mencapai-tujuan-hidup-ilustrasi

Sumber: islampos.com

Setiap manusia berjalan di jalan pencarian. Dari lahir hingga menutup usia, ada kerinduan yang tak pernah padam: menemukan arti bahagia yang sesungguhnya.

Albanjari.com Hidup manusia sejatinya adalah perjalanan panjang pencarian. Sejak kecil hingga tua, manusia selalu mencari sesuatu yang ia anggap bisa membuat hidupnya lebih berarti. Anak mencari kasih sayang, remaja mencari jati diri, orang dewasa mengejar rezeki, dan orang tua mendamba ketenangan. Namun pertanyaan yang tetap menggantung adalah: apa sebenarnya yang paling dicari manusia?

Secara psikologis, manusia membutuhkan rasa aman, cinta, dan penghargaan. Itulah mengapa orang bekerja keras, membangun keluarga, atau mencari pengakuan dari lingkungannya. Dalam filsafat, manusia selalu haus akan makna dan kebenaran—mencari jawaban tentang untuk apa ia hidup dan ke mana ia akan kembali. Dari sisi spiritual, manusia mendambakan ketenangan jiwa; banyak orang memiliki harta berlimpah, tapi tetap merasa gelisah karena hatinya jauh dari Allah. Sedangkan dalam ranah sosial, manusia ingin dihargai dan dikenang agar hidupnya tidak hilang begitu saja.

Al-Qur’an sudah memberi isyarat:

 اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28).

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh pencarian manusia pada akhirnya bermuara pada Allah. Ketenangan sejati bukan pada materi, jabatan, atau pengakuan, melainkan pada hati yang senantiasa tersambung dengan-Nya.

M. Ali Syahbana, Sekretaris LDNU Kab. Banjar

Kearifan Islam sebagaimana diajarkan para ulama Nahdlatul Ulama memandang kebahagiaan sejati (sa‘ādah) lahir dari keseimbangan: dunia dan akhirat, ikhtiar dan doa, angka-angka materi dan makna yang lebih dalam. Dengan keseimbangan itu, manusia tidak sekadar hidup, tetapi juga menemukan arah dan ketenteraman dalam perjalanannya.

Seperti pesan indah yang patut direnungkan: “Hidup bukan sekadar menambah apa yang kita punya, tetapi bagaimana kita memberi arti bagi sesama. Karena pada akhirnya, yang kita cari hanyalah hati yang tenang dan langkah yang diridai Allah.”

Oleh: M. Ali Syahbana, Sekretaris LDNU Kabupaten Banjar


Editor: Muhammad Fahrie