10-pesan-abah-guru-sekumpul-untuk-penyemangat-hidup-dan-beribadah-6Cqq9XsINE

Sumber: news.okezone.com

Albanjari.com – Tak syak lagi, haulnya dihadiri jutaan umat Islam dari berbagai pelosok Nusantara dan Mancanegara. Mulai dari pusat haul sampai ratusan kilometer dari lokasi, warung makan banyak yang menggratiskan makan minum. Pertalite di SPBU gratis, ojek dan becak gratis, tukang tambal gratis, penginapan dan rumah-rumah membuka lebar-lebar untuk dijadikan tempat singgah dan menginap, semuanya gratis. Semata-mata mengharap keberkahan hidup dunia akhirat. Semua karena cinta. Cinta mengalahkan logika. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bilamana Allah mencintai seseorang maka la umumkan kepada penduduk langit (malaikat) untuk mencintai hamba tersebut. Dan penduduk bumipun mencintai hamba tersebut. Subhanallah. Itulah yang kita lihat saat menghadiri suasana Haul Abah Guru Sekumpul. Semakin tahun yang datang semakin bertambah, gelombang lautan manusia yang hadir membuat hati berdecak kagum.

KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, yang dikenal dengan julukan karismatik Guru Ijai atau Abah Guru Sekumpul, lahir di Martapura pada malam Rabu, 11 Februari 1942 M dari pasangan Abdul Ghani dan Masliah. Beliau adalah keturunan ke-8 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Silsilahnya, Muhammad Zaini Ghani bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Samman bin Saad bin Abdullah Mufti bin Muhammad Khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan).

Meskipun berasal dari keluarga yang secara ekonomi terbatas-ayahnya, Abdul Ghani, hanya bekerja sebagai penggosok batu intan-beliau menerima pendidikan agama yang sangat ketat di lingkungan keluarga Kampung Keraton, terutama dari ayah, neneknya (Salbiah), dan paman beliau, Syekh Semman Mulya. Syekh Semman Mulya, yang sebenarnya adalah pakar di berbagai bidang ilmu Islam namun bersikap tawadhu’ (rendah hati), sangat menjaga pergaulan Guru Zaini sejak kecil. Pada usia 5 tahun, beliau mulai belajar membaca Al-Qur’an di bawah bimbingan Guru Hasan Pesayangan. Setahun kemudian, saat berusia 6 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya di Madrasah Kampung Keraton. Di usia 7 tahun, beliau masuk di Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Guru Zaini menempuh pendidikan formal selama 12 tahun di Pondok Pesantren Darussalam Martapura (1949-1961), lulus dengan nilai jayyid mumtaz. Guru-guru beliau di tingkat Ibtida iyah dan Tsanawiy/Aliy merupakan ulama-ulama besar Banjar,

seperti KH. Sulaiman, KH. Abdul Hamid Husein, KH. Mahalli Abdul Qadir, KH. M. Zein, KH. Rafi, KH. Syahran, KH. Husein Dahlan, KH. Salman Yusuf, KH. Semman Mulia, KH Salınan Jalil, KH Salim Ma’ruf, KH. Husin Qadri, dan KH. Sya’roni Arif, KH Nashrun. Thahir, KH. Semman Mulia, dan KH. M. Aini. Selain di Darussalam, beliau aktif menimba ilmu dari berbagai halagah ulama di sekitar Martapura dan luar daerah, seperti KH. M. Aini di Kandangan KH. Muhammad di Gadung Rantau.

Atas kecerdasan dan ilmu yang dimiliki, Guru Zaini sempat diminta mengajar di Darussalam. Permintaan ini diperkuat oleh ketiga gurunya, KH. Abdul Qadir Hasan, KH. Anang Sya’rani Arif dan KH. Salim Ma’ruf. Namun, setelah lima tahun mengajar dengan mendedikasikan seluruh gaji honornya untuk sedekah, beliau memutuskan berhenti untuk lebih fokus pada perjalanan spiritual.

Pada usia 23 tahun (sekitar tahun 1965), beliau berangkat ke Bangil untuk dibimbing khusus oleh Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil). Setelah itu, beliau diperintahkan gurunya melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk bertemu Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Sebelum ke Mekkah, beliau sempat bertemu Kyai Falak Bogor untuk mendapatkan ijazah suluk dan thariqat.

Di Mekkah, beliau menunaikan haji sambil menerima bimbingan sufistik. langsung dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Dengan demikian, beliau menguasai Tarekat Sammaniyah dan memiliki sanad keilmuan yang tersambung dengan ulama-ulama besar di Makkah seperti Sayyid Abdul Qadir al-Bar, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Syekh Ismail al-Yamani Alwiy al-Malikiy, Syekh Hasan Masyath, dan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

Pada tahun 60-an, beliau mulai mengadakan pengajian di kediamannya di Kampung Keraton. Awalnya pengajian ini bersifat mudzakarah (diskusi) kitab-kitab Ilmu Alat (Nahwu/Sharaf) untuk membantu santri. Karena lokasi pengajiannya, beliau dikenal sebagai “Guru Keraton”.

