bencanA

Ilustrasi banjir di sumatra, sumber: kalimantanlive.com

Albanjari.com – Banjir telah menjadi bagian dari lanskap kehidupan Indonesia sejak lama. Negeri yang dianugerahi ribuan sungai ini sekaligus menyimpan kerentanan seperti curah hujan tinggi, topografi beragam, dan pertumbuhan penduduk yang terus meluas membuat banjir hadir sebagai tamu tahunan yang tak diundang.

Di beberapa daerah baik itu Kalimantan, Jawa, Sumatra, maupun daerah lainnya setiap banjir datang media massa mulai ramai memberitakan beragam peristiwa yang mengiringinya.

Berita tentang rumah-rumah yang terendam, akses jalan yang terputus, sekolah yang terpaksa meliburkan kegiatan, serta perekonomian lokal yang lumpuh menghiasi layar televisi dan linimasa media sosial.

Situasi ini mengingatkan kita bahwa Indonesia, sebagai negara beriklim tropis, selalu berhadapan dengan risiko banjir tahunan.

Namun di balik fenomena ini, terdapat pesan besar yang harus dibaca oleh masyarakat khususnya umat Islam, bagaimana agama memandang musibah? bagaimana kita harus bersikap? dan apa peran sosial Nahdlatul Ulama dalam meresponsnya?

Indonesia berada di garis khatulistiwa dengan curah hujan tinggi, dikelilingi sungai besar, dan memiliki topografi yang beragam. Bencana banjir bukan semata-mata disebabkan faktor alam, tetapi juga faktor manusia.

Kerusakan yang terjadi di darat maupun di laut bukanlah sesuatu yang muncul tanpa sebab. Islam memandang bahwa musibah seringkali menjadi cermin dari ulah manusia itu sendiri baik berupa kelalaian, keserakahan, maupun abai terhadap amanah menjaga bumi.

Ketika hutan ditebang tanpa kendali, sungai disempitkan oleh bangunan, sampah dibuang sembarangan, atau tata ruang dilanggar, alih fungsi lahan tanpa kajian lingkungan, aktivitas pertambangan yang memgakibatkan ekosistem hutan tidak lagi berfungsi optimal dalam menahan laju air. Maka alam pun kehilangan keseimbangannya.

Pada saat itulah bencana seperti banjir, tanah longsor, atau krisis air menjadi tidak terhindarkan.

Dalam Islam, musibah seringkali dipandang sebagai bagian dari akibat perbuatan manusia itu sendiri, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rum: 41):

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: :Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Makna penting ayat ini adalah agar manusia kembali (taubat dan memperbaiki diri). Artinya, musibah bukan hanya fenomena alam, tetapi juga ajakan untuk merenungkan kesalahan, memperbaiki perilaku, dan kembali pada nilai-nilai ketakwaan.

Dengan demikian, setiap musibah, termasuk banjir yang kerap melanda wilayah kita, hendaknya dipahami bukan semata-mata sebagai bala, tetapi juga peringatan sekaligus peluang untuk berubah yaitu memperbaiki lingkungan, memperkuat kepedulian sosial, dan mendekat kepada Allah dengan penuh kesadaran serta tanggung jawab.

Dalam situasi seperti yang sedang dialami banyak daerah di Indonesia ketika hujan turun tanpa henti, sungai meluap, dan rumah-rumah warga terendam. Umat Islam patut merenungkan kembali firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan (makanan dan minuman). Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Ayat ini turun bukan hanya sebagai peringatan, tetapi sebagai pegangan hati bagi setiap Muslim ketika musibah datang mengetuk pintu kehidupan.

Allah menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari perjalanan iman bukan tanda kebencian-Nya, tetapi metode Ilahi untuk menguatkan mental dan membersihkan jiwa.

Musibah banjir yang melanda Indonesia selama ini dapat menjadi contoh nyata dari ujian yang Allah sebutkan seperti rasa takut ketika air naik, listrik padam, atau jalan terputus. Kekurangan harta ketika rumah rusak, ladang gagal panen, dan barang-barang hanyut. Kekurangan jiwa, baik karena meninggal, sakit, atau kelelahan saat evakuasi. Ada pula kekurangan buah-buahan dan bahan makanan ketika logistik terhambat dan aktivitas ekonomi terganggu.

Namun, ayat ini tidak berhenti pada kabar buruk. Allah menutupnya dengan kalimat yang begitu menenangkan: “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Inilah puncak dari pesan ayat tersebut. Kesabaran bukan hanya menahan diri dari keluh kesah, tetapi keteguhan hati, keyakinan bahwa Allah tidak salah menakdirkan, dan usaha untuk tetap berbuat baik, meski situasi sulit melingkupi.

Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi bersabda bahwa orang beriman tetap memperoleh kebaikan dalam setiap keadaan. Jika ia ditimpa musibah, ia bersabar; jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur. Dengan cara ini, musibah banjir bukan hanya kesulitan, tetapi juga pintu menuju pahala.

عَجِبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin: Apabila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian itu kebaikan baginya. Apabila ditimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu pun kebaikan baginya.” (HR Muslim no.2999)

Hadis ini menjadi sumber kekuatan batin bagi seorang mukmin untuk tetap tegar dalam berbagai situasi hidup. Kesabaran dan kesyukuran selalu ditempatkan sebagai dua sayap yang membantu seorang hamba terbang lebih tinggi menuju ridha Allah.

Dalam konteks sosial, banjir menghentikan aktivitas ekonomi warga, menurunkan kualitas hidup, dan menyebabkan kerugian besar. Namun di balik itu, banjir juga memunculkan solidaritas baru. Warga saling membantu, organisasi keagamaan bergerak cepat, dan nilai gotong royong bangkit kembali.

NU menunjukkan bahwa solidaritas, kepedulian, dan gerakan sosial adalah bagian dari ibadah.

Dalam setiap musibah banjir, NU tidak sekadar hadir sebagai penolong, tetapi membawa nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin seperti kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian lingkungan.

Respons sosial NU adalah cerminan ajaran Islam yang mendorong umat untuk saling membantu, memperbaiki kerusakan, dan merawat bumi.

Ketika air mulai naik dan warga mulai mengungsi, tim Banser Bagana (Barisan Ansor Siaga Bencana) adalah salah satu yang paling cepat turun. Mereka melakukan evakuasi warga lanjut usia, anak kecil, ibu hamil, serta membantu mengamankan akses logistik. Banom lain seperti IPNU/IPPNU turut bergerak mengumpulkan bantuan darurat.

Sementara itu, LAZISNU menggalang donasi dari masyarakat untuk menyediakan makanan siap saji, air bersih, pakaian layak pakai, selimut, obat-obatan dan peralatan sanitasi.

Respons cepat ini dilakukan tanpa membedakan latar belakang warga, sesuai prinsip khidmah, yakni melayani kemanusiaan sebagai bagian dari ibadah.

NU melalui LPBINU (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim) mendirikan posko bantuan di titik-titik rawan. Posko ini berfungsi sebagai tempat distribusi logistik, dapur umum bagi warga terdampak, pos kesehatan bekerja sama dengan tim medis LKNU.

Para relawan perempuan dari Muslimat dan Fatayat NU biasanya memegang peran penting dalam dapur umum, memastikan makanan hangat tersedia setiap jam bagi para pengungsi.

Dalam tradisi NU, musibah bukan hanya dilihat dari sisi material, tetapi juga batin. Karena itu, para kiai, ustadz, dan kader muda LDNU sering mengadakan pengajian singkat di posko, majelis dzikir, bimbingan rohani, pendampingan untuk anak-anak (ruang bermain, dongeng Islami, belajar mengaji). Ini membantu mengurangi trauma dan menguatkan spiritualitas masyarakat agar tetap tabah menghadapi cobaan.

NU tidak hanya fokus pada respons darurat, tetapi juga penyebab banjir. Melalui LPBINU dan para akademisi NU, mereka sering menyuarakan pentingnya reboisasi, penegakan hukum terhadap penebangan liar, pengawasan terhadap tambang yang merusak lingkungan, pembangunan yang memperhatikan daya dukung alam.

Pendekatan ini sesuai dengan maqashid syariah dan prinsip Islam tentang menjaga bumi (hifzhul bi’ah).

Banjir yang melanda Indonesia bukan hanya bencana alam, melainkan ruang belajar bersama. Islam mengajarkan bahwa setiap musibah mengandung hikmah.

Di masa depan, menjaga lingkungan harus menjadi komitmen kolektif, agar kehidupan yang lebih baik dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada para korban, menjauhkan Indonesia dari bencana, serta menurunkan rahmat dan keberkahan-Nya di seluruh penjuru negeri.


Penulis: Ahmad Mursyidi