Mei 27, 2024
Ustadz Taufiq bersama Gus Amak Mujiz JRA Pusat

Ustadz Taufiq bersama Gus Amak Mujiz JRA Pusat

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Ustadz Taufiq Rahman, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Jam’iyyah Ruqyah Aswaja  An Nahdliyah (JRA) Kalimantan Selatan memberi komentar mengenai kejadian viralnya Pesulap Merah vs Gus Samsudin yang sedang menjadi buah bibir netizen di jagad maya.

Ia menjelaskan dirinya meyakini bahwa ilmu hikmah itu memang ada, tetapi hanya berada di tangan orang sholeh yang wara’ dan benar-benar menjaga ibadahnya.

“Mengenai berita yang lagi viral sekarang, maka kami wakil ketua Jamiyah Ruqyah Aswaja Annahdiyyah sedikit berkomentar, bahwasanya kami meyakini yang namanya ilmu hikmah itu ada namun, ini berada ditangan-tangannya orang yang sholeh, orang-orang yang wara’, orang yang menghindari dari perbuatan kekejian dan kemaksiatan, orang yang benar-benar menjaga ibadahnya,” jelas Ustadz Taufiq.

Ustadz Taufiq mengatakan, orang sholih yang wara’ dan derajatnya tinggi disisi Allah tidak mustahil mendapatkan keistimewaan yang biasa disebut dengan ma’unah.

‘Maka orang sholih, yang derajatnya tinggi di sisi Allah, ia berusaha bertaqwa kepada Allah menjauhi daripada segala larangannya tidak kemungkinan mereka-mereka itu akan diberikan oleh Allah swt maunah atau bantuan dari Allah sehingga apa yang didoakannya menjadi mustajabah, apa yang didzikirkannya menjadi manfaat kepada orang lain,” ujarnya.

“Namun, perlu kita garis bawahi, bahwasanya ini ada ditangan-tangan orang yang wara’, orang yang sholeh, orang yang benar-benar menjaga ketaatan kepada Allah dan kepada Rasulullah,” tegasnya.

Yang kedua, sambungnya, jika kelebihan itu ada pada para nabi dan rasul maka itu disebut dengan mukjizat dan kepada wali maka itu disebut dengan karamah.

“Jika praktek-praktek itu di tangan orang yang benar menjalankan agamanya menurut ilmu yang benar,maka itu akan mendapat ma’unah dan karamah,” kata Ustadz Taufiq.

“Tapi jikalau ia seorang yang tidak berilmu atau ilmunya tidak benar, ilmunya masih dangkal, lalu bagaimana ia mengamalkan ilmu itu dengan amalan-amalan yang benar? Tentunya mungkin bisa menjadi kekhilafan dan kesalahan bagi pengamalnya sehingga mendapat istidraj atau lanjuran dari Allah,“ jelas Ustadz Taufiq.

Ustadz Taufiq bersama Kyai Imron Rosyidi
Ustadz Taufiq bersama Kyai Imron Rosyidi Founder KBRA

Apalagi jika praktek pengobatan itu dicampur dengan penipuan, jelaslah dalam islam tidak dibenarkan. Karena itu ranahnya menipu, dan menipu itu pasti nanti tujuannya untuk mendapatkan uang yang banyak.

“Kalau orang yang benar-benar ikhlas, jika orang berobat kepadanya, dia tidak bertarif dan seikhlasnya,” kata Pengajar Pondok Pesantren Darul Ilmi, Banjarbaru ini.

Mengenai Pesulap Merah, Ustadz Taufiq mengapresiasi keberaniannya dalam membongkar kedok penipuan dunia perdukunan tersebut. Tetapi, Ustadz Taufiq mengkritik dari segi adabnya saja.

“Mengenai pesulap merah, kita juga apresiasi keberaniannya membongkar penipuan-penipuan, dari segi itu kita apresiasi. Namun dari segi adabnya juga harus kita jaga sebagaimana menegur orang selayaknya tanpa diviralkan dulu. Karena ini memang zamannya medsos. Jikalau tujuannya ini ingin membongkar penipuan, maka ini bagus, karena dia mencerahkan dan menerangkan apa-apa yang orang tidak tahu menjadi tahu,” jelas Ustadz Taufiq.

Ustadz Taufiq mewanti-wanti jika ia mengatakan atau memiliki keyakinan yang ghaib itu tidak ada, sihir itu tidak ada, maka ini bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

“Jika ia mengatakan yang ghaib itu tidak ada, sihir itu tidak ada, pastilah ini bertentangan dengan syariat. Tetapi jika ia masih mengatakan sihir itu ada, hal yang ghaib atau jin itu ada, ini masih di dalam koridor akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Kalau dia mengatakan sampai merembet bahwa sihir itu tidak ada, jin itu tidak ada, ghaib itu tidak ada, tentulah ini bersalahan dengan akidah aswaja. sebagaimana yang diterangkan di surah Jin,” pungkasnya.

Reporter : Anwar Syarif

Editor : Muhammad Abdillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *