Mei 20, 2024

Struktur bahasa kita mempengaruhi struktur nalar kita. Struktur nalar mempengaruhi cara kita berpikir. Jadi bahasa menentukan cara berpikir kita.

Oleh: Yunizar Ramadhani*) 

BANYAK santri putri yang kesulitan berbahasa Inggris dalam bentuk lampau (past) dan masa depan (future). Demikian yang kerap saya temukan bila menguji kemampuan bicara mereka dalam Ujian Lisan (Imtihan Syafahiy).

Di antara ke-16 bentuk Tenses dalam struktur bahasa Inggris, rata-rata santri putri hanya mampu menyusun kalimat dalam bentuk masa kini (present) dengan baik dan lancar. Sulit bagi mereka mengubah kata kerja Inggris ke dalam bentuk kedua (verb 2, khususnya yang irregular) untuk mengutarakan kerja di masa lampau.

Sesekali mereka terlihat cukup baik saat mengekspresikan perbuatan di masa depan dalam bentuk sederhana (simple future). Tapi kesulitan mulai muncul ketika diminta menyusun kalimat-kalimat kerja berkesinambungan (continuous), kerja sempurna (perfect) dan sempurna berkesinambungan (perfect continuous).

Kesulitan makin berat jika bentuk-bentuk kerja itu harus ditaruh dalam tiga bentuk waktu selain masa kini, yakni lampau (past), masa depan (future) dan masa depan lampau (past future). Sebagian besar santri putri kelas paling senior bahkan belum mampu menyusun kalimat dalam setiap bentuk waktu ini secara sempurna.

Rekan saya dalam menguji lisan, yang juga magister Pendidikan Bahasa Inggris, mengatakan hal semacam ini sebenarnya lumrah dan wajar bagi pelajar bahasa Inggris asing (foreign learners). Apalagi bagi pelajar kita yang, katakanlah, bahasa pertamanya bahasa Indonesia, sebab bahasa Indonesia memang tidak mengenal kata kerja bentuk waktu layaknya bahasa Inggris.

Ketimpangan struktur bahasa semacam inilah yang acapkali menyulitkan seseorang mempelajari dan menggunakan bahasa asing. Sama halnya ketika santri putri kami juga nampak kesulitan mengubah kata singular (mufrad) ke bentuk plural (jam’) dalam bahasa Arab.

Ketimpangan struktur bahasa bahkan bisa berdampak lebih jauh, yaitu pertentangan ideologis.

Inilah yang terjadi antara para filsuf muslim dan para teolog (mutakallimun) di masa awal peradaban Islam. Hal ini diurai oleh Muhammad Abid al-Jabiri, seorang filsuf terkemuka asal Maroko dalam tulisannya al-Turats wa al-Hadatsah: Dirasah wa Munaqasyah (dalam Ahmad Baso [ed.] Post-Tradisionalisme Islam [2000]: 70-73).

Dalam membahas beberapa doktrin keagamaan para filsuf dan teolog saling berselisih pendapat dan bahkan saling kafir-mengkafirkan. Al-Jabiri membongkar bahwa perselisihan tersebut terjadi akibat ketimpangan struktur bahasa yang kemudian mempengaruhi struktur nalar masing-masing kubu.

Di satu pihak, para filsuf muslim banyak mendapat inspirasi dari filsafat Yunani, khsusnua logika Aristoteles, sehingga terpengaruh oleh struktur bahasa Yunani dalam memproduksi gagasan filsafat. Sementara di pihak lain, para teolog berpijak pada struktur bahasa Arab yang menjadi bahasa sumber referensi gagasan mereka.

Kita perlu tegaskan di sini bahwa kosakata-kosakata Arab bersumber dari kata kerja (fi’l) yang kemudian berderivasi ke dalam berbagai bentuk perkembangannya. Adapun logika Aristoteles tidak berkaitan apapun dengan kata kerja. Dari sini kita sudah bisa curiga akan adanya ketimpangan struktur antara bahasa Yunani dan Arab. Demikian ungkap al-Jabiri.

