
Fotocopy mansukrip kitab Riyadul Jannah (foto: pribadi)
Albanjari.com – Sudah sejak dulu Martapura dikenal sebagai kota ulama. Hal tersebut dapat kita lihat dari banyaknya makam ulama dan nama-nama yang masyhur sejak abad ke-18 hingga sekarang.
Sebut saja Syekh Arsyad, siapa yang tidak kenal dengan ulama yang satu ini. Meski Syekh Arsyad dikenal sebagai ulama awal-awal di tanah Banjar, bukan berarti sebelum periodenya tidak ada ulama.
Bahkan, ulama di Banjar sudah ada sejak masa Kesultanan Banjar periode awal ketika Istana dan Ibu Kota masih berada di Kuin, Banjarmasin.
Namun, Syekh Arsyad seolah membuka jalur transisi menjamurnya ulama di Martapura. Hal tersebut bisa kita saksikan sendiri, Syekh Arsyad bagaikan induk dari ulama yang ada di Kalimantan, terkhusus Kalimantan Selatan.
Bukan hanya regional Kalimantan saja, zuriyatnya tersebar ke seluruh penjuru nusantara hingga manca negara. Ada di Malaysia, ada di Brunei, Filipina, Arab Saudi dan lain sebagainya.
Tuan Guru Hatim Salman pernah menceritakan bahwa semua anak Syekh Arsyad yang laki-laki pasti Alim. Tidak sampai di situ saja, beliau melanjutkan: semua cucu Syekh Arsyad yang laki-laki pasti alim. Kalo buyut, ada yang alim ada yang kada.
Itu artinya minimal dalam tiga generasi setelahnya, Syekh Arsyad selalu mengkader anak cucunya dan melahirkan banyak ulama. Cerita tersebut didapatkan Tuan Guru Hatim dari ayahnya yaitu Tuan Guru Salman Jalil.
Namun, dari sekian banyak ulama yang lahir di Martapura, ada satu nama yang sering terlewatkan. Meski kredibilitas keilmuannya tidak bisa dianggap enteng, karyanya pun juga tidak kalah mentereng, yaitu Syekh Abdullah Khatib bin Syekh Muhammad Soleh al-Banjari.
Syekh Abdullah Khatib adalah salah seorang ulama dari sekian banyak ulama di Martapura. Yang membedakannya dari ulama lain di Martapura adalah produktifitasnya dalam menulis karya.
Setidaknya, ada sembilan karya yang pernah ditulisnya semasa hidupnya. Diantara karyanya yang paling populer adalah “Riyadul Jannah”. Bagaimana tidak, kitab ini merupakan hadiah yang ia buatkan khusus untuk putrinya yang bernama Miftahul Jannah.
Memang, diantara kebiasaan khas ulama yang satu ini ialah pembuatan karya tulisnya diperuntukkan kepada anak-anaknya. Hampir semua karya tulisnya merupakan hadiah yang ia berikan kepada anak-anaknya.
Menurut informasi yang penulis terima, bahwa semua anaknya, mempunyai karya tulis yang dibuatkan khusus oleh ayahnya, yaitu Syekh Abdullah Khatib.
Selain Riyadul Jannah, ia juga menulis kitab “Malbasut Tasawuf” yang ia hadiahkan kepada putranya yang bernama Muhammad Basyuni.

Dari informasi yang penulis temui, bahwa Muhammad Basyuni adalah orang yang alim. Beliau seorang pengajar di Pondok Pesantren Darussalam periode awal bersama Tuan Guru Kasyful Anwar. Cerita ini disampaikan Tuan Guru Munawir saat beliau mengisi tausiah di haul Syekh Abdullah Khatib ke-105 pada tahun 2025 lalu.
Dari sini kita dapat melihat bagaimana karakter Syekh Abdullah Khatib dan bagaimana pandangannya terhadap Ilmu. Ia tidak memberikan dan menjanjikan apa-apa kepada anak-anaknya, ia memberikan karya tulis.
Inilah diantara yang membedakan antara dirinya dengan ulama lain. Karakter langka ini lah yang membuat orang yang mengenalnya akan mudah mengaguminya.
Syekh Abdullah Khatib tidak meninggalkan apa-apa yang bersifat duniawi, ia meninggalkan karya yang akan abadi di hati para pecintanya.
Namun demikian, sejauh pengetahuan penulis, kitab Riyadul Jannah maupun Malbasut Tasawuf masih berbentuk manuskrip. Kitab yang penulis temui pun merupakan kopian (foto copy) dari manuskrip.
Hingga saat ini, kitab-kitab karya Syekh Abdullah Khatib belum ada yang mengetik ulang ataupun menerbitkannya. Bahkan, penulis masih belum menemukan karya-karya beliau yang lain selain Riyadul Jannah dan Malbasut Tasawuf.

Harapannya, semoga nanti ada di antara zuriyat beliau yang mengetik ulang kemudian menerbitkannya. Agar warisan emas tersebut tetap terjaga dan lestari, tidak hilang ditelan zaman.
Riyadul Jannah merupakan kitab yang memuat pembahasan tentang aqidah dan fikih. Ditulis dengan aksara arab berbahasa melayu, kitab ini memiliki ciri khas tersendiri, meski tidak jauh dengan gaya penulisan kitab Sabilal Muhtadin.
Mas’alah-mas’alah yang termuat dalam kitab itupun terbilang rinci, hal demikian dapat kita lihat dari susunan pembahasan yang beliau uraikan.
Setebal lebih dari 600 halaman, kitab ini tidak hanya menampilkan tulisan-tulisan belaka, melainkan dilengkapi dengan gambar ilustrasi konsep tentang beberapa persoalan.
Semisal pembahasan tentang arah kiblat dan waktu shalat. Dalam kitab tersebut Syekh Abdullah Khatib menerangkan cukup rinci tentang cara mengetahui arah kiblat dan waktu shalat.
Berbeda dengan kitab-kitab lain yang ditulis ulama Martapura, semisal kitab Sabilal Muhtadin dan Perukunan yang hanya berfokus pada fikih ibadah saja. Riyadul Jannah memuat pembahasan selain bab ibadah, seperti jual beli dan riba.
Dalam kitab tersebut, Syekh Abdullah Khatib selalu mengkhitab anak dan keluarganya. Seperti: ketahuilah wahai anakku dan keluargaku. Khitab tersebut selalu ada hampir di semua bab.
Untuk resensi kitab Riyadul Jannah, insya Allah akan penulis buatkan tulisan khusus secara terpisah khusus membahas isi kitab tersebut.
Kitab Riyadul Jannah selesai ditulis pada hari Kamis, 15 Rabiul Awal 1312 Hijriah, berbetulan dengan tahun 1894 Masehi. Saat selesai penulisan kitab tersebut, usia beliau ± 37 tahun.
Tidak banyak yang mampu penulis uraikan dalam tulisan ini, semoga ini menjadi bukti kekaguman penulis kepada ulama cicit Syekh Arsyad tersebut.
Penulis: Muhammad Fahrie








