
Sumber: indahladya.com
Oleh: M. Ali Syahbana – Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kab. Banjar
Dalam masyarakat kita hari ini, kebahagiaan menjadi hal yang sering dikejar, tapi jarang ditemukan. Salah satu sebab utamanya adalah kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Kita tidak lagi cukup dengan apa yang ada, karena merasa harus sejajar bahkan melebihi mereka yang tampil lebih berhasil, populer, atau beruntung secara lahiriah.
Fenomena ini kian kuat dalam budaya digital, di mana kehidupan orang lain ditampilkan dalam potongan-potongan ideal: rumah megah, prestasi kerja, pasangan harmonis dan gaya hidup dinamis. Kita hanya melihat hasil, bukan proses; tampilan, bukan kenyataan. Maka yang terjadi bukan peningkatan motivasi, tetapi meningkatnya tekanan sosial, iri hati, dan kecemasan eksistensial. Yang semula cukup jadi terasa kurang, yang tadinya tenang berubah gelisah.
Dalam psikologi, ini disebut social comparison, membandingkan hidup dengan orang lain sebagai tolok ukur nilai diri. Jika tidak disikapi dengan kematangan dan keutuhan cara pandang, ini bisa menjelma menjadi hasad yaitu sempit hati terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.
Dalam haditsnya Rasulullah bersabda:
الحسد تأكل الحسنات، كما تأكل النار الحطب
Artinya: “Sifat hasad (iri) dapat memakan (menghilangkan) kebaikan, bagaikan api memakan (membakar) kayu bakar” (HR. Ibnu Majah)
Hadits tersebut menunjukkan betapa mengerikannya sifat hasad, bukan hanya menghilangkan kebaikan yang pernah kita lakukan, tetapi bisa memicu perbuatan jahat bahkan kriminal kepada orang lain, perbuatan ini bukan hanya membahayakan bagi orang lain, lebih dari itu dapat mendiskreditkan nama baik secara sosial.
Imam al-Ghazali dalam “Bidayatul Hidayah” mengungkapkan:
فإنها مهلكات في أنفسها، وهي أمهات لجملة من الخبائث سواها، وهي: الحسد، والرياء، والعجب
Artinya: “Bahwasanya (tiga sifat yang akan disebutkan) membinasakan pengidapnya, (tiga sifat itu) sebagai induk utama dari semua sifat buruk dalam hati, yaitu hasad, riya’ dan ujub.” (Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, [Jakarta, Darul Kutub Islamiyah, 1431 H] hlm. 143-144)
Al-Ghazali menjelaskan tiga sifat yang menjadi induk dari seluruh penyakit hati, diantaranya adalah hasad (iri), sebuah indikasi bahwa semua sifat buruk atau penyakit hati bermuara dari tiga sifat tersebut.

Lebih lanjut, beliau juga menyebut hasad sebagai penyakit hati yang dapat melahirkan ketidaksukaan terhadap takdir Allah. Ini bukan hanya persoalan moral, tapi juga persoalan nalar sosial. Ketika manusia tidak mampu menerima ketetapan yang berbeda, ia akan terus merasa gelisah dan penuh tuntutan terhadap hidup yang tak pernah selesai.
Kebiasaan membandingkan diri ini tidak lahir di ruang kosong. Sistem sosial kita secara halus turut membentuknya. Ukuran sukses hari ini semakin mengarah ke aspek-aspek yang kasat mata: ekonomi, gaya hidup, pengakuan publik. Maka tak heran jika banyak orang berlomba-lomba menampilkan pencapaian agar terlihat bernilai, meski batinnya sendiri belum tentu tenang. Ini menandakan bahwa kita bukan hanya menghadapi tantangan ekonomi atau moral, tetapi juga tantangan cara berpikir.
Masyarakat kita perlu kembali kepada kesadaran dasar: bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang dimiliki, tapi seberapa tulus dalam menjalani proses. Bahwa keberkahan tidak selalu tampak dalam kemewahan. Dan bahwa kebahagiaan bukan hasil dari membandingkan, tetapi dari menyadari apa yang sudah ada.
Dalam Islam, sikap qana’ah (merasa cukup) dan ridha terhadap takdir adalah fondasi utama ketenangan hidup. Bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tahu batas dalam menakar dunia. Ini bukan ajaran fatalistik, tetapi cara menjaga akal sehat dan hati agar tidak dikuasai oleh rasa iri, ambisi berlebihan, atau haus validasi.
Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah bersabda:
القناعة كنز لايفنى
Artinya: “Sifat qana’ah itu bagaikan gudang kekayaan yang tidak akan sirna.” Al-Qusyairi, Ar-Risalah Qusyairiyyah, [Kairo, Darus Salam, 1431 H], hlm. 90)
Jika kebahagiaan terus kita ukur dari orang lain, maka ia akan selalu menjadi bayangan yang menjauh setiap kali kita mendekat. Maka pertanyaannya: kapan kita bisa tenang, jika terus hidup dengan ukuran yang bukan milik kita sendiri?
Editor: Muhammad Fahrie







