
Foto Ilustrasi (Sumber: SC orami.co.id)
Di sebuah kamar kecil yang remang-remang, seorang remaja duduk bersila di depan layar ponsel. Tangannya lincah menekan-nekan layar. Matanya tak berkedip, napasnya cepat. Detik-detik kemenangan dalam dunia game favoritnya terasa seperti pencapaian besar. Saat kumandang adzan waktu Asar tiba, di luar kamar ibunya memanggil, menyuruhnya makan dan sholat. Namun suara itu hanya terdengar samar seperti suara jangkrik. Fokusnya hanya satu: menang dalam dunia maya. Ilusinya seakan mendapatkan surga dari Tuhan kedua.
Sebuah fenomena yang sangat menantang generasi Muslim milenial. Di banyak rumah dan tempat duduk tongkrongan di perkotaan adegan scroling video dan bermain game, telah menggerogoti waktu produktif dan menjadi pemandangan lumrah. Bersaing antara gaya hidup dan berdalih atas nama kebebasan. Nyatanya, di balik gemerlapnya grafis dan sensasi permainan tersimpan ancaman nyata yang perlahan menggerus kualitas hidup. Tanpa sadar, waktu berjam-jam terlewati hanya untuk memenuhi nafsu dan ilustrasi belakanya.
Di sisi lain, keberuntungan dan manfaat akan berpihak kepada mereka yang mampu menjadikan layar grafis itu sebagai pembantunya –membantu untuk meemperluas wawasan dan menyambung relasi kepada banyak orang yang memberikan faidah, bukan justru menjadi Tuhan.
Dalam pandangan Islam, setiap tanggung jawab adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk amanah untuk menggunakan waktu dengan hal yang postif.
Allah Swt. berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-‘Asr: 1-3).
Ancaman Nyata di Balik Game Online
Tak sedikit game yang menyuguhkan konten kekerasan, perkataan kasar, hingga nuansa mistik dan budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Game online semacam itu yang dimainkan terus-menerus, akan mempengaruhi cara berpikir dan bersikap. Penggunanya bisa menjadi lebih tempramental, egois, dan sulit untuk bersosialisasi.
Lambat laun, adab dalam berbicara, menyapa orang tua, atau menghargai teman-teman mulai memudar. Ia mudah tersinggung hanya karena candaan kecil. Emosinya meledak ketika ada yang mengganggu sesi gamenya. Fenomena ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari interaksi intensif dengan lingkungan virtual yang tidak mengajarkan kasih-sayang, empati, atau tanggung jawab sosial.
Banyak penelitian telah menyatakan bahwa kecanduan game telah diakui oleh WHO sebagai gangguan kesehatan mental. Gejalanya mirip dengan kecanduan lainnya; muncul dorongn tak tertahankan untuk bermain, kehilangan kontrol atas durasi bermain, dan terus bermain meskipun tahu ada konsekuensi negatif. Yang namanya kecanduan itu tidak ada yang baik.
Berbeda jika kecanduannya seperti, di antaranya santri peroko, hadir dalam forum bahtsul masail dan mengkritisi apapun yang dianggap isykal. Roko adalah nyawa untuk pikirannya.
Kembali, kecanduan game akan membuat penggunanya kesulitas fokus, cenderung mudah marah jika dilarang, dan pikirannya terus dihantui keinginan untuk kembali masuk ke dunia maya. Ia menarik diri dari keluarga, enggan bersosialisasi, bahkan lebih gentirnya dunia nyata tak lagi menarik. Ini adalah tahapan serius yang jika tidak segera ditangani, bisa berujung pada kerusakan mental dan sosial. Intinya kecanduan game sangat merusak. Coba saja perhatikan orang-orang di sekitarmu -atau mungkin kamu sendiri.
Syekh Wahbah Az-Zuhailiy pernah memberikan catatan tentang orang yang kecanduan di depan layar akan berpotensi merusak kinerja akalnya, hingg membuat fisik lemah:
انّ الإدمَانَ على الكومبيوتر ضَارَ جِدًّا لِلْعَقْلِ والنّظرَ فيْهِ يُضَعّفُ الحواسَ والْخَيْرُ في الإعْتِدَال…
Artinya, ”Kecanduan di depan layar komputer (termasuk layar kaca lainnya) menjadi sangat bahaya bagi (kinerja) akal. Menatapnya (terus-menerus) akan membuat kualitas pancaindra melemah. Sedangkan (penggunaan layar kaca) yang baik adalah (dengan) secukupnya saja.” (Syekh Wahbah az-Zuhaili, Fatawa Mu’ashiraah, [Bairut: Dar al-Fikr, 2003], hlm. 200).
Dampak nyata lainnya dari kecanduan game online, bagi penggunanya bahkan rela menghabiskan uang sebesar apapun nilainya demi bisa memainkan. Tentu ini merupakan prilaku yang dianggap mubazir. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut justru akan merugikan orang lain karena tindakan konsumtif yang tidak sehat –di samping banyaknya.
Padahal, dalam kehidupan nyata kesukesan memerlukan proses panjang, perjuanagn, dan kesabaran. Mereka terlalu lama terbuai dunia game yang akan kesilitan menghadapi tantangan dunia nyata. Saat ujian datang, mereka memilih menyerah. Saat gagal, mereka merasa frustasi. Game telah menggerus daya juang mereka secara perlahan.
Game modern saat ini banayk yang menganut sistem ”freemium” –gratis dimainkan, tapi menawarkan banyak item berbayar. Mulai dari skin, senjata, karakter, hingga akses premium. Meskipun terlihat kecil, pengeluaran ini bisa membengkak dalam waktu singkat.
Menjaga Waktu
Game, jika digunakan secara bijak dan terbatas, bisa menjadi hiburan yang menyehatkan. Namun ketika waktu, tanggung jawab, akhlak, dan kesehatan mulai dikorbankan demi game, maka saatnya kita melakukan evalusia.
Dalam hadist Nabi Muhammad Saw disabdakan yang artinya:
مِنْ حُسْنِ الْاِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيِهِ
Artinya. “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia dapat meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).
Pesan ini menjadi pilar penting untuk menakar ulang aktivitas kita. Apakah game yang kita mainkan bermanfaat? Apakah ia mendekatkan kita kepada Allah Swt atau malah justru menjauhkan? Apakah ia membangun semnagat atau justru melemahkan.
Waktu adalah amanah, akhlak adalah cerminan, dan kesehatan adalah nikmat yang akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan sampai layar kecil di genggaman tangan menjadi sebab kerugian besar di dunia dan akhirat. Catatan, bermain game tidak akan menjadi masalah selama kewajiban tidak ditinggalkan.
Penulis: Anwar Syarif