Pengajiannya semakin populer dan meluas. Beliau meninggalkan kegiatan dakwah keliling yang sebelumnya sering ia lakukan sebagai gari bersama gurunya, KH. Husein Dahlan. Fokus pengajiannya kemudian bergeser, meliputi kitab-kitab inti seperti Tafsir Jalalain, Riyadhus Sholihin, Kifayatul Awam, Sabilal Muhtadin (Fiqih), dan kitab tasawuf seperti Ihya Ulumuddin, Minhajul Abidin, Syarah Hikam, dan Sairus Salikin. Seiring waktu, pengajiannya membludak, dihadiri tidak hanya oleh santri tetapi juga masyarakat umum. Suasana pengajian semakin semarak ketika beliau melantunkan Maulid al-Habsyi (Simth al-Durar) dengan suara merdu. Karena jemaah yang tak tertampung, pada tahun 1988, atas restu gurunya terutama KH. Syarwani Abdan dan KH. Semman Mulya, beliau memindahkan pusat pengajian ke lahan baru di Kampung Kacang, yang kemudian dikenal sebagai Sekumpul. Di sana, beliau membangun kediaman dan Mushalla Ar-Raudhah, dan sejak itu julukannya berubah. menjadi “Guru Sekumpul.”

Guru Sekumpul dikenal memiliki kharisma luar biasa, gaya bicara yang tenang dan diselingi humor segar, serta wajah yang tampan. Popularitasnya menarik kunjungan dari berbagai kalangan, termasuk ulama, habaib, serta pejabat negara (Presiden/Menteri) dan tokoh publik, yang datang untuk silaturahmi, meminta doa, atau nasihat. Beliau juga dikenal sebagai “Abah Guru Sekumpul karena sifat kebapakannya.

Baca juga: Ingin Hadiri Maulid Nabi pada Awal Rajab di Martapura? ini Anjuran Imam Nawawi

Selain dihormati karena keilmuan dan karisma sebagai seorang ulama, Guru Sekumpul juga terkenal karena kedermawanan dan kekayaan yang dimilikinya. Walaupun masa kecilnya diliputi keterbatasan ekonomi, situasi finansial beliau mulai membaik pada tahun 1970-an, terutama setelah menikah pada tahun 1975.

Beliau memulai kegiatan bisnisnya dengan menanamkan modal pada usaha kebutuhan pokok (sembako) yang dikelola oleh salah satu muridnya di Pasar Lima Banjarmasin, yang berlangsung hingga tahun 1990. Memasuki era 1990-an, beliau beralih berinvestasi pada bisnis jual beli permata dan berlian melalui beberapa muridnya. Keuntungan besar dari berbagai investasi ini memungkinkannya mendanai pembangunan kediaman pribadi dan Mushalla Ar-Raudhah Sekumpul, menanggung biaya keluarga, dan melakukan banyak sedekah. Kekayaan beliau terus bertambah melalui berbagai aset lain, termasuk kepemilikan ruko sewaan di Banjarbaru dan bisnis jual beli mobil. Beliau juga merintis unit bisnis formal, seperti Percetakan Ar-Raudhah dan kelompok usaha bernama Al-Zahra. Usaha Al-Zahra ini bergerak di bidang ritel, menjual berbagai perlengkapan ibadah, pakalan muslim, makanan, dan parfum,

dengan jangkauan distribusi yang meluas hingga ke Kalimantan Tengah dan Timur. Pendapatan yang signifikan dari beragam sektor usaha ini memungkinkan Guru Sekumpul beramal besar. Beliau mampu mendirikan Madrasah Darul Ma’rifah, menyokong pembangunan berbagai pesantren, membiayai renovasi kubah ulama, dan menyalurkan sedekah rutin dalam jumlah besar kepada masyarakat.

Beliau dikenal antikritik dan menggunakan pendekatan kasih sayang dalam dakwah. Beliau juga tegas menolak terlibat politik praktis, baru bersedia menjadi Mustasyar NU setelah organisasi tersebut kembali ke khittah (pedoman) awalnya sebagai organisasi keagamaan murni.

Kesehatan Guru Sekumpul mulai menurun pada awal 2000-an dan beliau harus menjalani cuci darah rutin sejak 2002. Dalam kondisi sakit, beliau tetap menyiarkan pengajian dari dalam rumah melalui televisi. Pada tahun 2005, beliau sempat dirawat di RS Mount Elizabeth Singapura. Namun setelah sekitar 10 hari, beliau balik ke Sekumpul. Ulama karismatik ini wafat pada subuh Rabu, 10 Agustus 2005 (5 Rajab 1424 H) pada usia 63 tahun. Beliau meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Hj. Juwairiyah, Hi Laila dan Hj. Siti Noor Jannah, dan dua anak yaitu Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali. Dimakamkan di Komplek Sekumpul di samping Mushalla Ar-Raudhah, Martapura, Kalimantan. Mushalla ini menjadi pusat dakwah sejak beliau aktif mengisi pengajian hingga sekarang.

Semasa hidupnya, beliau sempat menulis beberapa risalah, antara lain: (1) Risalah Mubarakah, (2) Manaqib Asy-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadirial-Hasani as-Samman al-Madani, (3) Ar-Risalah an-Nuraniyyah fi Syarh Tawassulat as-Sammaniyyah, (4) Nubdzah min Manaqib al-Imam Masyhur bi al-Ustadz al-A’zham Muhammad bin ‘Ali Ba’alawi, dan (5) al-Imdad fi Awrad Ahl al-Widad. Ini adalah peninggalan berharga selain ilmu dan uswah yang beliau berikan semasa hidup.

Dr. Nur Hidayatullah, S.H.I, M.H, Dosen UIN Walisongo Semarang, Spesialisasi Ilmu Falak


Penulis: Ustadz Nur Hidayatullah