Oplus_131072

M. Ali Syahbana, Sekretaris LDNU Kabupaten Banjar (foto: istimewa)

Albanjari.com – Rasa keakuan yang mengakar kuat dalam diri manusia menjadi pemicu utama konflik di kehidupan sehari-hari, mulai dari interaksi paling dasar hingga dinamika masyarakat luas. Ali Syahbana, Sekretaris LDNU Kabupaten Banjar, menilai fenomena ini berpangkal pada pola pikiran bawah sadar yang terbentuk sejak masa kecil.

“Keakuan bukan sekadar sikap sombong biasa, melainkan keyakinan bawah sadar seperti ‘saya harus selalu benar’ atau ‘pengakuan orang lain menentukan nilai diri saya’. Pola ini mengendalikan respons kita tanpa disadari, sehingga memicu konflik yang tidak terarah,” ujar Ali Syahbana saat dihubungi crew kami.

Ketika keakuan mendominasi, seseorang menjadikan diri pusat dunia. Akibatnya muncul konflik sosial dari interaksi harian hingga ketegangan komunal, disertai bias kognitif di mana pandangan pribadi dianggap paling benar, padahal bersifat subjektif. Hal ini menurunkan daya akal dan pertimbangan objektif, hingga hubungan sosial retak hanya demi mempertahankan ego.

Dalam kajian tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah, sebagaimana dibahas Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, keakuan dikaitkan dengan dua penyakit hati: ujub kekaguman batin pada diri sendiri atas amal atau nikmat dan takabbur sikap merendahkan orang lain melalui ucapan atau perbuatan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa ujub bersifat internal seperti rasa superior atas ibadah, sementara takabbur merupakan manifestasinya yang lahiriah.

Untuk mengatasinya, Al-Ghazali menyebutkan metode seperti husnuzan (prasangka baik pada orang lain) dan muhasabah (introspeksi untuk mengenali keburukan diri), dengan kesadaran bahwa penilaian akhir ada pada Allah. Pendekatan ini selaras dengan tazkiyatun nafs dalam tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah, yang menekankan takhalli (pembersihan sifat tercela) dan tahalli (pengisian akhlak mulia).

“Tazkiyatun nafs merupakan proses transformasi pikiran bawah sadar melalui kesadaran ontologis bahwa manusia hanyalah ’abdullah,” tegas Ali Syahbana. Para ulama NU mengintegrasikan pemikiran ini dalam praktik sehari-hari.

Kajian ini menunjukkan bahwa meninggalkan keakuan menghasilkan keseimbangan bagi siapa pun: percaya diri tanpa merendahkan, tegas tanpa sombong. “Mulailah dari hal sederhana, seperti mendengarkan tanpa langsung menyanggah dalam obrolan sehari-hari,” pungkasnya.


Editor: Muhammad Fahrie