oplus_0

Silaturrahmi Rabithah Alawiyah Cabang Martapura Banjarbaru ke PCNU Kabupaten Banjar (foto: istimewa)

Albanjari.com, Martapura – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banjar menerima silaturrahmi dari Rabithah Alawiyah cabang Martapura Banjarbaru. Silaturrahmi tersebut berlangsung  pada hari Jum’at (23/1/2026), bertempat di ruang Tanfidziyah.

Pada kesempatan itu, Ketua PCNU Kabupaten Banjar, Ustadz Nuryadi menyambut dengan baik pertemuan tersebut. Ia mengatakan bahwa silaturrahmi ini sudah lama diagendakan, namun baru bisa pada hari ini.

“Alhamdulillah kami ucapkan selamat datang kepada Rabithah Alawiyah di tempat kita yang sederhana ini. Sebenarnya silaturrahmi ini sudah sejak lama ingin kita laksanakan, namun baru hari ini kita bisa bertemu,” ungkapnya.

Ia melanjutkan dengan memperkenalkan jajaran pengurus NU yang turut berhadir dan mengenalkan lembaga serta badan otonom.

“Ini disamping ulun ada Guru Naupal, beliau sebagai Katib Syuriah, ada beberapa wakil Ketua dan ada Wakil Sekretaris. Kemudian di NU ini bib, ada Lembaga di berbagai bidang, ada LP Ma’arif, ada Lazisnu, LBH NU, LDNU, LTN dan lain-lain. Selain itu juga ada badan otonom, ada Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU & IPPNU,” sambungnya.

Sementara itu, dari pihak Rabithah Alawiyah mengucapkan terimakasih atas terselenggaranya pertemuan ini. Kemudian mereka memperkenalkan jajaran pengurus RA yang hadir.

“Alhamdullah kami ucapkan terimakasih kepada jajaran pengurus PCNU yang telah menerima kedatangan kami di sini. kemudian yang hadir disini ada Ketua RA, Habib Idrus Al-Idrus, ada humas, dan lain-lain,” tuturnya.

Kemudian mereka melanjutkan bahwa tujuan silaturrahmi ini untuk bersama-sama berkolaborasi untuk menjalankan tugas keumatan.

“Diantara tujuan kedatangan kita ke sini adalah untuk mengajak agar bisa bersama-sama menjalankan tugas yang bekaitan dengan keumatan. Seperti menyikapi maraknya dai-dai yang tidak jelas keilmuannya, atau menanggapi penyimpangan-penyimpangan yang ada di sekitar kita, seperti LGBT dan lain-lain,” katanya.

Lebih lanjut lagi, mereka menjelaskan bahwa RA bukan hanya organisasi yang khusus membahas persoalan nasab habaib saja. Tetapi RA juga aktif dalam berbagai bidang sosial.

“Perlu kita garis bawahi bahwa RA ini tidak hanya membahas persoalan nasab habaib saja, lebih dari itu RA juga bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. RA juga aktif membantu masyarakat ketika banjir yang baru saja terjadi,” jelasnya.

Selain itu, Katib Syuriah PCNU, Tuan Guru Naupal mengatakan bahwa posisi kita sebagai organisasi merupakan pengarah dan penasehat bagi umat dan pemerintah.

“Posisi organisasi ini adalah sebagai penasehat dan pengarah bagi umat dan pemerintah. Adapun penegak itu ada aparat, jadi kita bisa memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk dibuatkan perda terkait persoalan yang terjadi,” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa apabila ada persoalan yang berkaitan dengan ulama ataupun habaib, alangkah baiknya didiskusikan kepada yang membidanginya.

“Dan kalo ada persoalan yang berkaitan dengan ulama, baiknya kita diskusikan dengan NU. Jika persoalan tersebut berkaitan dengan habaib, kita diskusikan dengan RA, agar kita mendapatkan solusi terbaik,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, pihak RA menegaskan apabila ada oknum habaib yang bermasalah harap lapor ke RA, agar bisa ditangani.

“Dan seandainya buhan pian menamui oknum habaib yang bermasalah, bisa disampaikan kepada kami, biar kami yang menanganinya,” jelasnya.

Senada dengan apa yang disampaikan Katib Syuriah, Ustadz Ali Husin selaku Wakil Ketua PCNU menyampaikan bahwa organisasi hanya bersifat nasihah wal irsyad. Karena itu, apabila bersama-sama akan lebih kuat.

