IMG-20260110-WA0014

Albanjari.com, Martapura – Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Martapura menggelar Haul ke-49 KH Abdul Qadir Hasan (Guru Tuha) bertempat di sekretariat PAC GP Ansor Martapura, Desa Bincau, Minggu (4/1/2026).

Gelaran haul tersebut bertujuan sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan keteladanan beliau dalam bidang pendidikan, dakwah, dan keorganisasian Nahdlatul Ulama.

Adapun rangkaian acara tersebut, mulai dari pembacaan Surah Yasin, kemudian Maulid Habsy, tahlil, dan ditutup dengan doa bersama. Sedangkan pemandu acara adalah Guru Taufiqurrahman, diikuti oleh kader GP Ansor, Banser, serta masyarakat sekitar.

Sejumlah pengurus pun turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Edy Rosadi, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjar. Hadir juga beberapa jajaran pengurus PAC GP Ansor Martapura, diantaranya Wakil Ketua, Ketua MDS serta jajaran Satkoryon.

Baca juga: Cerita Tentang Ketawadhuan Guru Tuha

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjar, Edy Rosadi, menyampaikan apresiasi kepada PAC GP Ansor Kecamatan Martapura yang telah dua tahun berturut-turut melaksanakan Haul Guru Tuha. Ia juga menyebutkan bahwa sebelumnya haul serupa pernah dilaksanakan oleh Ranting GP Ansor Desa Bincau.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menginstruksikan kepada seluruh PAC GP Ansor se-Kabupaten Banjar untuk menggelar Haul Guru Tuha selama bulan Rajab. Sebagai wujud terima kasih dan komitmen kader Ansor dalam melanjutkan perjuangan dan nilai-nilai keilmuan yang telah diwariskan.

Kiprah dan Biografi Guru Tuha

Guru Tuha adalah panggilan masyarakat kepada Syekh Abdul Qadir Hasan. Ulama Kalimantan Selatan yang berperan penting dalam perkembangan Nahdlatul Ulama di tanah Banua. Bagaimana tidak, beliaulah yang mendirikan cabang NU di Kalimantan Selatan, lebih tepatnya di Martapura.

Beliau adalah putra dari H. Hasan, lahir pada tahun 1891 di Desa Tunggul Irang, Martapura.

Masa pendidikan beliau dimulai dengan berguru kepada sejumlah ulama besar Martapura, di antaranya Tuan Guru Kasyful Anwar, serta Tuan Guru Abdurrahman (Guru Adu). Atas arahan Tuan Guru Kasyful Anwar, Guru Tuha berangkat untuk menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Selain di Tebuireng, beliau juga menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil di Madura dan melanjutkan studi di Tanah Suci Makkah al-Mukarramah, tepatnya di Madrasah Salathiyah.

Sekembalinya dari menuntut ilmu, Guru Tuha mengabdikan diri sebagai pengajar di Pondok Pesantren Darussalam dan menjadi tangan kanan pimpinan pesantren. Setelah wafatnya Syekh Kasyful Anwar, beliau melanjutkan kepemimpinan Pondok Pesantren Darussalam pada periode 1940–1959.

Dalam bidang keorganisasian, Guru Tuha dikenal sebagai penggerak Nahdlatul Ulama di Kalimantan Selatan. Ia juga merupakan pionir forum musyawarah ulama yang menjadi cikal bakal kegiatan Bahtsul Masa’il di Kalimantan Selatan.

Guru Tuha aktif mengirim guru-guru Darussalam ke berbagai daerah untuk mengajar, berdakwah, serta mendirikan madrasah dan pesantren. Hal ini menjadikan Pondok Pesantren Darussalam memiliki jaringan pendidikan yang sangat luas di Pulau Kalimantan.

Pada masa pendudukan Jepang, beliau tetap mempertahankan kegiatan belajar-mengajar dengan sistem pengajaran yang dilaksanakan di rumah-rumah guru hingga Jepang meninggalkan Martapura.

Selain berdakwah dan mengajar, Guru Tuha juga produktif dalam menulis. Diantara karya tulis beliau iyalah kitab Mir’atut Thullab, yang membahas adab-adab seorang santri.

Beliau wafat pada hari Sabtu, 17 Juni 1978, dan dimakamkan di kompleks kubah Jalan Masjid Agung Al-Karomah, Pasayangan, Martapura. Untuk mengenang jasanya, nama beliau diabadikan sebagai nama masjid di Desa Kiram, Kalimantan Selatan.

Perjuangan keilmuan beliau terus berlanjut hingga kini, diteruskan oleh para dzuriyahnya. Di antaranya ialah Tuan Guru Muhammad Zaki, Lc. Aktif sebagai pengajar Pondok Pesantren Darussalam, juga aktif di PCNU Kabupaten Banjar sebagai jajaran Syuriah.

Peringatan Haul ke-49 ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi sejarah, spiritualitas, dan keteladanan bagi generasi muda Nahdlatul Ulama. Sekaligus memperkuat komitmen GP Ansor dan Banser dalam melanjutkan perjuangan ulama Banua.


Kontributor: Edi Rosyadi                  Editor: Muhammad Fahrie