9881e086-e7c3-4a64-9299-964b4d974d0d

Albanjari.com – Belakangan ini beredar informasi penemuan mayat seorang perempuan yang diduga seorang ustadzah di salah satu lembaga pendidikan di Martapura.

Sontak, informasi tersebut pun beredar begitu cepat, tak terkecuali di media sosial dan grup watshapp. Yang membuat geger adalah penemuannya. Mayat tersebut ditemukan di semak belukar sekitar 500 meter dari jalan aspal.

Meski sudah dikebumikan pada kamis (30/4/2026) pagi, ada beberapa hal yang ingin penulis tuangkan di sini.

Setelah informasi tersebut viral, dengan cepat mengundang netizen untuk berkomentar tentang peristiwa tersebut. Komentar yang berseliwengan pun tidak sedikit, dan beraneka ragam.

Berbagai asumsi pun mulai bermunculan. Sayangnya, banyak dari asumsi netizen tersebut yang tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta.

Tidak hanya sampai di situ saja, berbagai komentar itu pun kemudian di secrenshoot dan disebarluaskan melalui story dan grup watshapp. Sebelum pihak berwajib merilis hasil pemeriksaan, entah itu dari kepolisian atau hasil pemeriksaan dari tenaga medis.

Hal tersebut tidak hanya membuat keluarga yang bersangkutan menjadi tidak nyaman, tapi juga teman-temannya pun merasakan hal yang sama.

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap?

Sebenarnya untuk berpendapat atau berkomentar terhadap sebuah peristiwa itu sah-sah saja, namun sekadar berkomentar saja tidak cukup, harus dilandasi data dan fakta.

Hal tersebut selaras dengan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

 من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا او ليصمت (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, Maka ucapkanlah perkataan yang baik atau diam,” (HR. Bukhari Muslim).

Dari potongan hadis tersebut, Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengatakan hal yang baik. Dan sebaliknya beliau melarang untuk berkata-kata yang tidak baik. Kalau tidak mampu, maka diam adalah pilihan yang bijak.

Dalam tulisan ini penulis tidak membahas status hadisnya, tidak membahas periwayatannya, juga tidak membahas hukum apa yang lahir dari hadis tersebut. Penulis hanya ingin mengajak untuk merenungkan makna zahir dari hadis tersebut.

Lalu bagaimana perkataan yang baik itu? Sebelum kita bahas bagaimana perkataan yang baik itu, kita bahas dulu arti dari kalimatnya. Dalam bahasa arab lafaz “khairan” bermakna baik.

Namun, tidak terhenti sampai di situ saja. Dalam Ulumul Arabiyah lafaz “khairan” termasuk kategori isim nakiroh yang berarti umum. Tidak ada pengkhususan di sana.

Itu artinya “baik” di sini tidak terbatas dan mencakup seluruh aspek. Dalam konteks berpendapat dan berkomentar di media sosial, lafaz “khairan” berarti benar, akurat, sesuai fakta dan berlandaskan data.

Demikianlah Rasulullah mengajarkan kepada kita, agar selalu berkomentar dengan benar, akurat, sesuai fakta dan berlandaskan data. Agar apa yang kita layangkan di ruang publik tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menyakiti siapapun.

Secara zahir makna hadis tersebut, kita tidak boleh berkomentar sembarangan tanpa ada bukti yang menyertai. Apalagi sampai berkomentar dengan perkataan yang dilarang dalam agama. Seperti habar dusta dan mencela sesama.

Secara etika, itu jelas melanggar. Ada hak orang lain yang harus kita jaga, lebih-lebih di ruang publik semacam ruang komentar di media sosial.

Sebegitu indahnya agama memberikan arahan kepada kita. Bahkan untuk berkomentar di ruang publik saja kita diajarkan cara yang baik seperti apa.

Semoga kejadian serupa tidak terjadi lagi, kepada siapa saja dan dimana saja. Semoga keluarga yang bersangkutan diberikan kesabaran oleh Allah.

Bagi teman-teman beliau, jangan lupa untuk selalu mendoakan agar diberikan tempat terbaik di sisi Allah.

Teruntuk para netizen, semoga dengan kejadian ini, bisa kita ambil pelajaran. Dan semoga kita lebih bijak lagi dalam menggunakan media sosial dan lebih berhati-hati terlebih lagi dalam berkomentar.

Karena pendapat atau komentar yang kita layangkan akan menjadi amal jariyah bagi kita. Kalau itu baik, maka kita akan mendapatkan kebaikan, kalau tidak baik kita juga akan mendapatkan balasan.


Penulis: Muhammad Fahrie