Bahasa Arab tidak memiliki padanan derivasi kata kerja kepada kategori relasi, klausula (clause) dan kepemilikan (possession) sebagaimana terdapat dalam bahasa Yunani. Kategori-kategori tersebut memungkinkan logika Aristoteles menetapkan suatu perbuatan dimiliki oleh manusia atau menghubungkan dengan erat manusia dan perbuatannya.

Absennya kategori-kategori tersebut dalam bahasa Arab menolak relasi, klausula dan kepemilikan perbuatan  oleh manusia, kecuali secara metaforis belaka. Menurut para teolog, perbuatan manusia dimiliki Allah dan demikianlah yang tersurat dalam teks-teks agama. Jadi apa saja yang dikaitkan pada manusia dan makhluk seperti “tanahnya Zaid”, “Ali membunuh” dan “banjir terjadi karena hujan lebat”, semuanya berasal dari Allah.

Sebaliknya, bahasa Yunani tidak mengenal kategori substantif sifat (al-mashdar) dan sarana (ism al-alah) sebagaimana bahasa Arab. Kedua kategori tersebut berfungsi menegaskan bahwa sebuah perbuatan terjadi tanpa diiringi sebuah waktu, sehingga keduanya tidak dapat dilekatkan pada substansi (dzat).

Dari itulah para teolog menolak keras doktrin para filsuf yang menyatakan bahwa alam qadim dan kekal, karena Allah menciptakannya tidak dalam kerangka waktu. Sedangkan dalam pandangan para filsuf, sebuah perbuatan tanpa disertai waktu merupakan sesuatu yang tidak mungkin karena perbuatan dan waktu saling terkait dan tak terpisah.

Pada intinya, simpul al-Jabiri, logika Aristoteles yang melingkupi nalar para filsuf menempatkan “substansi” sebagai titik awal. Inilah yang menjadikan orientasi filsafat adalah memikirkan hakikat segala sesuatu (metafisika). Di lain pihak, bahasa Arab yang menjadi pijakan nalar para teolog menempatkan kata kerja sebagai sumber derivasi, sehingga orientasi mereka adalah menjelaskan (bayani) segala yang berbuat atau yang berkaitan dengan perbuatan.

Banyak lagi contoh-contoh perdebatan antara para filsuf muslim dan para teolog diuraikan al-Jabiri. Jika selubungnya dibongkar satu-persatu, perdebatan itu berpangkal pada ketimpangan struktur bahasa yang mempengaruhi struktur nalar pembicaranya.

Nahnu nufakkir ka ma natakallam”, kata al-Jabiri dalam karya besarnya Naqd al-‘Aql al-‘Arabiy. Kita berpikir sebagaimana kita berbicara.

Jadi, struktur bahasa kita mempengaruhi struktur nalar kita. Struktur nalar mempengaruhi cara kita berpikir. Bahasa menentukan cara berpikir kita.

Jika demikian adanya, maka struktur nalar bagaimana yang membedakan antara penutur bahasa Indonesia yang tidak memiliki kata kerja berbentuk waktu dan penutur bahasa Inggris? Pemikiran macam apa yang mungkin dihasilkan penutur Indonesia, dibanding penutur bahasa Inggris? Pertanyaan ini bisa menjadi rumusan penelitian yang serius.

Namun ketimpangan struktur antar ragam bahasa manusia dapat kita maknai berbeda. Banyaknya ragam bahasa berarti beragamnya struktur nalar manusia. Banyaknya ragam struktur nalar berarti beragamnya buah pemikiran manusia.

Alangkah beruntung mereka yang mempelajari bahasa-bahasa dan berusaha menuturkannya. Selain memudahkan komunikasi dengan masyarakat global, belajar banyak bahasa akan memperkaya cara berpikir. Mungkin inilah makna mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan beragam warna kulit dan bahasa. Dan di sana terdapat tanda-tanda Kebesaran-Nya (QS. al-Rum: 22).[]

*) penulis adalah guru Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri Martapura, bagian dari LTN PCNU Kab. Banjar. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *