
Paduan suara (padus) PC IPNU IPPNU Kabupaten Banjar di penutupan HSN 2026 se-Kalimantan Selatan Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura, Selasa (27/10/2026) (Foto : Istimewa)
Albanjari.com – Paduan suara (padus) dari PC IPNU IPPNU Kabupaten Banjar turut ambil bagian dalam acara Hari Santri se-Kalimantan Selatan yang digelar di Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura, Rabu (27/10/2026). Persiapan penampilan tersebut dilakukan selama lebih dari tiga bulan.

Muhammad Fajar Fadillah dan Shofia Qurrotul Aini, anggota padus PC IPNU IPPNU Kabupaten Banjar, mengatakan keikutsertaan mereka menjadi bagian dari upaya untuk turut meramaikan peringatan Hari Santri yang digelar setiap tahun pada 22 Oktober.
“Karena kami mau meramaikan Hari Santri se-Kalimantan Selatan di Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura yang diadakan setiap tahun pada tanggal 22 Oktober,” ujar Shofia.
Fajar mengatakan, persiapan padus telah dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Selama proses latihan, mereka menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam menjaga kondisi suara dan kesehatan agar dapat tampil dengan baik.
“Kami selama latihan banyak banget tantangannya, seperti harus menjaga suara, harus menjaga kesehatan agar saat penampilan kita bisa menampilkan suara yang sangat bagus,” ujar Fajar.
Selain menjaga kondisi fisik dan suara, jumlah anggota yang cukup banyak juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses latihan. Menurut Fajar dan Shofia, menyatukan suara dalam sebuah padus membutuhkan proses dan latihan bersama.
“Kalau menurut ulun sendiri tantangan yang dihadapi karena orangnya banyak, mengumpulkan massanya agak sedikit susah. Terus yang namanya berproses kan menyatukan suara, ya seperti itu lah yang kami hadapi,” ujar Fajar dan Shofia.
Dalam menjaga kekompakan, Fajar menilai diperlukan rasa kebersamaan dari seluruh anggota. Menurutnya, karena penampilan dilakukan bersama-sama, proses latihan juga harus dijalani bersama.
“Menurut ulun lebih ke memiliki rasa aja gitu. Nah, walau semua kita tampil sama-sama, otomatis latihannya juga harus sama-sama,” ujar Fajar.
Menjelang penampilan, Shofia mengaku merasakan berbagai perasaan, mulai dari takut, terharu hingga grogi. Hal tersebut karena penampilan disaksikan oleh banyak orang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
“Perasaannya campur aduk sih, takut, terharu, grogi banget sih karena banyak banget yang nonton se-Kalimantan Selatan,” ujar Shofia.
Padus tersebut sebenarnya menyiapkan tiga lagu untuk dibawakan, yakni Indonesia Raya, Syubbanul Wathon, dan Mars Hari Santri. Namun, karena waktu pelaksanaan sudah memasuki waktu Magrib, mereka hanya menyanyikan Indonesia Raya.
“Ada tiga lagu sebenarnya kita tampilkan, yang pertama itu ada lagu Indonesia Raya, tentunya yang kedua Syubbanul Wathon dan yang terakhir ada Mars Hari Santri. Karena waktunya sudah Magrib, jadi kami menyanyikan lagu Indonesia Raya saja,” ujar Fajar.
Bagi Fajar dan Shofia, salah satu hal yang berkesan dari rangkaian Hari Santri tahun ini adalah dapat bertemu dan mengenal santri dari berbagai pondok pesantren di Kalimantan Selatan.
“Tentunya acara Hari Santri ini merupakan acara yang luar biasa, di mana banyak pondok pesantren terkumpul di sini. Bahagia aja gitu melihat santri dari pondok-pondok yang lain, saling mengenal. Kita jadi lebih banyak tahu pondok-pondok yang ada di Kalimantan Selatan,” ujar Fajar dan Shofia.
Dalam proses latihan, Fajar juga menyebut adanya tantangan dalam menyesuaikan suara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, karakter suara yang berbeda membuat anggota padus perlu saling menyesuaikan.
“Sebenarnya ulun kurang mengerti tentang suara-suara, tapi selama kami latihan, karena mungkin suara perempuan itu kan lebih ke arah soprano, sedangkan suara laki-lakinya ke arah bas, jadi harus menyesuaikan antara laki-laki dan perempuan. Mungkin itu salah satu tantangan kita di padus dan Alhamdulillah berhasil aja terlewati, maksimal tampilnya,” ujar Fajar.
Kebersamaan selama latihan juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Fajar. Ia mengatakan seluruh anggota menjalani proses tersebut secara bersama-sama.
“Luar biasa aja sih, bagaimana teman-teman yang berjuang. Karena padus kan tidak sendiri, kita berjuang bersama-sama. Susah senang kita sama-sama dan tiap hari kita lewati bersama, intinya bersama terus kita,” ujar Fajar.
Sementara itu, Shofia mengaku senang karena selama mengikuti latihan ia dapat mengenal teman-teman dari berbagai pondok pesantren serta mengetahui kondisi pondok lain.
“Rasanya campur aduk sih, kita jadi banyak kenal teman-teman dari pondok lain, pondok lain seperti apa dan bagaimana kondisi-kondisi di pondok lain,” ujar Shofia.
Menurut Shofia, proses latihan, gladi bersih hingga penampilan juga menjadi kesempatan untuk saling membantu dan memberikan dukungan satu sama lain.
“Banyak sih, kita jadi bisa belajar bagaimana caranya untuk saling bekerja sama. Selama latihan, selama gladi bersih dan selama penampilan, saling menguntungkan satu sama lain,” ujar Shofia.
Fajar berharap kegiatan Hari Santri dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya. Ia menilai keberadaan santri memiliki dampak bagi negeri.
“Harapannya agar terus kita lanjutkan acara Hari Santri ini, karena tidak bisa dipungkiri santri sungguh berdampak untuk negeri kita yang tercinta ini. Jadi harapan ulun sendiri agar teruslah mengadakan acara Hari Santri ini,” ujar Fajar.
Reporter : Muhammad Haydir
Editor : Ahmad Mursyidi






