1717727643918uQqrTMXGIgvH

Mesjid Al-Karomah, sumber: destinasiwisata.banjarkab.go.id

Oleh : Ustadz Ali Husein

اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الْعَلِيمِ الْخَبِيرِ، السَّمِيعُ الْبَصِيرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللّٰهِ وَرَسُولُهُ، الْبَشِيرُ النَّذِيرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيرُ

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْفَضْلِ الْكَبِيرِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Saya berpesan kepada diri saya dan kepada kita semua, marilah kita bertakwa kepada Allah, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Ma’asyiral muslimin yang dirahmati Allah, akhir-akhir ini kita melihat bencana yang sangat mengerikan di banyak daerah. Kita melihat Aceh dan Medan dilanda musibah banjir bandang dan longsor yang menelan korban jiwa serta menghancurkan rumah dan sarana umum.

Sungguh ini peringatan Allah kepada kita semua. Ketika manusia zalim terhadap alam, maka alam akan membalas dengan kuasa Allah ﷻ karena segala yang terjadi tidak lepas dari ilmu, qudrat, dan iradah-Nya.

Baca juga: Khutbah Jum’at: Membangun Sumber Daya Manusia Unggul “Tanggung Jawab Setiap Muslim”

Bencana seperti ini bukan hanya bisa terjadi di Aceh dan Medan, tapi juga bisa terjadi di Kalimantan, tempat kita tinggal. Kita tahu Kalimantan adalah pulau yang kaya sumber daya alam.
Namun sayangnya, pertambangan kita meninggalkan banyak lubang menganga.

Buktinya, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mencatat pada tahun 2020 ada 3.092 lubang tambang yang belum direklamasi di Indonesia. Di Kalimantan Selatan saja, menurut Koordinator JATAM, terdapat 814 lubang tambang yang belum direklamasi.

Akibatnya?
Beberapa tahun ini kita sudah sering banjir, padahal dulu nenek dan datuk kita belum pernah mengalami seperti sekarang. Itu artinya alam kita sudah rusak parah.

Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الروم: ٤١)

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia. Allah menimpakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Al-Rum: 41)

Kerusakan alam bukan hanya takdir semata, tapi akibat pilihan manusia, karena itu Allah menggunakan kata بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ (karena hasil perbuatan manusia).

Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah mengajarkan bahwa:
– Semua perbuatan terjadi dengan ciptaan Allah
– Tapi kita yang memilih , kita yang berikhtiar (berusaha), kita yang mengambil keputusan untuk taat atau maksiat.
– Kita bukan Jabariyah yang hanya pasrah
– Bukan pula Qadariyah yang merasa berbuat tanpa Allah

Dan pilihan kita itulah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT

Allah berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Pada hari Kiamat Kami tutup mulut mereka, tangan mereka berbicara kepada Kami, dan kaki mereka menjadi saksi atas pilihan apa yang mereka lakukan.” (QS. Yasin: 65)

Kalau kita memilih merusak alam, maka itu akan menjadi beban besar di akhirat, menjadi dosa jariyah yang terus mengalir keburukannya jika tidak bertaubat.

Baca juga: Khutbah Jum’at: “Bahaya Ihtikar dalam Kehidupan Umat”

Ma’asyiral muslimin,
Jika ulah manusia yang membuat alam marah, maka kita jugalah yang harus taubat dan yang bisa memperbaikinya.

Apa yang harus kita lakukan dengan bertaubat?

Satu: Hentikan tambang ilegal, karena merusak alam akan banyak memakan korban, masyarakat harus melawan tambang dan penggundulan lahan.

Kami menasihati para penegak hukum yang punya ototritas: bersikaplah tegas kepada pelaku perusak alam, jangan diam apalagi pura-pura tidak melihat.

Dua: Ingat mati, ingat dosa jariyah

Siapa yang merusak alam, siapa yang punya otoritas untuk menghentikannya tapi malah membiarkan?

maka dosanya akan terus mengalir selama kerusakan itu ada.

Tiga: Pemerintah harus segera melakukan reklamasi
Perbaiki tanah yang sudah dilubangi, hijaukan kembali hutan yang ditebangi
agar alam kembali seperti sedia kala

Empat: Kita semua harus bertobat kepada Allah karena Allah hanya akan memperbaiki keadaan jika kita memperbaiki diri sendiri.
Dan jangan mudah menerima imbalan dari perusak alam.
Ini berlaku untuk semua pihak:
Para ulama, jangan mau dibeli suara fatwanya, para pejabat, jangan terima suap untuk izin tambang, para tokoh masyarakat dan warga, jangan ikut mendukung kerusakan

Kalau kita ikut merusak, atau mendukung yang merusak, maka dosanya akan melekat kepada kita sampai hari kiamat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

أما بعد
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا، وَرِزْقًا وَاسِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَحَلَالًا طَيِّبًا، وَتَوْبَةً نَصُوْحًا

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا هٰذِهِ إِنْدُونِيْسِيَا، وَخُصُوْصًا كَالِيمَانْتَانَ، وَأَرْضَ مَدَانَ Medan وَأَرْضَ Aceh مِنَ الْفِتَنِ وَالْبَلَايَا، وَالزَّلَازِلِ وَالْفَيَضَانَاتِ، وَسَائِرِ الْمَصَائِبِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ بِيئَتَنَا وَطَبِيْعَتَنَا، وَاجْعَلْهَا بَرَكَةً لَنَا وَلِأَوْلَادِنَا، وَأَعِنَّا عَلَى حِفْظِ نِعْمَتِكَ وَاِسْتِعْمَالِهَا فِي طَاعَتِكَ

اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِلْحَقِّ وَالْعَدْلِ، وَاجْعَلْهُمْ رُعَاةً صَالِحِيْنَ، وَاهْدِهِمْ وَاهْدِ بِهِمْ، وَاصْرِفْ عَنْهُمُ السُّوءَ وَأَهْلَهُ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.  فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ

Ustadz Ali Husein, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar & Komisi Fatwa MUI Kabupaten Banjar


Editor: Muhammad Fahrie