
Hujan dimalam hari (Foto: Ahmad Mursyidi)
Albanjari.com – Hujan merupakan karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya di muka bumi yang selalu didambakan kehadirannya ketika kemarau melanda.
Tetapi, terkadang karunia itu tidak sesuai dengan harapan. Air hujan yang turun dari langit terkadang membawa bencana alam seperti banjir, longsor dan rusaknya fasilitas umum serta tempat tinggal.
Ada beberapa hal yang harus kita lakukan ketika hujan, awan hitam, mendung, petir, guntur dan angin besar (puting beliung) mulai melingkupi kawasan tempat tinggal kita agar semua itu menjadi rahmat dan karunia bukan sebaliknya menjadi bencana.
Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dalam beberapa riwayat dijelaskan ketika hendak terjadi hujan turun dan puting beliung selalu membaca doa atau melakukan sesuatu.
Imam Abu Bakr al-Thuthusyi al-Andalusi (450-520 H) merangkum riwayat-riwayat tersebut dalam kitabnya, “Ad-Du’a al-Ma’tsur wa Adabuhu wa Ma Yajibu ‘alad Da’i Itya’nuhu wa Ijtinabuhu” berikut ini :
1. Rasulullah menyingkap baju ketika hujan turun
Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah SAW menyingkap sebagian pakaiannya saat hujan turun agar rintik air hujan membasahi tubuh beliau.
Hal tersebut merupakan bentuk pengajaran bahwa hujan termasuk rahmat Allah SWT yang patut disyukuri. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mencatat sebagai berikut:
وروي مسلم في صحيحه، وأبو داود عن أنس قال: كان النبي صلي الله عليه وسلم إذا رأي المطر كشف ثوبه، وقال أبو داود: يحسر ثوبه عنه ثم اتفقا حتي أصابه، فقلنا: يا رسول الله، لم صنعت هذا؟ فال: لأنه حديث عهد برب
Artinya: “Diriwayatkan (Imam) Muslim dalam kitab Shahihnya, dan (Imam) Abu Dawud, dari Anas, ia berkata: “Nabi ketika melihat hujan, beliau membuka bajunya.” (Riwayat lain dari Imam) Abu Dawud, (Anas) berkata: “Nabi menyingkap pakaiannya hingga terkena guyuran hujan.” Kami berkata: “Ya Rasulullah, kenapa tuan berbuat seperti ini?” Rasulullah menjawab: “Karena hujan merupakan rahmat yang diberikan Allah.” (Imam Abu Bakar at-Thuthusyi Andalusi, Ad-Du’a al-Ma’tsur wa Adabuhu wa Ma Yajibu ‘alad Da’i Itya’nuhu wa Ijtinabuhu [Beirut: Darul-Kutub Ilmiyyah, 2002], halaman: 170).
Makna kalimat, “liannahu hadits ‘ahd bi rabbihi,” pada hadits di atas, menurut Imam al-Nawawi adalah:
معناه أن المطر رحمة وهي قريبة العهد بخلق الله تعالى لها فيتبرك بها وفي هذا الحديث دليل لقول أصحابنا أنه يستحب عند أول المطر أن يكشف غير عورته ليناله المطر
Artinya: “Maknanya, sesungguhnya hujan adalah rahmat, yaitu rahmat yang baru saja Allah Taala ciptakan, kemudian Rasulullah bertabarruk (mengambil berkah) dengan hujan tersebut. Hadits ini merupakan dalil untuk pendapat ashab syafi’iyah (mazhab syafi’i) bahwa sesungguhnya disunahkan di saat awal (turunnya) hujan untuk membuka (pakaian) selain aurat hingga terkena air hujan,”(Imam Yahya bin Syarraf an-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilimiyyah: 2017], juz 3, halaman: 173).
2. Membaca Doa ketika Melihat Awan Hitam
Rasulullah akan bergegas meninggalkan semua pekerjaannya ketika melihat awan hitam dan langsung membaca doa berikut ini :
وروت عائشة رضي الله عنها أن النبي صلي الله عليه وسلم كان إذا رأي ناشئا في أفق السماء ترك العمل, وإن كان في الصلاة ثم يقول: ((اللهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا)) فإن أمطرنا قال: (اللهُمَّ صَيِّبًا هَنِيْئًا)
Artinya: “Diriwayatkan Sayyidah Aisyah RA, sesungguhnya Nabi SAW ketika melihat awan hitam di langit, beliau langsung meninggalkan pekerjaan, meskipun beliau sedang melakukan shalat, kemudian berucap: Allahumma inni a’udzu bika min syarriha (ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan awan ini). (HR Imam Abu Dawud, Imam Ahmad, dan Imam Baihaqi)
Setelah melihat awan hitam kemudian turun hujan, beliau berucap”Allahumma shayyiban nafi’an (ya Allah turunkanlah hujan yang membawa manfaat dan kesenangan). (Imam Abu Bakar at-Thuthusyi Andalusi, Ad-Du’a al-Ma’tsur wa Adabuhu wa Ma Yajibu ‘alad Da’i Itya’nuhu wa Ijtinabuhu, [Beirut: Darul-Kutub Ilmiyyah, 2002], halaman: 170-171).
3. Doa saat Melihat Mendung
Melihat mendung di langit menjadi pengingat bagi seorang Muslim akan kekuasaan Allah SWT. Rasulullah SAW mencontohkan agar umatnya tidak lalai, melainkan memperbanyak doa saat tanda-tanda hujan mulai tampak, seraya memohon agar yang turun adalah rahmat dan bukan musibah. Sebagaimana hadits riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam an-Nasai:
وروي عن ابن المسيب أن رسول الله صلي الله عليه وسلم كان إذا رأي السحاب قال: (اللهُمَّ سَيْبَ رَحْمَةٍ وَلَا سَيْبَ عَذَابٍ)
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnul-Musayyab, sesungguhnya Rasulullah SAW ketika melihat awan bersabda: Allahumma saiba rahmatin wa lâ saiba ‘adzâbin (ya Allah, berikanlah rahmat dan jangan berikan azab). (Imam Abu Bakar at-Thuthusyi Andalusi, Ad-Du’a al-Ma’tsur wa Adabuhu wa Ma Yajibu ‘alad Da’i Itya’nuhu wa Ijtinabuhu, [Beirut: Darul-Kutub Al-Ilmiyyah, 2002], halaman: 170-171).
Doa saat melihat mendung mencerminkan sikap tawakal dan kehati-hatian seorang hamba. Dengan doa, kita berharap hujan membawa keberkahan, keselamatan, dan kebaikan bagi seluruh makhluk, serta dijauhkan dari segala bentuk bencana.
4. Sikap saat Melihat Angin Kencang
Saat melihat angin kencang, seorang Muslim dianjurkan untuk bersikap tenang dan penuh keimanan. Angin adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT yang bisa membawa rahmat, namun juga dapat menjadi ujian. Karena itu, sikap terbaik adalah memperbanyak doa, berlindung kepada Allah, serta meningkatkan kewaspadaan.
Dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad disebutkan sebagai berikut:
عن أبي هريرة قال: سمعت النبي صلي الله عليه وسلم يقول: الريح من روح الله تعالي تأتي بالرحمة وتأتي بالعذاب, فإذا رأيتموها فلا تسبوها واسألوا الله خيرها واستعيذوا بالله من شرها
Artinya: “Dari Sayyidina Abu Hurairah ra. beliau berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda: Angin adalah bagian dari pemberian Allah, bisa membawa rahmat dan juga bisa membawa azab. Jika kalian melihatnya, jangan mencelanya, mohonlah kepada Allah kebaikannya dan berlindunglah kepada Allah dari keburukannya. (Imam Abu Bakar at-Thuthusyi Andalusi, Ad-Du’a al-Ma’tsur wa Adabuhu wa Ma Yajibu ‘alad Da’i Itya’nuhu wa Ijtinabuhu, Beirut: Darul-Kutub Ilmiyyah, 2002, halaman: 171).
Melihat angin kencang hendaknya diiringi dengan dzikir, doa, dan ikhtiar menjaga keselamatan. Dengan iman dan kehati-hatian, seorang Muslim dapat menghadapi fenomena alam ini dengan bijak dan tawakal kepada Allah SWT.S
Selain doa-doa yang dibaca Rasulullah SAW ketika hujan, mendung, awan hitam dan angin kencang sebagaimana dirangkum oleh Imam Abu Bakar at-Thuthusyi, dalam riwayat lain juga dijelaskan bahwa Rasulullah SAW membaca bacaan khusus ketika hujan disertai petir, guntur, setelah hujan dan agar hujan berhenti berikut ini.
1. Doa Saat Hujan Disertai Petir dan Guntur
Hujan yang disertai petir dan guntur mengingatkan manusia akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dalam kondisi ini, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memperbanyak tasbih dan memohon perlindungan dari murka Allah.
Doa ketika petir berkilat diambil dalam Al Quran Surah Ar-R’ad ayat 13 dan hadist Imam Tirmizi, no. 2572 :
سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ
Artinya: “Maha Suci Allah, Dzat yang dengan memuji-Nya bertasbih halilintar dan para malaikat karena takut kepada-Nya.” (QS. Ar-R’ad dan HR Imam Tirmizi)
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dan ayahnya, Umar bin Al-Khattab RA bahwa Rasulullah SAW juga membaca doa ketika guntur menggelagar :
اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلَا تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ
Artinya: “Ya Allah, jangan Engkau binasakan kami dengan murka-Mu, jangan Engkau hancurkan kami dengan azab-Mu, dan berilah kami keselamatan sebelum demikian itu.” (HR. At-Tirmizi)
Doa ini mengajarkan agar setiap dentuman guntur dan kilatan petir tidak disikapi dengan rasa takut semata, tetapi dijadikan momen memperkuat tauhid dan memohon perlindungan Allah SWT.
2. Doa Setelah Hujan
Setelah hujan turun, Islam mengajarkan umatnya untuk mengakui bahwa hujan merupakan karunia dan rahmat dari Allah SWT, bukan semata-mata akibat sebab alamiah. Ini doa setelah hujan reda :
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Artinya: “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Muslim no.125)
Doa ini meneguhkan keimanan bahwa seluruh nikmat, termasuk hujan, datang semata-mata dari Allah SWT dan bukan karena kekuatan selain-Nya.
3. Doa Agar Hujan Berhenti
Ketika hujan turun terus-menerus hingga menimbulkan kesulitan, Rasulullah SAW mengajarkan doa agar hujan dialihkan tanpa menghilangkan keberkahannya. Ini doa yang dibaca :
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الأَكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di tempat-tempat tinggi, perbukitan, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan,” (HR Bukhari dan Muslim)
Doa ini mencerminkan keseimbangan ajaran Islam yaitu memohon agar hujan tetap membawa manfaat tanpa menimbulkan mudarat bagi kehidupan manusia.
Terus, bagaimana sikap seorang mukmin jika musibah tetap terjadi ?
Meski doa telah dipanjatkan dan ikhtiar telah dilakukan, terkadang Allah SWT tetap menurunkan musibah sebagai ujian keimanan dan sarana penghapus dosa.
Dalam kondisi seperti ini, Rasulullah SAW mengajarkan sabar, ridha, dan husnuzan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, sakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, bahkan tertusuk duri sekalipun, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya karenanya,” (HR Imam Bukhari, Sahih Bukhari, [Beirut: Darul Fikr: 1995] Juz IV, halaman 3, no. 5641 dan Imam Muslim)
Selain itu, dalam musibah Rasulullah SAW juga mengajarkan membaca:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantikan dengan yang lebih baik,” (HR Imam Muslim, Sahih Muslim, [Beirut: Darul Fikr: 1995] Juz I, halaman 404 no.918)
Dengan sikap ini, musibah tidak lagi semata dipandang sebagai bencana, tetapi sebagai jalan mendekat kepada Allah SWT, penguat solidaritas sosial, dan pengingat akan kefanaan dunia.
Semoga Allah SWT melindungi kita dan terhindar dari segala bencana, memberikan kekuatan saat diuji, dan menjadikan setiap peristiwa sebagai rahmat dan pelajaran serta dapat mengamalkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Amin.
Penulis : Ahmad Mursyidi, Wakil Ketua LTN PCNU Kab.Banjar 2025-2030








