dari mereka yang bukan berprofesi guru. Saat masih bayi kita belajar berjalan dan berbicara untuk pertama kalinya bukan dari guru di lembaga sekolah, melainkan orangtua. Saat kanak-kanak kita belajar memetik kelereng dari teman-teman sepermainan.

Seorang tukang bangunan tidak selalu mendapatkan keahliannya dari hasil belajar di sekolah lembaga pelatihan, tapi boleh jadi dari rekan-rekan tukangnya yang lebih senior. Begitu pula pembuat dan penjual kue terang bulan di pinggir-pinggir jalan, boleh jadi mendapatkan keahliannya dari kenalannya yang sudah ahli.

Dengan demikian, apabila kita berpijak pada definisi guru sebagai “yang mengajari kita ilmu dan pengetahuan” atau aspek perbuatannya, maka sesungguhnya guru tidaklah terbatas pada orang yang berprofesi sebagai guru. Pengertian ini bahkan akan menjadi lebih luas ketika kita mempelajari sesuatu bukan dari manusia.

Kita tentu ingat dengan ungkapan “pengalaman adalah guru terbaik”. Betapa banyak pengetahuan kita miliki setelah belajar dari pengalaman.

Kita belajar memasukkan takaran garam dan gula yang tepat setelah takaran sebelumnya gagal menghasilkan masakan enak. Kita belajar mencintai pasangan dengan lebih baik karena dalam percintaan sebelumnya kita memperlakukan sang mantan dengan buruk. Kita mempelajari strategi baru dalam mencapai cita-cita setelah usaha sebelumnya dilaksanakan dengan langkah yang keliru.

Demikianlah kita belajar dari pengalaman, dari peristiwa-peristiwa. Pengetahuan dari pengalaman ini membentuk prakonsepsi-prakonsepsi kita dalam mengambil suatu tindakan atau menyerap pengetahuan yang baru. Tak heran jika ungkapan “pengalaman guru terbaik” seperti kata kunci bagi kita untuk mengarungi hidup.

Belajar dari pengalaman telah menjadi salah satu doktrin terpenting dalam agama. Sebagaimana termaktub dalam banyak ayat al-Quran, Allah menganjurkan kita untuk mempelajari alam, peristiwa-peristiwa di dalamnya, perubahan-perubahan yang menyusunnya. Mungkin dari situlah muncul kata “pengalaman”, karena kita belajar dari “alam”.

Alam merupakan tanda-tanda (Arab: ayat) akan kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan. Karena itulah, ilmu sejati adalah ilmu yang mendekatkan diri kita kepada-Nya. Dan dalam proses belajar ini alamlah (peristiwa dan perubahannya) yang menjadi guru kita.

Kini pengertian guru tidak lagi sekedar “siapapun”, melainkan juga “apapun yang mengajari kita ilmu dan pengetahuan”. Guru bukan hanya manusia yang berprofesi guru, melainkan siapapun yang secara langsung maupun tak langsung memberi kita pelajaran. Guru juga bukan hanya manusia tapi juga alam semesta yang peristiwa-peristiwanya mengubah perilaku kita.

Ketika kita mampu membuka mata dan pikiran dan mengambil pelajaran, setiap manusia dan alam akan mengajari kita ilmu dan pengetahuan. Semua ini tergantung pada bagaimana kita belajar, baik dari guru manusia maupun guru alam.

Jadi, hakikat guru bukan lagi jawaban terhadap “siapa” atau “apakah guru itu”, melainkan “bagaimana kita belajar”. Selama kita belajar dan membuka hati dan pikiran, maka siapapun dan apapun yang memberi pelajaran menjadi guru kita.

Baik guru manusia maupun guru alam, menghadiahi kita ilmu pengetahuan, anugerah yang tak ternilai harganya. Semua hasrat dan cita-cita akan tercapai dengan ilmu pengetahuan, kata Nabi Saw.

Apa yang guru ajarkan itulah yang membuat guru begitu tinggi kemuliaannya. Kemuliaan guru bahkan setingkat di bawah para Rasul dan Nabi, karena sama-sama bertugas mengajarkan ayat-ayat Allah.

Karena itu ada ungkapan “guru digugu dan ditiru”. Artinya, seluruh perbendaharaan pengetahuan, pikiran, perilaku, jiwa dan raga guru adalah ilmu. Tugas para murid adalah meraup ilmu-ilmu itu dari guru dan menjadikannya hikmah dan pelajaran bagi kehidupan.

Karena setiap sisi diri guru adalah ilmu, dan kita telah memahami bahwa guru bukan hanya manusia tapi juga alam semesta, maka tidak setiap ilmu berbentuk hikmah yang baik. Pikiran, sikap dan perilaku guru yang negatif juga bagian dari ilmu.

Simaklah ketika Tuhan memberi petunjuk bahwa dalam petir yang menyambar jelang turun hujan dan menimbulkan rasa takut mencekam terdapat pula tanda-tanda kekuasaan-Nya (QS. al-Rum: 24). Ini berarti perilaku alam yang tidak menyenangkan juga dapat kita ambil pelajaran.

Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, angin kencang, tanah longsor dan lain-lain adalah kelas-kelas tempat kita belajar. Saat bencana melanda, kita bisa memahami bahwa guru alam sedang mengajari kita bagaimana kita menata lingkungan dan sumber-sumber kehidupan.

Begitu pula guru manusia. Bagaimanapun manusia tetaplah manusia. Seiring dengan potensinya yang mengarah pada kebaikan, manusia juga kadang lalai sehingga menunjukkan sikap dan perilaku yang secara moral buruk dan tidak diterima oleh hati nurani.

Maka guru tetaplah guru. Ia layak dihormati dan dimuliakan, bahkan jika suatu waktu ia membuat kekeliruan. Bila itu terjadi, guru tetaplah guru, sebab secara tak langsung ia mengajari kita apa yang tidak boleh kita lakukan di masa depan.[]

*) Penulis adalah alumni Ponpes Darul Hijrah Martapura, bagian dari LTN PCNU Kab. Banjar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *