Juni 15, 2024

ALBANJARI.COM, MARTAPURA –  Seorang santri sudah selayaknya memiliki adab agar mendapatkan keberkahan dari ilmu yang dituntutnya. Tidak hanya tentang beradab terhadap guru, seorang santri pun harus memiliki adab terhadap dirinya sendiri, apa saja itu?.

Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari mengatakan ada 10 macam adab yang harus dilaksanakan oleh seorang penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri, yaitu;

  1. Hendaknya menyucikan hatinya dari segala sesuatu yang mempunyai unsur penipuan, kotoran, rasa dendam, hasud, keyakinan yang jelek, dan budi pekerti yang tidak baik, hal itu dilakukan agar ia pantas untuk menerima ilmu, menghafalnya, meninjau kedalaman maknanya dan memahami makna yang tersirat di dalamnya.
  2. Harus memperbaiki niat dalam mencari ilmu yaitu dengan tujuan untuk menjadi ridha Allah Ta’ala serta mampu untuk mengamalkannya, menghidupkan syariat silam, untuk menerangi hati, untuk menghiasi bathin dan mendekatkan diri kepada Allah serta tidak bertujuan untuk memperoleh tujuan duniawi seperti ingin menjadi pimpinan, mencari jabatan, mencari harta, mengalahkan teman saingannya dan tujuan lain seperti ingin dihormati masyarakat dan ingin menjadi bahan perhatian dalam sebuah majelis dan lain sebagainya.
  3. Harus berusaha sesegera mungkin memperoleh ilmu di waktu masih muda dan sisa umurnya, jangan sampai tertipu dengan menunda-nunda belajar dan terlalu banyak berangan-angan, karena setiap jam akan melewati umurnya yang tidak mungkin akan diganti maupun ditukar.
  4. Harus menerima apa adanya baik makanan, atau pakaian yang mudah ia dapat dan sabar atas kehidupan yang berada di bawah garis kemiskinan yang ia alami ketika masa mencari ilmu. Imam As Syafi’i berkata: “Tidak akan beruntung orang yang mencari ilmu apabila disertai dengan kemuliaan diri dan kehidupan yang serba cukup, akan tetapi orang yang mencari ilmu dengan perasaan hina, kehidupan yang sulit, berkhidmah dengan ulama dialah orang yang bisa beruntung.
  5. Pelajar harus bisa membagi seluruh waktu malam dan siangnya dan menggunakan kesempatan dari umurnya, sebab yang paling ideal dan baik digunakan oleh pelajar adalah waktu sahur untuk menghafal, waktu pagi untuk membahas pelajaran, waktu tengah hari untuk menulis, waktu malam untuk meninjau ulang dan mengingat pelajaran. Sedangkan tempat yang paling baik digunakan untuk menghafal adalah di dalam kamar dan setiap tempat yang jauh dari perkara yang membuat lalai.
  6. Harus mempersedikit makan dan minum karena apabila perut dalam keadaan kenyang, maka akan menghalangi semangat ibadah dan badan menjadi berat. Salah satu manfaat dari mempersedikit makan adalah badan menjadi sehat dan mencegah penyakit tubuh. Karena penyebab datangnya penyakit adalah banyak makan dan banyak minum.
  7. Harus mengambil tindakan terhadap dirinya dengan sifat wara’ (menjaga diri) serta berhati-hati dalam setiap keadaan, memperhatikan kehalalan baik itu berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan sesuatu yang ia butuh kan agar hatinya terang dan pantas untuk menerima ilmu, cahaya ilmu dan mengambil kemanfaatannya. Seyogyanya penuntut ilmu juga menggunakan rukhsah (keringanan) pada tempatnya ketika diperlukan baginya dan juga karena ada sebab-sebabnya.
  8. Harus mempersedikit makanan yang menjadikan sebab tumpulnya otak dan lemahnya Panca indra seperti buah apel yang masam, kacang sayur, minum cuka, begitu juga makanan yang menimbulkan banyak dahak yang mempertumpul akan pikiran dan memperberat badan seperti terlalu banyak minum susu, makan ikan dan yang lain sebagainya. Seyogyanya juga ia menjauhi hal-hal yang menyebabkan lupa seperti memakan makanan yang telah dimakan tikus, membaca tulisan di batu nisan kubur, masuk di antara dua ekor unta yang ditarik dan membuang kutu dalam keadaan hidup-hidup.
  9. Harus berusaha mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Jam tidur tidak boleh melebihi dari 8 jam sehari semalam. Dan itu sepertiga dari waktu satu hari. Jika keadaannya memungkinkan untuk beristirahat kurang dari sepertiga nya, maka lakukanlah. Apabila ia merasa terlalu lelah, maka tidak ada masalah untuk memberikan kesempatan beristirahat terhadap dirinya, hatinya, dan penglihatannya dengan cara mencari hiburan , bersantai ke tempat rekreasi sekiranya pulih kembali keadaannya dan tidak menyia-nyiakan waktunya
  10. Harus meninggalkan pergaulan karena meninggalkannya jauh lebih penting dilakukan bagi penuntut ilmu, apalagi bergaul dengan lawan jenis, khususnya jika terlalu banyak bermain dan sedikit menggunakan akal pikiran, karena watak dari manusia adalah banyak mencuri kesempatan. Bahaya pergaulan adalah menyia-nyiakan umur tanpa guna dan berakibat hilangnya agama, apabila bergaul dengan yang bukan ahli gama. Jika ia membutuhkan orang yang bisa menemaninya maka orang itu harus saleh, kuat agamanya, takut kepada Allah, wara’, bersih hatinya, banyak berbuat kebaikan, sedikit berbuat kejelekan, memiliki harga diri yang baik, sedikit perselisihan. Jika ia lupa, maka temannya mengingatkannya dan bila ia ingat maka temannya membantunya.

Demikianlah 10 etika seorang penuntut ilmu yang dikutip dari Kitab Adabul ‘Alim wal Muata’llim karya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Semoga bermanfaat, Wallahu A’lam bis showab

Penulis: Muhammad Abdillah, Santri PP. Darussalam Martapura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *