November 29, 2023
Tuan Guru Ahmad Bakeri/foto-facebook

Tuan Guru Ahmad Bakeri/foto-facebook

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Ulama kondang pendiri Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin Gambut, Tuan Guru H. Ahmad Bakeri memiliki sejumlah cerita menarik ketika menuntut ilmu.

Mengutip buku Otobiografi H. Ahmad Bakeri Jejak Sang Ulama & Da’i kondang dari Kota Seribu Sungai karya Drs, H. M. Abduh Amrie perjuangan Tuan Guru H. Ahmad Bakeri muda tidak semudah yang orang bayangkan.

Keinginannya menuntut ilmu di kota Martapura yang berjuluk Kota Serambi Mekkah tersebut sempat tertunda selama setahun karena alasan ekonomi yang tidak mampu.

“Akhirnya, tahun 1977 Tuan Guru H. Ahmad Bakeri berangkat juga ke Martapura. Itu pun sebelum berangkat, orang tuanya terpaksa harus merelakan sepeda Nortow tua milik keluarga satu-satunya untuk dijual,” tulis Drs, H.M. Abduh Amrie dalam bukunya.

Pada awalnya, keinginan Tuan Guru H. Bakeri ini tidak didukung oleh teman dan kerabatnya. Bahkan, ada yang mencemooh karena melihat keadaan ekonomi keluarganya yang sangat tidak mendukung.

Namun, karena memiliki tekad yang kuat, Tuan Guru H. Ahmad Bakeri tidak menghiraukan cemoohan tersebut.

“Segala apa yang diucapkan dan disarankan mereka hanya kuanggap sebagai bentuk kekhawatiran mereka saja. Khawatir, kalau tidak dapat menyelesaikannya,” kenang Guru Bakeri.

Tuan Guru Ahmad Bakeri muda sudah aktif berdakwah
Tuan Guru Ahmad Bakeri muda sudah aktif berdakwah

“Karena, bagaimanapun aku sadar betul bahwa kehidupan kami pada saat itu hanya pas-pasan. Dicari sehari makan sehari, bahkan kadang-kadang banyak kurangnya. Jadi, jangan pun nanti ayah dan ibu dapat membiayai sekolahku, untuk makan beliau bersama adik-adikku saja masih dalam kesulitan,” ujar Guru Bakeri dalam otobiografi tersebut.

Akhirnya, Tuan Guru Ahmad Bakeri pun tetap bertekad untuk  melanjutkan pendidikannya di Martapura walaupun sang ibu nampak berat melepaskan kepergiannya.

“Tetapi akhirnya, beliaun pun memberikan izin dan merestui keinginanku itu. Kata ibu saat itu:”Mun ikam asa yakin, tasarah ikamai, mama dan abah marastui haja dan mandu’akan mudah-mudahan ikam jadi urang ‘alim. Cuma ungkus sakulah kaina kada kaya urang pang, sababnya samana ading-ading ikam jua sakulah, jadi paksaai basasakitan”(Jika kamu sudah merasa yakin, terserah kamu saja. Ibu dan ayah merestui saja dan mendoakan mudah-mudahan kamu menjadi orang yang ‘alim. Cuma biaya sekolah nantinya tidak bisa seperti orang lain, sebab selain kamu, adik-adikmu perlu biaya sekolah juga, jadi terpaksa apa adanya),” cerita Guru Bakeri.

Pada detik-detik menjelang keberangkatan, Guru Bakeri muda mencium tangan sang ibu sambil meminta doa restu berkali-kali. Tak kuasa menahan air mata, sang ibu pun menderaikan air mata dan dari bibirnya terluncur doa untuk sang anaknya.

“Mudah-mudahan ikam jadi orang ‘alim. Hati-hati di banua urang, banyak-banyak sambahyang malam kaya abah ikam (mudah-mudahan kamu menjadi orang ‘alim, hati-hati di kampung orang, banyak-banyak sholat malam/ tahajjud seperti ayahmu,” ucap sang ibu yang bernama Hj. Sapura.

“Inggih maai, in syaa Allah,” jawab Guru Bakeri tesedu-sedu meneteskan air mata.

Dengan membawa 2 baju, satu buah celana panjang, satu buah sarung dan kopiah jangang, Tuan Guru Ahmad Bakeri berangkat dari kampung halaman menuju kota Martapura. Di pundaknya tampak karung tepung berisi beras setengah blik dan ikan kering sapat satu kilogram sebagai bekal di perantauan nanti.

Muhammad Abdillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *