Mei 26, 2024
Syekh Muhammad Syarwani Abdan

Syekh Muhammad Syarwani Abdan Bangil. Foto-Net.

Tidak banyak orang yang dapat pujian dari Syekh Sayyid Amin Qutbi. Salah satu orang yang langka itu adalah Syekh Muhammad Syarwani Abdan. Oleh Sayyid Amin, Syekh Syarwani diumpamakan sumur yang kecil (jahirnya), tetapi sangat dalam airnya.

Syekh Muhammad Syarwani Abdan atau yang kerap dikenal dengan sebutan Guru Bangil ini, merupakan ulama besar kelahiran Kampung Melayu Ilir, Martapura (1913 M/1334 H). Beliau adalah satu mutiara dari julukan “Dua mutiara dari Tanah Jawi”, atau yang kemudian disederhanakan dengan sebutan “Dua mutiara dari Tanah Banjar” bersama dengan sepupunya, Syekh Muhammad (Anang) Sya’rani bin H Arif.

Julukan besar tersebut bukanlah julukan sembarangan, dan tidak disematkan pada sembarang orang. Syekh Muhammad Syarwani Abdan merupakan ulama besar yang sempat mendapat kehormatan mengajar di Masjidil Haram. Hal itu merupakan bukti nyata bahwa keilmuan yang dimiliki beliau diakui kedalamannya.

Bahkan, Guru beliau sendiri (Sayid Amin Kutbi) pernah berkata, sebagaimana yang diungkapkan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, “Syarwani ini memang sumurnya kecil, tapi sangat dalam.”

Masa Kecil

Syekh Muhammad Syarwani merupakan anak dari pasangan H Abdan dan Hj Halimatus Sa’diyah. Beliau masih terhitung keturunan ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Albanjari: Syekh Muhammad Syarwani bin H Muhammad Abdan bin H Muhammad Yusuf bin H Muhammad Shalih Siam bin H Ahmad bin H Muhammad Thahir bin H Syamsuddin bin Sa’idah binti Syekh Muhammad Arsyad Albanjari.

Pendidikan keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang beliau. Kampung Melayu, dimana beliau dilahirkan merupakan kampung yang bernuansa relegius, yakni salah satu kampung dari Kota Serambi Makkah Martapura. Tokoh ulama besar di kampung tersebut pada masa itu adalah Syekh Kasyful Anwar Al Banjari, yang tak lain adalah pamannya sendiri.

Syekh Syarwani mengisi masa kecil dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, yakni pesantren tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan. Kala itu, Pesantren tersebut dipimpin Syekh Kasyful Anwar Al Banjari. Di luar jam sekolah, beliau juga mengaji ke banyak ulama Martapura lainnya, semisal Tuan Guru Ismail Ibrahim Khatib dan Tuan Guru Muhammad Thaha.

Pada usia yang sangat muda, beliau meninggalkan kampung halaman (Martapura) dan bertolak ke Jawa Timur (Bangil), mengikuti keluarga beliau yang telah lama tinggal di sana (usaha).
Di Bangil, beliau melanjutkan pencarian ilmu pada banyak ulama kenamaan, di antaranya: KH Muhdhar di Gondang Bangil, KH Abu Hasan di daerah Wetan Alun Bangil, KH Bajuri Kota Bangil, dan KH Ahmad Jufri di Pasuruan.

Haus Ilmu

Pada suatu kesempatan, ketika Guru Bangil masih kecil, keluarga beliau bertamu ke rumah seorang Habib bermarga Al Haddad di Kota Bangil. Masing-masing mereka diberi air putih. Tentu saja ini bukan air putih biasa. Di antara saudara beliau, ada yang minum hanya setengah gelas, hilang dahaganya. Ada yang satu gelas baru hilang hausnya. Namun ketika disuguhkan kepada Guru Bangil dan beliau meminumnya, satu gelas tidak cukup. Ditambah lagi. Masih tidak cukup. Oleh Sang Habib, kejadian itu merupakan isyarat bahwa Guru Bangil adalah anak yang haus akan ilmu pengetahuan.

Isyarat itu di kemudian hari terbukti benar. Guru Bangil memang haus akan ilmu pengetahuan agama, beliau tidak hanya mencari di tempat kelahiran, bahkan hingga ke tanah suci.

Bertolak ke Tanah Suci

Ketika berumur 16 tahun, Syekh Kasyful Anwar membawa Guru Bangil dan sepupunya, Syekh Anang M Sya’rani Arif untuk menimba ilmu di Tanah Suci. Syekh Kasyful Anwar tentu saja tidak sembarangan membawa orang untuk ditempa menjadi ulama. Beliau bisa menilai mana bibit yang mudah berkembang dengan baik dan mana yang tidak. Keduanya selain memiliki tekad yang kuat, juga memiliki kecerdasan yang hebat.

Selama di sana, Guru Bangil menuntut ilmu pada banyak ulama. Di antara yang bisa diketahui: Pada Sayyid Muhammad Amin Qutbi, Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki, Syekh Umar Hamdan, Syekh Muhammad Al ‘Arabi, Sayyid Hasan Masyath, Syekh Abdullah Al Bukhari, Syekh Syaifullah Dagesthani, Syekh Syafi’i (asal Kedah Malaysia), Syekh Sulaiman (asal Ambon), Syekh Ahyad (asal Bogor), dan Syekh Ali Albanjari.

Tak terlalu lama, nama Guru Bangil (dan Guru Anang Sya’rani) mencuat ke permukaan. Terutama dari pandangan para masyaikh yang menilai keduanya lebih menonjol dalam keilmuan dibanding teman-temannya. Karena itu, keduanya kemudian dipercaya untuk mengajar selama beberapa tahun di Masjidil Haram. Masyhurlah nama keduanya dengan julukan, Mutiara dari Tanah Jawi.

Setelah kurang lebih 10 tahun di Kota Makkah, Guru Bangil beserta paman dan sepupunya pulang ke kampung halaman, Martapura pada 1939 M.

Menolak Jadi Qadhi

Di Kota kelahiran (Martapura) beliau sempat mengajar di Pondok Pesantren Darussalam, Madrasah Sullamul Ulum Dalam Pagar, dan membuka majelis di rumah beliau.

Masyhurnya beliau sebagai ulama yang sempat mengajar di Masjidil Haram membuat para ulama di Martapura meminta beliau untuk menjadi Qadhi. Oleh beliau, permintaan itu ditolak secara halus, dengan alasan lebih senang berkhidmat kepada umat tanpa terikat dengan lembaga apa pun. Dengan begitu, beliau lebih mudah mengatur waktu, lebih maksimal mengajar, muthola’ah, dan beribadah.

Pada tahun 1943 M, beliau pergi ke Kota Bangil dan tinggal di sana. Selama di sana, beliau mengisi waktu dengan menuntut ilmu kepada Syekh Muhammad Mursyidi, dari Mesir. Hingga setahun di sana, beliau kembali ke Martapura dan melanjutkan majelis ta’lim yang dahulu dibinanya.

Pindah ke Kota Bangil

Pada tahun 1950, Guru Bangil dengan mantap memutuskan untuk hijrah ke Kota Bangil, Jawa Timur. Ketika mukim di Bangil, beliau tidak langsung menggelar majelis yang terbuka untuk umum –hanya untuk orang-orang dekat-. Beliau berbaur dengan lingkungan sekitar layaknya masyarakat biasa. Dalam berpakaian pun beliau tidak mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa beliau seorang ulama besar. Beliau berpenampilan sederhana, sebagaimana orang haji biasa di zamannya.

Keseharian beliau selain muthola’ah (mengulang-ulang pelajaran), diisi dengan usaha toko bangunan di Bangil. Konon, usaha ini sesuai petunjuk dari guru beliau, Sayyid Amin Qutbi. Sekian lama hal itu berlangsung, tidak ada yang mengira –selain orang terdekat beliau di sana- bahwa beliau seorang ulama besar. Hingga datang isyarat untuk mengajarkan ilmu.

Membuka Majelis di Bangil

Diceritakan KH Syaifuddin Zuhri, suatu ketika, sejumlah kyai yang diketuai Kyai Hamid Pasuruan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Selama di sana, rombongan kyai ini bermaksud untuk menemui Sayyid Amin Qutbi. Karena ada permasalahan pelik dalam agama yang menurut mereka hanya orang sekaliber Sayyid Amin Qutbi yang bisa menyelesaikan masalahnya.

Ketika sampai di kediaman Sayyid Amin, rombongan kyai tersebut mengutarakan masalahnya. Oleh beliau, permasalahan para kyai itu hendaknya dibawa kepada anak muridnya yang ada di Bangil Jawa Timur, yakni Syekh Syarwani Abdan. Sayyid Amin kemudian menitipkan sebuah surat untuk Syekh Syarwani.

