Mei 28, 2024
Musabaqah Tilawatil Qur'an, Minggu(23/10)/foto anwar syarif

Musabaqah Tilawatil Qur'an, Minggu(23/10)/foto anwar syarif

ALBANJARI.COM, MARTAPURA – Musabaqoh Tilawatil Qur’an menjadi salah satu lomba yang dilaksanakan di Peringatan Hari Santri Nasional 2022 oleh PCNU Kabupaten Banjar. Usut punya usut, ternyata ajang memuliakan Al Qur’an ini erat kaitannya dengan Tokoh NU di Kalsel.

Perlombaan MTQ Hari Santri Nasional 2022 yang dilaksanakan PCNU Kabupaten Banjar mengambil tempat di Ruangan Hijau Terbuka (RTH) alun-alun Ratu Zalecha, Martapura.

Kegiatan ini dimulai pada pukul 13.00 hingga Pukul 17.00 Wita, dengan 15 peserta dari perwakilan masing-masing Pondok Pesantren se-kalimantan Selatan.

Tampak hadir sebagai Dewan Juri, Ustadz Amrullah Misdhar, KH. Salman dan Ustadz Mahmudi.

Koordinator MTQ, Zainuddin, dalam wawancara singkatnya bersama kru Albanjari.com berpesan, semoga MTQ ini bisa memotivasi santri untuk terus berlatih dan belajar ilmu Al-Qur’an, terutama memperdalam ilmu Tajwid dan seni Al-Qur’an.

“Untuk para santri dan santriyah se-Kalimantan Selatan, agar lebih berlatih lagi, lebih giat lagi. Terutama untuk bacaan tajwidnya, juga belajar ilmu Al Qur’an,” ujarnya.

Zainuddin sangat bersyukur, di Kabupaten Banjar sudah sering mengadakan hari santri.

“Mudah mudahan hari santri selanjutnya bisa lebih meriah lagi,” tegasnya.

Sementara itu, Dewan Juri MTQ, KH. Salman menjelaskan riwayat singkat asal mula MTQ digelar. Beliau menyebut ada kaitannya dengan pendiri Nahdlatul Ulama di Kalimantan Selatan.

“Terbentuklah MTQ yang digagas dari pendiri-pendiri kita jua (juga), pendiri yang terbesar itu iya kaum Guru Tuha kita ini, mula-mula iya nang (awal-awal itu) di Makassar, Jadi, awal didirikannya itu dari tokoh-tokoh NU,” ungkapnya.

Beliau juga menambahkan, sebelum MTQ, kegiatan membaca seni Al-Qur’an ini bernama Jam’iyyah Qurra wal Huffadz yang dikembangkan oleh Tuan Guru Jaysuf Negara. Beliau menerangkan, kegiatan JQH dulu berjadwal di setiap daerah sebulan sekali.

“Jadi dulu kita ngarannya (namanya) Jamiyyah Qurra wal Huffadz”

“Jamiyyah Qurra’ behari begiliran daerah itu (bergilir tiap daerah), bahari nang terkenalnya tuan Guru Jaysuf Negara (dulu yang terkenal Guru Jaysuf di Negara), jadi kena bekumpulan beberapa bulan sekali (biasanya berkumpul sebulan sekali), bejadwal jua behari itu (dulu ada jadwalnya),” jelasnya.

Reporter: Anwar Syarif
Editor: Muhammad Bulkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *