
Ustadz Fahrie (Dai 3T Kemenag Kalsel 2026) berada di Kecamatan Telaga Bauntung, Kabupaten Banjar (foto: istimewa)
Albanjari.com, Telaga Bauntung – Muhammad Fahrie seorang dai yang bertugas di wilayah 3T (tertinggal, terluar & terdepan) yaitu di Desa Rampah, Kecamatan Telaga Bauntung, Kabupaten Banjar.
Ia merupakan dai utusan kantor wilayah kementerian agama provinsi kalimantan selatan. Kali ini ditugaskan di desa rampah, kecamatan telaga bauntung, kabupaten banjar.
Pada tahun sebelumnya ia ditugaskan di Desa Mangkalapi, Kecamatan Teluk Kepayang, Kabupaten Tanah Bumbu.
Dai 3T merupakan program Kementerian Agama Republik Indonesia sejak tahun 2022. Pengiriman Dai tersebut bertujuan untuk menjalankan dan memberikan akses dakwah secara menyeluruh ke seluruh wilayah NKRI.

Kementerian Agama akan menjangkau wilayah terpencil dan daerah perbatasan melalui pengiriman Dai 3T tersebut. Dai 3T bertugas khusus bulan ramadan.
Meski Desa Rampah ini masih termasuk teritorial Kabupaten Banjar, namun untuk masuk ke kecamatan ini harus melalui Kabupaten Tapin. Posisi kecamatan telaga bauntung memang jauh dari pusat kabupaten.
Tidak hanya itu, medan yang dilalui pun lumayan menguji kesabaran, bagi orang yang terbiasa hidup di perkotaan, jalan menuju desa tersebut cukup menguji adrenalin. Betapa tidak, jalan berbatu tanpa aspal dengan track turun naik gunung.

Namun, desa ini memberikan pemandangan yang memanjakan mata. Pasalnya, desa ini berada di kawasan pegunungan dan dekat dengan kawasan hutan lindung. Suasananya pun masih sangat asri. Tak jarang, udara dingin pun menyusup kedalam rumah pada waktu malam dan pagi hari.
Selain itu, di desa tersebut juga tidak ada sinyal provider. Lantas masyarakat di sana untuk kebutuhan hand phone pun harus menggunakan wifi vocher yang dipasang di desa tersebut.
Keseharian masyarakat rampah pun beragam, mulai dari berkebun, mencari kayu ke hutan, bekerja di perusahaan, sampai bergadang keluar desa. Hal tersebut menciptakan suasanya pedesaan yang tenang dan tenteram, jauh dari hiruk pikuk warna warni perkotaan.
Masyarakatnya pun juga tergolong ramah dan baik. Hal tersebut bisa dibuktikan secara langsung oleh fahrie yang sedang bertugas di desa tersebut.
Kemudian, mengenai kegiatan dakwah yang ia jalankan di sana, ada satu hal yang menarik bagi saya, yaitu kajian kitab sabilal muhtadin. Kajian kitab sabilal tersebut digelar bukan tanpa alasan.
Muhammad Fahrie menjelaskan pemilihan bahan ajar tersebut karena disesuaikan dengan desa tersebut. Mayoritas masyarakatnya bermanhaj Aswaja An-Nahdliyah. Jadi untuk kajian fikihnya menurutnya kitab tersebut adalah pilihan yang tepat.
“Masyarakat di sini semuanya bermanhaj Aswaja An-Nahdliyah. Menurut ulun pemilihan kitab sabilal sudah sangat pas untuk kajian fikih tematik di sini,” ujarnya saat diwawancarai via daring.
Ia menambahkan, selain untuk menyesuaikan dengan kultur masyarakat di sana, Fahrie juga menyampaikan urgensitas kajian kitab sabilal muhtadin saat ini.
“Selain untuk menyesuaikan dengan masyarakat di sini, sebenarnya ada unsur tabarrukan dan tazhim kepada penulisnya yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Betapa tidak, beliau merupakan salah satu induk Ulama Nusantara asal Banjar. Kitabnya pernah menjadi rujukan di beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei dan Thailand bagian Selatan,” tambahnya.
Fahrie juga menyampaikan bahwa kitab sabilal tersebut memuat banyak persoalan yang terjadi di daerah kita. Karena memang penulisan kitab tersebut merupakan permintaan dari Sultan Banjar yang bertahta pada waktu itu.
“Kemudian, selain karena dalam kitab tersebut Datu Kelampaian membahas persoalan secara mendetail, dalam kitab tersebut juga terpapar banyak persoalan lokal yang terjadi di daerah banjar. Karena kita ketahui bersama, bahwa penulisan kitab tersebut merupakan permintaan dari Sultan yang bertahta pada waktu itu,” jelasnya.
Ia berharap semoga kajian kitab karya Datu Kelampaian tidak hanya sampai di sini. Ia juga mengharapkan semoga Datu Kelampaian tidak hanya dikenang melalui prosesi haul dan baca manakib saja.
“Harapan ulun semoga Datu Kelampaian tidak hanya dikenang melalui haul dan baca manakib saja. Melainkan ajaran dan pemikirannya juga kita kaji, karena itulah warisan termahal dari Datu Kelampaian. Ulun juga berharap, semoga nantinya akan lahir Syekh Arsyad-Syekh Arsyad baru yang meneruskan perjuangn dakwah beliau membawa ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Borneo ini,” tutupnya

Adapun kajian tematik yang diajarkan meliputi bab puasa, zakat fitrah, wudhu dan shalat, serta pembahasan yang berkaitan dengan tema tersebut.
Selain mengajarkan kitab sabilal muhtadin secara tematik. Ia juga mengajari anak-anak di sana baca tulis Al-Qur’an, praktek dan bacaan shalat, serta doa-doa harian dan pengetahuan dasar fikih sehari-hari.
Mengenai kegiatan di Mesjid, ia juga menjadi imam shalat tarawih secara bergantian dengan ustadz di sana. Setelah itu dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an seperti pada umumnya.
Selain imam shalat tarawih, ia juga diminta masyarakat di sana sebagai khatib dan imam shalat jum’at sebulan penuh.
Fahrie bertugas sebagai Dai 3T selama satu bulan penuh hingga hari raya idul fitri. Itu artinya pada tahun ini ia melaksanakan kegiatan hari raya di wilayah tugas, yaitu Desa Rampah, Kecamatan Telaga Bauntung, Kabupaten Banjar.
Semoga dakwah yang ia jalankan memberikan dampak dan manfaat kepada masyarakat di desa tersebut. Dan semoga kegiatan dakwah tersebut tidak terhenti sampai selesai tugas saja, tetapi berlanjut sampai kedepannya.
Penulis: Ahmad Mursyidi






