6642d56bb599b

Sumber: kompas.com

Albanjari.com – Beberapa hari yang lalu terjadi longsor serta banjir bandang yang besar di tiga provinsi di pulau Sumatra, lantas kejadian itu memakan banyak korban, mulai dari lansia, orang dewasa hingga anak kecil. Tak jarang orang kehilangan anak atau sebaliknya anak kehilangan orang tua dan keluarganya.

Berbagai macam media mulai lokal sampai media berskala nasional ramai-ramai memberitakan bencana yang terjadi di pulau itu, mulai dari media online sampai media sosial, berupa tulisan, foto dan video juga narasi-narasi tersebar dimana-mana, seolah memanggil kita untuk menyediakan sedikit ruang dan waktu sejenak untuk merenung, kenapa hal itu bisa terjadi.

Sumatra sedang sakit berat, koma yang disebabkan oleh perbuatan manusianya sendiri, giliran sakit bukannya muhasabah dan merenung malah mencari celah dan berdalih bencana alam, padahal kita semua tahu ini adalah akibat dari keserakahan segelintir orang.

Kejadian besar itu tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa aba-aba, tak mungkin kejadian sebesar itu terjadi dengan sendirinya, ada banyak faktor dan tangan yang berkontribusi terhadap kejadian itu.

Bagai emosi yang meledak, bukan karena satu atau dua kejadian, akan tetapi karena tumpukan atau endapan emosi yang membatin, lama kelamaan akhirnya meletus juga, begitulah perumpamaan bencana yang terjadi di Sumatra.

Tidak bisa menyalahkan takdir atas bencana yang terjadi di pulau besar tersebut, itu merupakan konsekuensi dari keserakahan penghuni bumi yang konon katanya dikaruniai akal dan hati.

Tanah air kita begitu subur, hutan tropis Indonesia begitu besar dan merupakan habitat bagi satwa dan makhluk hidup lainnya, tak terkecuali manusia. Manusia juga membutuhkan hutan untuk kelangsungan hidup, tanpa adanya hutan yang memadai, dunia akan kacau dengan berbagai macam bencana. Deforestasi merupakan perbuatan yang memberikan dampak negatif sangat besar kendati juga mempunyai sedikit manfaat.

Meskipun deforestasi dilakukan dengan profesional dan dengan tujuan yang positif, dampak negatif yang diberikan oleh alam tak sebanding dengan manfaat yang didapat, itupun manfaatnya hanya dirasakan oleh segelintir orang, sedangkan dampak buruknya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat bahkan anak kecil yang tak bersalah sekalipun.

Yang terjadi biarlah sudah terjadi, hmm tak bisa begitu. Kejadian tersebut harus menjadi bahan renungan buat seluruh lapisan masyarakat, terlebih khusus bagi pemangku kepentingan (pelaku usaha) dan pemangku kebijakan (pemerintah) agar bencana besar yang telah kita lihat bersama itu tidak terulang kembali di Sumatra dan tidak disusul oleh pulau lain di negeri tercinta.

Banjir bandang dan longsor tak hanya mampu mengganyang Sumatra tapi juga berpotensi terjadi di pulau lain seperti Kalimantan, Sulawesi hingga Papua, kalo pemangku kebijakan lalai dan pura-pura tidak melihat perusakan alam yang dilakukan secara terstruktur dan masif.

Sumatra seolah menjadi alarm bagi kita semua. Bagi pulau-pulau besar penghasil SDA, jangan sampai kejadian di Sumatra juga terjadi di Kalimantan dan di pulau lainnya, pemangku kebijakan harus mengambil langkah tegas dan strategis agar bencana besar itu tidak menjadi bom waktu bagi Kalimantan, Sulawesi dan juga Papua.

Untuk saudara kita yang terdampak bencana di Sumatra mari kita doakan bersama agar apa yang telah hilang dari mereka tergantikan dengan yang lebih baik,  serta kejadian serupa tidak terjadi lagi di pulau itu, juga dipulau-pulau lain di negeri ini.

Seraya berdoa kepada Allah, mari kita bantu saudara kita yang terdampak bencana di Sumatra semampu kita, bantuan sumbangan, tenaga dan pikiran sangat berharga bagi mereka yang sedang kesusahan.

Tak lupa pula untuk selalu menjaga dan merawat lingkungan. Merawat lingkungan merupakan hal penting yang tak boleh kita abaikan, menanam pohon, tidak membuang sampah sembarangan, memakai listrik secukupnya, tidak menebang pohon kecuali sampai waktunya. Semua itu walaupun kecil, akan berdampak sangat baik untuk lingkungan dan alam kita.

Semoga Allah selalu menjaga kita serta alam yang sedang kita pijak ini.

Muhammad Fahrie, Ketua LTN PCNU Kabupaten Banjar & Pengurus PW IPNU Kalimantan Selatan


Penulis: Muhammad Fahrie