“Kita ini hanya organisasi, dan organisasi itu sifatnya hanya sekadar menyampaikan nasihah wal irsyad, tidak punya kekuatan seperti pemerintah. Apabila kita bisa bersama-sama maka akan lebih kuat lagi,” ucapnya.

Ia meneruskan bahwa PCNU mengadakan kaderisasi dai sampai tingkat Kecamatan. Hal tersebut bertujuan untuk mencetak dai-dai NU yang menjalankan manhaj NU dalam berdakwah.

“Di NU kami juga mengadakan kaderisasi dai sampai tingkat Kecamatan, agar nantinya lahir dai-dai muda NU yang menyebarkan manhaj dakwah NU. Diantara manhaj dakwah NU itu adalah nahyul munkar bil ma’ruf, bukan nahyul munkar bil munkar,” jelasnya.

Kemudian Ustadz Ali Husin mengulas pembahasan tentang kualat (ketulahan), apa definisi kualat sebenarnya, dan bagaimana kita memahaminya.

“Kemudian persoalan kualat (ketulahan), di masyarakat kita sering terdengar–hati-hati ketulahan– atau yang sejenisnya. Sedangkan kita tidak tahu apa definisi kualat. Apakah kualat benar-benar ada, atau hanya sekedar doktrin yang ditanamkan selama bertahun-tahun. Apakah kualat hanya diketahui oleh para wali, para nabi dan para rasul?, kita belum benar-benar memahaminya,” Tegasnya.

Sementara itu, Ketua Rabithah Alawiyah Cabang Martapura Banjarbaru, Habib Idrus Al-Idrus mengharapkan agar kita semua bisa bersinergi. Beliau mengharapkan agar para ulama bersama-sama dalam berdakwah dan memberikan solusi dari berbagai persoalan umat, khususnya di Martapura.

“Ulun berharap semoga kita bersama-sama bersinergi dalam menjalankan dakwah, semisal kita adakan pertemuan satu bulan sekali. Dalam pertemuan itu kita bahas persoalan yang terjadi hari ini. Jadi, para ulama tersebut semuanya membahas tentang masalah itu di majlis dan pesantrennya masing-masing, itu akan memberikan dampak yang besar bagi umat,” tegasnya.

Diskusi pun berjalan dengan cair dan guyon khas NU, tidak melulu serius, juga tidak guyon melulu. Beberapa Wakil Ketua NU dan perwakilan dari RA saling berdiskusi tentang persoalan umat. Diantara persoalan yang cukup menyita perhatian dari kedua organisasi ini adalah tentang maraknya perilaku LGBT di sekitar kita.

Penyerahan buku hasil putusan bahtsul masail PCNU periode 2024, diserahkan oleh Rais Syuriah Ayahanda Dr. KH. Muhammad Husin, M.Ag

Setelah itu, Katib Syuriah, Tuan Guru Naupal menyampaikan agar kita mengeluarkan statmen bersama atas nama ulama, sebagai respon terkait persoalan yang terjadi.

“Bagaimana kiranya kita bikin statmen bersama atas nama ulama, bersama-sama ormas islam dan para pimpinan pondok pesantren. Statmen bersama itu tidak hanya disampaikan ke masyarakat, tapi juga sebagai rekomendasi ke pemerintah daerah sebagai pemegang kebijakan,” pungkasnya.

Pertemuan tersebut juga membicarakan tentang Bahtsul Masail yang membahas tentang “Endorsmen orang yang terindikasi pelaku LGBT” yang mulanya dijadwalkan pada HSN 2025 kemaren. Kemudian Bahtsul Masail tersebut akan dijadwalkan dalam waktu dekat. Setelah selesai Bahtsul Masail tersebut para ulama yang berhadir akan membuat statmen bersama yang nantinya akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai rekomendasi pembuatan perda.

Penyerahan cendramata oleh Rabithah Alawiyah, diserahkan oleh Ketua Rabithah Alawiyah, Habib Idrus Al-Idrus

Pertemuan tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ketua Rabithah Alawiyah, Habib Idrus Al-Idrus. Kemudian dilanjutkan dengan sesi penyerahan buku hasil putusan Bahtsul Masail PCNU periode 2024 kepada Rabithah Alawiyah. Kemudian penyerahan cendramata dari Rabithah Alawiyah ke PCNU Kabupaten Banjar.


Penulis: Muhammad Fahrie