
Gambar ilustrasi Gemini AI
Albanjari.com – Serambi Mekkah, merupakan julukan bagi kota yang terkenal dengan religiusnya terutama dalam menjalankan ajaran Agama Islam. Ada dua kota di Indonesia yang penulis ketahui dijuluki sebagai Serambi Mekkah yaitu Banda Aceh dan Kota Martapura.
Sejarah tersebut berakar dari persingggahan para Jemaah Haji sebelum berlayar ke Tanah Suci. Adapula seperti Martapura karena kehidupan religiusnya yang tidak lepas dari jasa seorang Ulama yang bernama Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Beberapa hari yang lalu (1/5/2026), sempat geger terjadi penemuan jenazah perempuan di daerah Sungai Ulin, Banjarbaru yang tempatnya berdekatan dengan wilayah Kota Martapura. Hal lainnya juga, terjadi beberapa peristiwa pembegalan terhadap seorang santri dan kasus kekerasan lainnya di sekitaran Kota Martapura.
Sekitar tahun 2020an, penulis aktif sebagai santri di Pondok Pesantren Darussalam dan menjadi aktivis organisasi di Martapura. Pernah mendengar ucapan dari seorang ulama yang merangkap tugas menjadi Bupati, yaitu KH. Khalilurrahman bin KH. Salim Ma’ruf (Almarhum).
Ada ungkapan beliau yang menarik dan masih penulis ingat yaitu, “Jangan sampai Martapura yang bergelar Serambi Mekkah Tinggal Seramnya aja lagi”. Ungkapan ini merupakan bentuk peringatan dari beliau, yaitu jangan sampai Kota Martapura yang menjadi simbol religius di tanah Kalimantan menjadi tempat yang tidak aman dan berbahaya yang beliau istilahkan dengan kalimat “Seram”.
Hal ini, seakan berlawanan dengan image yang dibangun yaitu religius, terutama karena jasanya Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan peran Syaikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) yang kembali memperkuat nilai-nilai tersebut di masyarakat.
Jika kita abai, maka gelar Serambi Mekkah hanya akan menjadi catatan kaki di buku sejarah, sementara anak cucu kita hanya mengenal Martapura sebagai tempat yang ‘seram’. Menjaga Martapura adalah menjaga martabat para guru kita.
Penulis: Muhammad Abdillah Editor: Muhammad Fahrie







