1717727643918uQqrTMXGIgvH

Mesjid Al-Karomah, sumber: destinasiwisata.banjarkab.go.id

Oleh: Ali Husein Al Idrus, S. pd
Wakil Ketua PCNU Kab. Banjar

Albanjari.com, Martapura

ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلْعَلِيمِ ٱلْحَكِيمِ، ٱلْخَبِيرِ ٱلْحَلِيمِ، أَمَرَ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ، وَنَهَىٰ عَنِ ٱلظُّلْمِ وَٱلطُّغْيَانِ

ٱللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُورِ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْيَقِينِ
وَعَلَىٰ آلِهِ ٱلطَّاهِرِينَ، وَصَحْبِهِ ٱلْغُرِّ ٱلْمَيَامِينَ
.وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ

:أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا ٱلنَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ ٱلْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ ٱللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَٱلْآخِرِينَ

أَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَانِ ٱلرَّجِيمِ

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Ma‘asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Hari ini kita berkumpul di awal-awal bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Ini menandai awal tahun baru 1447 Hijriyah.

Sebuah momen yang seharusnya tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga menjadi titik tolak untuk kita melakukan muhasabah diri, mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun ke belakang dan merancang langkah-langkah kebaikan di tahun yang baru ini.

Maka dari itu, mari kita jadikan kesempatan ini sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ketakwaan yang sejati bukan sekadar ucapan, tetapi harus tampak dalam tindakan nyata: menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Ma‘asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Di antara bentuk ketakwaan yang sangat penting untuk kita jaga dan amalkan di zaman ini adalah menjauhi perbuatan ihtikār, yakni menimbun barang kebutuhan pokok untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi, demi keuntungan pribadi, sementara masyarakat banyak menderita karenanya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Abidin Hasyiyahnya, Juz 6, hal. 398).

Lebih tegas lagi, Rasulullah ﷺ memperingatkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Hakim, dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Barangsiapa melakukan ihtikar menimbun barang dengan tujuan menaikkan harga atas kaum Muslimin, maka sungguh ia telah melakukan kesalahan.”
(HR. Ahmad)

Hadits ini menunjukkan bahwa ihtikār bukan sekadar perbuatan tercela, melainkan termasuk ke dalam dosa besar karena menyengsarakan umat. Menimbun barang kebutuhan pokok untuk dijual kembali dengan harga tinggi, terlebih saat masyarakat sangat membutuhkannya, adalah kezaliman yang nyata.

Fenomena ini hari ini begitu nyata di hadapan kita. Harga kebutuhan pokok naik tidak wajar. Bahkan gas LPG bersubsidi, yang seharusnya mudah dijangkau oleh masyarakat miskin, justru menjadi barang langka dan mahal. Mengapa?

Karena adanya praktik ihtikār. Segelintir orang menyimpan barang tersebut dalam jumlah besar, menahannya dari pasar, lalu menjualnya dengan harga tinggi ketika masyarakat kesulitan.

Perbuatan ini tidak hanya zalim di mata manusia, tapi juga haram dalam pandangan syariat. Hal ini pun telah ditegaskan dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Banjar Nomor 16 Tahun 2024, yang menyatakan haram hukumnya menimbun barang kebutuhan masyarakat untuk dijual kembali dengan harga tinggi.

Namun perlu dipahami, Yang diharamkan adalah ketika seseorang menjual barang bersubsidi, seperti gas LPG atau bahan pokok lainnya, dengan harga yang jauh melebihi batas kewajaran, melebihi sekadar upah lelah dalam menyalurkan atau keuntungan yang sewajarnya dalam berdagang.

Jika seorang penjual hanya mengambil keuntungan sesuai biaya operasional, transportasi, serta keuntungan kecil yang menjadi haknya dalam berdagang, maka hal itu tidak termasuk ihtikār dan tidak diharamkan. Namun, ketika harga dinaikkan secara berlebihan dengan memanfaatkan kelangkaan atau kesulitan masyarakat, maka inilah yang tercela dan diharamkan.

Ma‘asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua sebagai umat yang bertakwa untuk memahami hukum ihtikār (menimbun barang) dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Kesadaran ini tidak hanya harus dimiliki oleh konsumen, tapi juga oleh semua pihak yang terlibat dalam distribusi barang kebutuhan pokok, khususnya pangkalan, pengecer, penyalur, dan bahkan aparat desa. Mereka yang mendapat amanah dalam pendistribusian barang bersubsidi harus bertindak jujur, adil, dan tidak mencari keuntungan pribadi dengan mengorbankan rakyat kecil.

Demikian pula, pemerintah daerah tidak boleh abai. Mereka harus hadir secara nyata di tengah masyarakat, dengan membuat regulasi yang tegas, adil, dan berpihak kepada kepentingan umum, terutama dalam mengontrol harga di tingkat pengecer agar tetap wajar dan terjangkau.

Dalam hadits, Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mencakup semua pihak: dari pemimpin tertinggi hingga penjaga gudang pangkalan. Siapa pun yang mengatur dan memegang akses atas hajat hidup orang banyak akan ditanya oleh Allah tentang amanahnya.

الْـحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاهُ
أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ بتقوى الله ، اتَّقُوا اللَّهَ، فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
مَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ ٧

(QS. Al-Hasyr: 7)

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

:أَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ

وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ خصوصا من في فالسطين وغزة وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ في إسرائيل وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

عباد الله
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فاذْكُرُوا اللَّهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