
Satkorcab Banser Banjar dan Tanah Bumbu Ziarah ke Makam Guru Tuha
Albanjari.com, Martapura – Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Banjar bersama rombongan Banser Kabupaten Tanah Bumbu melaksanakan ziarah ke makam Guru Tuha KH Abdul Qadir Hasan pada Senin, (29/12/2025 ) di Jalan Masjid Agung Al-Karomah, Desa Pasayangan Utara, Martapura yang dipimpin langsung oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjar, Edy Rosadi.
Rangkaian ziarah berlangsung khidmat dan penuh ta’dzim, diawali dengan pembacaan salam ziarah, tahlil, sholawat, dan doa bersama. Seluruh peserta tampak khusyuk mendoakan pendiri ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah di Kalimantan tersebut.
Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Guru Shodiq Wadie, cucu dari Tuan Guru KH Abdul Qadir Hasan (Guru Tuha). Pada kesempatan tersebut, beliau mengajak seluruh rombongan untuk menyanyikan lagu Subhanul Wathon (Yalal Wathon) yang dikenal sebagai lagu kebanggaan warga Nahdlatul Ulama. Lagu ini dinyanyikan bersama dan menambah semangat kebersamaan para kader.
Usai pelaksanaan ziarah, rombongan dijamu makan oleh Guru Shodiq Wadie. Pada momentum tersebut, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjar, Edy Rosadi, memohon doa khusus untuk kemajuan organisasi GP Ansor di Kabupaten Banjar. Beliau juga meminta air doa yang akan digunakan pada prosesi pembaiatan peserta PKD dan Diklatsar Ansor–Banser. Permohonan serupa turut disampaikan oleh Kasatkorcab Banser Kabupaten Tanah Bumbu, Ishladuddin, untuk kebutuhan kegiatan Banser di wilayahnya.
Dalam sambutannya, Edy Rosadi menegaskan pentingnya bagi seluruh kader NU, khususnya Ansor dan Banser, untuk senantiasa menyambung sanad perjuangan dengan para pendiri NU di Kalimantan.
“Sudah sepatutnya kita memperbanyak doa, tahlil, sholawat, dan menghadiahkan bacaan Al-Qur’an kepada Guru Tuha KH Abdul Qadir Hasan. NU berkembang luas di Kalimantan tidak lepas dari jasa dan perjuangan beliau,” ujarnya.
Sementara itu, Kasatkorcab Banser Kabupaten Tanah Bumbu, Ishladuddin, menyampaikan rasa bahagianya dapat mengikuti ziarah tersebut.
“Ini merupakan kunjungan pertama saya ke makam Guru Tuha. Bahkan seluruh rombongan Banser Tanah Bumbu yang hadir juga baru pertama kali berziarah ke sini. Masih banyak kader Banser di Tanah Bumbu yang belum mengetahui sosok dan lokasi makam beliau,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan ziarah ini dapat menumbuhkan rasa hormat dan kecintaan kader Banser kepada para pendiri NU.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua PAC GP Ansor Mentewe yang menyatakan bahwa pihaknya akan menjadikan ziarah ke makam Guru Tuha sebagai agenda rutin setiap kali berkunjung ke Martapura, sebagai bentuk penghormatan kepada ulama.
Sementara itu, Wakasatkorcab Banser Kabupaten Banjar, Royani, menegaskan bahwa ziarah memiliki nilai spiritual dan pendidikan organisasi.
“Ziarah bukan sekadar ritual, tetapi menjadi sarana menumbuhkan kesadaran historis kader terhadap perjuangan ulama. Dengan demikian, kader—khususnya generasi muda—dapat meneladani akhlak, keikhlasan, serta semangat pengabdian mereka,” ujarnya.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan tertib. Rombongan berharap keberkahan doa para ulama dapat menjadi kekuatan moral bagi kader Ansor dan Banser dalam melaksanakan pengabdian kepada agama, bangsa, dan organisasi.
Baca juga: Gedung NU Tanah Bumbu Diresmikan, Gus Kautsar Tekankan Harmoni Ulama dan Umara
Biografi Singkat Guru Tuha KH Abdul Qadir Hasan
KH Abdul Qadir Hasan, atau dikenal sebagai Guru Tuha, merupakan ulama besar asal Martapura, Kalimantan Selatan. Beliau dikenal sebagai pendiri cabang Nahdlatul Ulama pertama di luar Pulau Jawa, yang didirikan di Martapura. Guru Tuha juga merupakan murid langsung Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama di Jawa Timur.
Beliau memulai pendidikan agama dari para ulama lokal di Martapura, kemudian melanjutkan pengajian ke Jawa dan Tanah Suci, termasuk belajar di Pesantren Tebuireng, Jombang, dan Makkah. Guru Tuha pernah memimpin Pondok Pesantren Darussalam Martapura, membimbing banyak santri dan menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di seluruh Kalimantan.
Guru Tuha wafat pada 17 Juni 1978 dan dimakamkan di kawasan Masjid Agung Al‑Karomah, Martapura, yang hingga kini menjadi pusat ziarah dan penghormatan oleh masyarakat serta para kader NU.
Editor : Ahmad Mursyidi






