Kalikuma-Studio-94

Sumber: Alamtara.co

Oleh: M. Ali Syahbana – Sekretaris LDNU Kabupaten Banjar

Albanjari.com, Martapura – Salah satu pertanyaan tertua dalam sejarah peradaban manusia adalah: apa yang paling berharga di dunia ini? Sejak manusia mulai mengenal huruf, membangun kota, dan menata kehidupan sosial, pertanyaan ini terus bergaung lintas zaman – dari ruang-ruang istana hingga pojok-pojok pesantren. Ia tidak pernah basi, justru semakin relevan ketika dunia makin riuh oleh gemerlap yang menipu.

Sebagian orang menjawab: uang. Karena dengan uang, seseorang bisa membeli hampir segalanya: kenyamanan, fasilitas, bahkan suara. Tapi sejarah dan kenyataan menunjukkan, kekayaan tak menjamin ketenangan. Betapa banyak orang kaya yang gelisah dalam tidur dan kesepian dalam keramaian. Uang bisa mengantar ke mana saja, kecuali ke dalam hati yang damai.

Yang lain berkata: kekuasaan. Karena kekuasaan mampu menundukkan dunia. Tapi kekuasaan tanpa adab justru bisa melahirkan kerusakan. Dalam kacamata ruhani, kekuasaan adalah amanah, bukan kehormatan yang diburu. Para kiai sepuh selalu mengingatkan, kekuasaan itu menggiurkan di dunia, tapi memberatkan di akhirat jika tak dijalankan dengan rasa takut kepada Allah.

Sebagian menyebut: waktu. Waktu adalah kesempatan; ia tidak bisa diulang, tidak bisa dibeli. Tapi waktu, seperti wadah kosong, hanya berarti jika diisi dengan amal. Jika tidak, ia akan menjadi saksi bisu atas kelalaian manusia.

Sebagian yang lain berkata: kesehatan. Tak bisa dimungkiri, kesehatan adalah nikmat besar. Tapi seperti rezeki, ia pun fana. Hari ini sehat, esok bisa sakit. Maka kesehatan hanyalah alat, bukan tujuan.

M. Ali Syahbana, Sekretaris LDNU Banjar

Lalu, apa yang benar-benar paling berharga?

Dalam pandangan Islam yang lurus dan dalam tradisi ruhani para ulama Ahlussunnah wal Jamaah – sebagaimana diwariskan dalam tradisi Nahdlatul Ulama – yang paling berharga di dunia ini adalah kebahagiaan.

Namun bukan kebahagiaan yang dangkal. Bukan yang dibeli dengan pesta atau hiburan. Bukan pula kebahagiaan yang hanya bertahan selama senyum orang lain hadir.

Yang paling berharga adalah kebahagiaan ruhani: kebahagiaan bersama Allah dan Rasul-Nya. Kebahagiaan yang tumbuh dari rasa cukup, dari hati yang tenang karena dzikir, dari jiwa yang ridha pada takdir, dan dari hidup yang diarahkan bukan hanya untuk sukses, tetapi untuk membawa berkah.

Kebahagiaan ruhani adalah buah dari iman, ilmu, dan amal yang ikhlas. Ia hadir ketika seseorang tidak hanya mengenal Tuhan-Nya, tapi juga mencintai dan dicintai oleh-Nya. Ia tidak tergantung pada kondisi, tidak runtuh oleh musibah, dan tidak pudar oleh usia.

Inilah kebahagiaan yang menjadi warisan terbesar para kiai dan ulama. Lewat ilmu yang mereka ajarkan, akhlak yang mereka teladankan, dan doa yang terus mereka panjatkan, umat diajak untuk melihat dunia bukan sebagai tujuan, tapi sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Allah dan Rasul-Nya.

Dan dalam perjumpaan itulah letak kebahagiaan yang sejati. Itulah yang paling berharga di dunia ini.