WhatsApp Image 2025-05-29 at 19.17.35

Suasana Pembacaan Syair Syeikh Samman Al Madani diiringi Penapakan Terbang Besar. Foto/Ahmad Mursyidi

Albanjari.com, Martapura – Martapura, kota yang terkenal dengan tradisi religiusnya, menjadikan tempat istimewa bagi peringatan haul seorang wali besar: Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman Al-Madani. Haul ini bukan sekadar acara tahunan, tapi juga momen memperkuat kecintaan kepada ulama dan memperdalam nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan umat Islam.

Syekh Samman dan Warisan Spiritualnya

Syekh Samman adalah seorang ulama dan sufi besar asal Madinah, pendiri Thariqah Sammaniyah yang terkenal dengan kekuatan dzikir, muraqabah (kesadaran hati), dan mahabbah (cinta kepada Allah dan Rasul). Murid-muridnya berasal dari berbagai penjuru dunia Islam, termasuk dari Nusantara terutama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Kalimantan Selatan, yang kemudian meneruskan ajaran beliau di tanah Banjar.

Jejak Syekh Samman di Martapura

Di Martapura, pengaruh Syekh Samman hidup dalam berbagai tradisi, majelis dzikir, hingga pengamalan tarekat. Setiap tahun, masyarakat berkumpul memperingati haul beliau. Selain dzikir dan tahlil, dua tradisi utama yang sangat menonjol adalah pembacaan manaqib dan penampilan terbang besar.

Pembacaan Manaqib: Menghidupkan Keteladanan Ulama

Salah satu inti dalam haul Syekh Samman adalah pembacaan manaqib yang berisi kisah kehidupan, keutamaan, dan karamah beliau. Dalam suasana khidmat, para jemaah mendengarkan kisah perjalanan ruhani Syekh Samman, bagaimana beliau menuntut ilmu, membina murid, hingga mencapai maqam tinggi dalam tasawuf.

Pembacaan manaqib bukan sekadar cerita, melainkan sarana menghidupkan cinta kepada wali-wali Allah. Dalam kisah itulah tertanam pelajaran akhlak, semangat menuntut ilmu, dan perjuangan menegakkan agama dengan kelembutan.

Menapuk Terbang Besar: Tradisi Musik Religi yang Menggetarkan

Momentum haul Syekh Samman di Martapura biasanya diiringi dengan penampilan terbang besar yaitu alat musik rebana tradisional berukuran besar yang ditabuh secara berkelompok sambil melantunkan syair-syair pujian kepada Allah, Rasulullah dan Syeikh Semman. Tradisi ini disebut juga “menapuk terbang” dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Islam Banjar.

Alunan terbang yang menghentak dan irama puji-pujian menciptakan suasana spiritual yang mendalam. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi bagian dari dzikir berjamaah yang menggugah hati dan menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah dan para kekasih Allah.

Keteladanan Syekh Samman untuk Kehidupan Modern

Apa yang bisa kita teladani dari Syekh Samman dalam kehidupan saat ini?

1. Menghidupkan dzikir dan manaqib di rumah tangga
Dzikir bukan hanya ritual, tapi jalan untuk menenangkan hati. Membaca manaqib juga bisa menjadi cara mendidik anak-anak mengenal ulama.

2. Menjaga adab dalam bersosial
Ajaran tasawuf Syekh Samman sangat menekankan akhlak mulia—bersikap sopan, sabar, dan menjaga hati dari dengki dan sombong.

3. Melestarikan seni Islam tradisional
Tradisi menapuk terbang besar adalah bentuk ekspresi cinta kepada agama. Generasi muda perlu didorong untuk mempelajari dan meneruskannya sebagai warisan budaya Islami.

4. Mencintai ulama dan meneladani jalan mereka
Cinta kepada ulama bukan pengkultusan, tapi bentuk penghormatan kepada pewaris ilmu Nabi. Ini penting sebagai benteng dari kehilangan arah spiritual dalam hidup modern.

Penutup

Haul Syekh Samman adalah warisan yang di dalamnya menyatu antara dzikir, manaqib, seni tradisi Islam, dan cinta kepada wali Allah. Meneladani Syekh Samman berarti menghidupkan nilai-nilai itu dalam kehidupan pribadi dan sosial: dengan dzikir yang tulus, akhlak yang lembut, dan budaya yang mendekatkan pada Allah.

Mari kita jadikan haul ini bukan hanya sebagai seremoni tahunan, tapi juga cermin untuk memperbaiki hati, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menjaga warisan Islam yang penuh cinta dan kearifan.

 

Penulis: Ahmad Mursyidi