Singkat cerita, rombongan kyai ini pun pulang dari tanah suci. Mereka kemudian mengatur hari untuk menemui Syekh Syarwani. Hingga hari itu ditetapkan, berkumpullah para kyai ini menuju kediaman beliau.

Sesampainya di rumah Syekh Syarwani, rombongan kyai ini melihat beliau sedang membaca kitab. Dengan sambutan yang ramah, beliau menyongsong tamu. Setelah bertukar sapa sebentar, Syekh Syarwani meminta surat yang mereka bawa dibuka. Padahal, tidak ada pembicaraan itu sebelumnya.

Para kyai itu sudah menduga, bahwa ulama yang ditunjuk Sayyid Amin bukanlah ulama sembarangan. Satu keistimewaan yang sudah nampak di depan mata mereka, beliau tahu rombongan kyai itu sedang membawa surat dari gurunya.

Setelah surat itu dibacakan dan maksud tujuan mereka disampaikan, Syekh Syarwani yang telah lebih dulu membuka kitab, kemudian menyerahkan kitab yang masih menganga itu kepada rombongan kyai. Di sana, ditemui mereka jawaban dari permasalahan pelik yang tidak bisa diurai para kyai tersebut.

Kedalaman ilmu serta ketajaman mata bathin Syekh Syarwani, ternyata membuat para kyai itu terpukau. Sehingga mereka kemudian meminta beliau mau mengajari mereka. Oleh Syekh Syarwani, permintaan itu tidak langsung diamini, beliau terlebih dulu menanyakannya kepada Kyai Hamid. Setelah Kyai Hamid mengisyaratkan persetujuan, barulah Syekh Syarwani menggelar majelis untuk para kyai tersebut.

Memiliki Hubungan Erat dengan Kyai Hamid Pasuruan

Kyai Abdul Hamid merupakan ulama karismatik di Pasuruan. Beliau merupakan ulama yang kerap menjadi tujuan banyak orang. Sehingga tak jarang, banyak yang kesulitan ketika ingin menemui beliau.

Uniknya, menurut pengalaman banyak orang yang ingin bertemu dengan Kyai Hamid. Mereka dimudahkan jalan bertemu dengan beliau, apabila mereka terlebih dulu bertamu kepada Syekh Syarwani. Bahkan tak jarang, mereka yang terlebih dulu bertamu pada Syekh Syarwani, mendapat kehormatan ketika bertamu pada Kyai Hamid. Semisal, beliau sendiri yang membukakan pintu.

Entah ada ikatan apa di antara keduanya. Sehingga, orang-orang yang bertamu pada Syekh Syarwani bisa dengan mudah dikenali Kyai Hamid. Padahal, saat itu tidak ada alat komunikasi (telpon) yang dapat mengabarkan kedatangan tamu-tamu mereka.

Mendirikan Pesantren

Pada tahun 1970 M, Guru Bangil memutuskan untuk mendirikan pesantren dengan nama “Pondok Pesantren Datuk Kelampayan.” Datuk Kelampayan sendiri adalah julukan pada moyang Guru Bangil di Banjar, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Ramailah orang-orang datang menimba ilmu di pesantren yang didirikan Guru Bangil. Tidak hanya orang yang berdomisili di Jawa Timur, dari luar jawa pun kemudian datang menimba ilmu di pesantren itu. Terlebih, orang-orang Banjar.

Di kemudian hari, pesantren tersebut dikenal sebagai Pondok Banjar, karena mayoritas santrinya dari suku Banjar. Baik yang sudah tinggal di Jawa Timur, maupun yang sengaja datang jauh-jauh dari Kalimantan untuk menimba ilmu di sana.

Pengelolaan pesantren ditangani sendiri oleh Guru Bangil. Dengan telaten beliau memikirkan bagaimana para santri dapat dengan mudah belajar di sana, tanpa harus memikirkan masalah pesantren. Bahkan, permasalahan makan dan keperluan sehari-hari santrinya, juga ditanggung beliau.

Sosok Guru Bangil adalah sosok yang tidak ingin memberatkan orang lain. Bahkan, pada anak sendiri pun, beliau tidak mudah menyuruh. Beliau tidak ingin, anak beliau menjadi “durhaka”, karena suruhan yang kemungkinan akan ditolak atau dilakukan dengan terpaksa.

Guru Bangil merupakan pendidik sejati, yang mengajar tidak untuk dibayar. Kecintaannya terhadap ilmu dan pencari ilmu telah dibuktikannya dalam keseharian. Hampir seluruh waktunya diisi untuk “pesantren”. Bahkan, ketika beliau sudah berumur dan sakit-sakitan, beliau tetap mengajar meski dilakukan dengan berbaring.

Karya

Selain mengajar di pesantren, Guru Bangil masih sempat-sempatnya membuahkan karya dalam bentuk tulisan. Banyaknya tulisan beliau hanya diketahui pihak keluarga. Kalaupun dicetak biasannya hanya untuk dibagikan, tidak diperjualbelikan.

Meski demikian, dari sekian banyak karya beliau di antara yang sempat terpublikasi, adalah buku yang berjudul “Adz Dzakhiratus ats Tsaminah li Ahlil Istiqomah” atau dalam cetakan Bahasa Indonesianya diberi judul “Simpanan berharga”.

Karya beliau tersebut kemudian mandapat sambutan hangat di kalangan ulama. Di antara yang memberikan sambutan tersebut, Menteri Agama kala itu KH Syaifuddin Zuhri, Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo dan Rais Suriah NU KH Machrus Ali, Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof Tk H Ismail Jakub SH MH.

Selain buku tersebut, karya beliau lainnya yang dapat diketahui; Risalah Sholat (sempat dibagikan ketika peringatan Haul Beliau), Risalah Puasa, dan Terjemah Syair Burdah.

Guru Para Ulama

Karya terbesar Guru Bangil, yang benar-benar terasa bagi banyak orang adalah murid-murid beliau yang tersebar di berbagai daerah. Di antara mereka ada yang kemudian menjadi kyai dan mendirikan pesantren di daerahnya. Ada pula yang memang sudah memiliki majelis atau pesantren, namun sengaja datang untuk menimba ilmu kepadanya.
Beberapa kyai yang sudah ‘alim, namun mengaji kepada beliau di antaranya adalah ulama karismatik asal Kalimantan, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani. Begitu pula ulama-ulama di Bangil, seperti Kyai Abdurrahim, Kyai Abdul Mu’thi, Kyai Khairan, dan banyak lagi yang lainnya.

Di antara Murid Guru Bangil yang kemudian menjadi ulama dan menjadi panutan:

1. Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).
2. Prof Dr KH Ahmad Syarwani Zuhri, Pimpinan dan Pengasuh Pondok pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Balikpapan.
3. KH Muhammad Syukeri Unus, Pimpinan Majelis Taklim Sabilal Anwar Al Mubarak, Martapura.
4. KH Zaini Tarsyid, Pengasuh Majelis Taklim Salafus Shaleh Tunggul Irang Seberang, Martapura (Menantu Guru Bangil).
5. KH Ahmad Bakeri (Tuan Guru Bakeri), Pengasuh Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin, Gambut.
6. KH. Asmuni (Tuan Guru Danau), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aman, Danau Panggang, Amuntai.
7. KH Syaifuddin Zuhri, Pengasuh Majelis Bani Ismail, Banjarmasin.
8. KH Syafi’I Luqman, Tulungagung, Jawa Timur.
9. KH Abrar Dahlan, Pimpinan Pondok Pesantren di Sampit, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah.
10. KH Muhammad Safwan Zahri, Pimpinan Pondok Pesantren Sabilut Taqwa, Handil 6, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Wafatnya Sang Guru

Setelah sekian lama mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat, di masa senjanya Guru Bangil sering menderita sakit. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada Senin malam (malam selasa) sekitar jam 20.00 Wita, 11 September 1989 M/12 Shafar 1410 H pada usia kurang lebih 74 tahun.

Jenazah beliau kemudian dimakamkan di pemakaman Keluarga Habib Muhammad bin Ja’far Al Haddad, Dawur, Bangil.

Makam beliau di kemudian hari, banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru daerah. Terlebih ketika mendekati peringatan haul beliau. Ribuan jamaah tumpah ruah dalam periangatan haul tersebut.

Guru Bangil meninggalkan 27 putera dan puteri. Berdasarkan wasiat tertulisnya, putera tertuanya yang ia beri nama dengan nama guru sekaligus pamannya -KH. Kasyful Anwar- didaulat untuk meneruskan kiprahnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Datuk Kalampayan dan melanjutkan semua kegiatan yang telah dirintis oleh beliau di kala hidupnya.

Penulis: Muhammad Bulkini

*) Buku “Jejak 8 Ulama Thoriqoh Sammaniyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *