
Ponpes Darul Inqilabi Karang Intan Kabupaten Banjar
Albanjari.com, Martapura — Pondok Pesantren Al-Qur’an Darul Inqilabi (PADI) Karang Intan Kabupaten Banjar menghadirkan permainan edukatif berbasis teknologi dalam stan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ratu Zalecha, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Melalui permainan tersebut, PADI berupaya memperkenalkan kegiatan pembelajaran sekaligus menunjukkan bahwa pesantren dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Faqih Rahman, alumni Pondok Pesantren Darul Inqilabi yang baru diangkat menjadi ustaz pada tahun ini, menjelaskan bahwa permainan edukatif tersebut dikembangkan untuk menarik minat pengunjung sekaligus memberikan nilai pembelajaran.
Menurutnya, inovasi tersebut juga menjadi upaya memperkenalkan pesantren yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.
“Di situlah kami mencoba perubahan, ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa pondok pesantren ini bisa juga maju dengan teknologi,” ujar Faqih saat diwawancarai di stan PADI, Jumat (23/10/2026).
Permainan yang dihadirkan mencakup kuis seputar nahwu, fikih, tarikh, dan tajwid, serta permainan teka-teki dengan pertanyaan di luar konteks pembelajaran pesantren.
Berbagai permainan tersebut dirancang untuk menguji pengetahuan pengunjung sekaligus menambah wawasan mereka.
Konsep permainan tahun ini merupakan pengembangan dari kegiatan serupa pada tahun sebelumnya.
Salah satu format yang dihadirkan menggunakan teknologi kode QR sehingga pengunjung dapat mengakses permainan melalui ponsel masing-masing. Permainan tersebut menggunakan mekanisme satu lawan satu (1v1) dengan beberapa tingkat kesulitan.
Menariknya, Canva juga dimanfaatkan dalam proses pembuatan permainan edukatif tersebut. Penggunaan platform desain visual ini menjadi salah satu bagian dari upaya PADI menghadirkan permainan yang lebih interaktif dengan memanfaatkan teknologi digital.
Faqih kemudian menjelaskan bahwa pengembangan permainan terbaru sempat menghadapi kendala teknis. Ia juga mengaku belum terbiasa dengan mekanisme satu lawan satu karena pengunjung yang datang sendiri perlu mencari pasangan untuk bermain.
Menurutnya, format dengan moderator lebih nyaman digunakan karena pengunjung dapat diarahkan untuk menjawab pertanyaan secara langsung.
Penyusunan soal dilakukan melalui kerja sama antara tim dan para santri dengan arahan pimpinan pesantren.
Faqih menjelaskan bahwa ia berdiskusi dengan santri untuk menyusun soal berdasarkan materi pelajaran tertentu. Soal-soal tersebut kemudian dikirimkan kepada pimpinan pesantren melalui WhatsApp untuk diproses lebih lanjut bersama para santri yang terlibat.
Menurut Faqih, permainan tersebut menggunakan pertanyaan dasar agar dapat diikuti oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Selain menguji pengetahuan, kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan pengunjung, khususnya anak-anak, serta mendorong kebiasaan muthalaah atau menelaah pelajaran.
Ramainya pengunjung menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan stan.
Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan tahun sebelumnya, Faqih mengatakan bahwa stan PADI ramai dikunjungi masyarakat, termasuk ketika terdapat kegiatan lain di panggung. Kondisi tersebut terkadang membuat petugas kewalahan karena keterbatasan personel.
Selain memperkenalkan inovasi pembelajaran, keikutsertaan PADI dalam HSN 2026 juga bertujuan meningkatkan minat masyarakat untuk mengenal pesantren tersebut.
Faqih mengungkapkan bahwa jumlah santri PADI cenderung berkurang setiap tahun.
Karena itu, partisipasi dalam berbagai perlombaan dan kegiatan HSN menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan pesantren kepada masyarakat dan calon santri.
“Harapan ulun secara pribadi, mudah-mudahan jumlah santri PADI ini bertambah terus,” ungkapnya.
Melalui permainan edukatif berbasis teknologi, PADI menghadirkan cara berbeda untuk mengenalkan pembelajaran pesantren kepada masyarakat.
Keikutsertaan dalam HSN 2026 sekaligus menjadi ruang bagi pesantren untuk memperkenalkan inovasi pembelajaran kepada pengunjung.
Reporter : Saidah
Editor : Ahmad Mursyidi





