IMG-20251227-WA0032

Abdillah saat menjadi relawan banjir di Martapura 2021 (foto: istimewa)

Albanjari.com – Banjir dan Banjar, kata ini terkesan mirip. Lebih lagi ketika tahun 2021 terjadi musibah banjir besar yang menenggelamkan beberapa wilayah di Kabupaten Banjar, khususnya Kota Martapura.

Selama satu minggu berturut-turut hujan turun tak henti-henti, ada berita jembatan putus yang mana saat itu Tuan Guru KH. Hasanuddin Badruddin Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan mobil pribadi sepulangnya beliau dari sebuah acara di daerah Hulu Sungai.

Sebagai seorang santri, kala itu terkejut lah kami karena Ayah pimpinan kami terjebak. Lantas tiba-tiba air masuk ke bagian dalam Asrama lantai bawah. Dan akhirnya teman-teman kami mengungsi ke kamar lantai atas. Kemudian penerangan menghilang dan wilayah Martapura yang terdampak banjir tidak dapat menikmati cahaya lampu listrik.

Baca juga: Sumatra: Alam dan Keserakahan Penghuninya, Sebuah Refleksi

Tindakan apa yang bisa kami lakukan? Berusaha bertahan sebaik mungkin, apa yang bisa dikerjakan, kami lakukan dan menyelamatkan barang-barang berharga yaitu Kitab Kuning dari air banjir.

Melihat suasana sekarang, saat terjadi musibah banjir di pulau sebrang tepatnya di Sumatra, kami turut prihatin dan berduka atas musibah tersebut. Dan ikut serta berempati karena banjir tersebut lebih besar dari yang terjadi di tahun 2021 di Kabupaten Banjar.

Namun, ada sesuatu yang menarik terjadi. Disaat Banjir, terlihat tidak ada raut sedih di wajah anak-anak, semua tersenyum karena mendadak mendapatkan wisata air gratis. Tapi bukan itu yang akan menjadi bahasan dalam tulisan ini.

Baca juga: Ketika Banjir Datang: Renungan Iman, Lingkungan, dan Solidaritas NU

Sikap dari warga Martapura khususnya, ketika mendapatkan musibah tersebut tidak ada sama sekali terjadi penjarahan toko, pemalakan bantuan di tengah jalan. Tapi malah saling membantu menyelamatkan satu sama lain. Mereka yang tidak terlalu terdampak maupun yang terdampak tapi tidak parah sigap sedia membantu memasak, membantu mengevakuasi barang, membantu pengobatan untuk mereka yang memang sangat perlu bantuan.

Kiriman bantuan berdatangan dari semua wilayah yang merasakan keberkahan Kota Martapura terlebih saat disambut ketika momentum Haul Abah Guru Sekumpul. Pemurahnya warga Martapura dibalas kembali oleh mereka yang pernah hadir turut serta dalam acara religius tersebut.

Saat ini pun sama, menjelang hari H Momment 5 Rajab atau Haul ke-21, suasana Martapura tidak baik-baik saja. Beberapa pemukiman terendam, namun warganya dengan bahagia menyambut tamu-tamu dari jauh yang ingin mendapatkan keberkahan Sahibul Haul.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari warga Martapura, saat terjadi musibah adalah lapang dada dalam menerima takdir. Namun, tetap saja upaya pencegahan bencana dengan menjaga alam tetaplah harus terlaksana. Karena tidak mungkin banjir datang tiba-tiba hanya karena perbuatan seksual yang menyimpang dari seseorang manusia.

Muhammad Abdillah, Mahasiswa Semester 5 STIT Syekh Muhammad Nafis Tabalong, Alumni PP. Darussalam Martapura


Penulis: Muhammad Abdillah        Editor: Muhammad Fahrie