
Muhammad Rifki Rifansyah (Penulis)
Albanjari.com – Di tengah perdebatan yang sering muncul mengenai pilihan antara aktif berorganisasi atau fokus pada pendidikan formal, masih banyak anggapan bahwa organisasi dapat mengganggu proses belajar seseorang.
Tidak sedikit yang berpendapat bahwa mahasiswa atau pelajar yang terlalu aktif dalam organisasi akan mengalami penurunan prestasi akademik, kehilangan fokus belajar, bahkan terlambat menyelesaikan pendidikan.
Namun, anggapan tersebut tidak selalu benar. Bagi sebagian orang, organisasi justru menjadi ruang belajar yang mampu mendorong semangat pendidikan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Saya adalah salah satu yang merasakan secara langsung bagaimana organisasi menjadi titik awal perubahan hidup. Sejak tahun 2020 mulai aktif berorganisasi melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).
Pada saat itu, saya hanya melihat organisasi sebagai tempat berkumpul, belajar, dan menambah teman. Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa organisasi menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada itu.
Organisasi mengajarkan keberanian untuk bermimpi, kemampuan untuk berkomunikasi, serta membuka wawasan tentang dunia yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Melalui IPNU, saya belajar bagaimana menyusun program kerja, mengelola kegiatan, menyelesaikan konflik, membangun komunikasi dengan berbagai kalangan, dan bekerja sama dalam tim.
Pengalaman-pengalaman tersebut secara tidak langsung membentuk karakter dan pola pikir yang lebih matang.
Saya mulai memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai di atas kertas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu menghadapi kehidupan sosial yang nyata.
Yang paling penting, organisasi membuka mata saya tentang pentingnya pendidikan tinggi. Banyak senior dan kader yang ditemui dalam organisasi memberikan motivasi saya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Dari diskusi-diskusi sederhana, forum kaderisasi, hingga pertemuan dengan berbagai tokoh, saya mendapatkan pandangan baru bahwa pendidikan adalah investasi masa depan.
Organisasi tidak menjauhkan saya dari dunia pendidikan, justru organisasi yang mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Perjalanan organisasi tersebut terus berlanjut ketika saya dipercaya menjadi Ketua Anak Cabang IPNU Kecamatan Martapura Barat, kemudian menjadi Koordinator Organisasi Pengurus Cabang IPNU Kabupaten Banjar, dan selanjutnya diamanahkan sebagai Sekretaris Cabang IPNU Kabupaten Banjar.
Setiap amanah yang diberikan bukan hanya menambah pengalaman organisasi, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang tidak saya dapatkan di dalam ruang kelas.
Saat memasuki dunia perkuliahan, saya kembali melanjutkan proses berorganisasi melalui Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Di organisasi ini, ruang belajar semakin luas. Saya bertemu dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang, berdiskusi mengenai persoalan sosial, pendidikan, hukum, budaya, hingga isu-isu kebangsaan.
Dari sinilah saya semakin memahami bahwa pendidikan dan organisasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua unsur yang saling menguatkan.
Bahkan, banyak kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan justru ditempa melalui organisasi. Kemampuan berbicara di depan umum, menulis, memimpin rapat, menyusun gagasan, membangun jaringan, hingga menyelesaikan konflik merupakan keterampilan yang sulit diperoleh hanya dengan duduk di bangku kuliah.
Organisasi memberikan ruang praktik yang nyata untuk menerapkan ilmu yang dipelajari di kelas.
Selain itu, organisasi juga mempertemukan saya dengan banyak tokoh, aktivis, akademisi, dan pemimpin daerah.
Jaringan yang terbentuk dari proses tersebut menjadi modal sosial yang sangat berharga. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa organisasi telah membuka banyak pintu kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui.
Dari organisasi, saya belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kemampuan membangun relasi, komunikasi, dan kepemimpinan.
Pengalaman tersebut kemudian memperkuat keyakinan saya bahwa organisasi bukanlah penghambat pendidikan. Sebaliknya, organisasi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan seseorang dengan pendidikan yang lebih tinggi, wawasan yang lebih luas, dan masa depan yang lebih baik.
Tentu saja, syaratnya adalah mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas organisasi dan tanggung jawab akademik. Ketika keduanya berjalan beriringan, maka organisasi dan pendidikan akan menjadi pasangan yang saling melengkapi.
Hari ini, ketika masih ada sebagian orang yang mempertanyakan manfaat organisasi bagi pelajar dan mahasiswa, pengalaman saya justru menunjukkan hal yang berbeda.
Organisasi telah mengajarkan banyak hal yang tidak saya temukan di ruang kelas, sekaligus menjadi salah satu alasan terbesar mengapa saya berani melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi.
Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti mempertentangkan organisasi dan pendidikan. Sebab bagi banyak anak muda, organisasi bukan penghalang untuk belajar, melainkan jalan yang mengantarkan mereka menuju pendidikan, pengabdian, dan cita-cita yang lebih besar.
Kontributor : Muhammad Rifki Rifansyah
Editor : Ahmad Mursyidi







