
Foto istimewa
Oleh : Diah Olva Sari
Aktivis perempuan nahdliyin dan seorang ibu muda*
Untuk para orang tua muda yang sedang merasa gagal…
Barangkali tulisan ini bisa jadi jeda napas di tengah lelahmu.
“Sabar… sabar… gampang banget kamu ngomong.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi kadang menyakitkan. Terutama ketika kita sedang berhadapan dengan anak kecil yang sedang tantrum, melempar barang, menolak makan, atau menangis seolah-olah dunia sedang runtuh tanpa alasan yang bisa kita mengerti.
Kalau kamu pernah ada di titik itu, percayalah: kamu tidak sendiri.
Banyak orang tua muda mereka yang baru menjalani peran ini di usia 19 sampai 28 tahun, pernah merasa sabarnya diuji habis-habisan. Bahkan sampai merasa: “Aku nggak sanggup jadi orang tua.”
Tapi bukan karena kamu lemah. Bukan juga karena kamu gagal. Mungkin kamu hanya sedang melewati proses panjang yang memang… seberat itu.
Anak Itu Permata, Tapi Bukan Permata Siap Pakai
Imam Al-Ghazali pernah menulis bahwa hati anak ibarat permata yang belum terpahat. Penuh potensi, tapi masih mentah. Lembut, tapi belum tahu arah. Anak-anak belum paham aturan. Mereka belum bisa membedakan mana yang sopan dan mana yang mengganggu. Mereka tidak tahu cara menenangkan diri, karena otaknya pun belum selesai berkembang.
Dan siapa yang ditunjuk sebagai pemahat utama dari permata kecil itu?
Kita, orang tuanya.
Tapi perlu diingat: berlian tidak lahir dalam sehari. Ia ditempa oleh tekanan, waktu, dan kesabaran panjang. Maka begitu juga anak-anak kita. Mereka bukan makhluk mungil yang otomatis paham. Mereka belajar. Mereka mencoba. Dan proses itu tidak pernah rapi.
Satu-satunya yang bisa membuat mereka bertumbuh dengan utuh… adalah kehadiran kita. Bukan sebagai orang tua yang sempurna, tapi yang konsisten.
Sabar Itu Bukan Pasrah, Tapi Kerja Hati
Banyak yang menyangka bahwa sabar adalah diam. Padahal sabar itu aktif. Ia adalah keputusan sadar untuk tetap tenang saat pikiran kacau. Ia adalah pilihan untuk tetap lembut ketika hati ingin meledak.
Imam Al-Ghazali dalam “Ihya ‘Ulumiddin”:
اعلم أن الصبر ضربان: أحدهما ضرب بدني كتحمل المشاق بالبدن……. ولكن المحمود التام هو الضرب الآخر وهو الصبر النفسي عن مشتهيات الطبع ومقتضيات الهوى
Artinya: “Ketahuilah bahwa sabar itu terbagi dua: pertama sabar fisik, seperti menanggung (menahan) rasa lelah dalam badan…….. Akan tetapi kesabaran yang sempurna yaitu bagian kedua: sabar jiwa, menahan dari keinginan yang bersifat naluri dan menahan hasrat hawa nafsu.”
Imam Al-Ghazali membagi sabar menjadi dua bentuk:
1. Sabar fisik: menghadapi rasa lelah, kantuk, dan tubuh yang kehabisan tenaga setelah seharian mengurus anak.
2. Sabar jiwa: menahan amarah, frustasi, dan dorongan impulsif untuk marah ketika segalanya terasa di luar kendali.
Rasulullah ﷺ bersabda:
والصبر ضياء”….. الحديث”
Artinya: “Sabar itu cahaya.” (HR. Muslim)
Dan cahaya itu, sedikit atau banyak selalu memberi arah.
Jadi ketika kamu memilih untuk menahan bentakan, ketika kamu memeluk anak alih-alih mengusirnya pergi, kamu sedang menyalakan cahaya. Di dalam hatimu. Di dalam rumahmu. Dan mungkin juga, di masa depan anakmu.
Tapi Aku Capek… Sabar Itu Ada Batasnya, Kan?
Tentu. Kita ini manusia. Kita bisa lelah, bisa marah, bisa menangis diam-diam di kamar mandi. Islam pun tidak pernah menuntut kita jadi makhluk sempurna. Tapi di dalam dunia pengasuhan, ada satu rahasia kecil yang patut diingat:
Sabar itu bisa dilatih. Dan sabar itu bisa dibagi.
Kita tidak harus menjadi super parent yang bisa segalanya.
Kita berhak minta tolong. Berhak istirahat. Berhak jujur kalau sedang lelah.
Sabar bukan tentang menahan amarah selama mungkin, tapi tentang kemauan untuk kembali. Untuk mencoba lagi. Untuk hadir lagi, dengan hati yang sedikit lebih lapang.
Beberapa cara kecil untuk belajar sabar
– Ambil jeda.
Tidak semua perilaku anak perlu ditanggapi saat itu juga. Saat anak mulai meledak, tarik napas, diam sejenak, baru kemudian bicara.
– Gunakan bahasa sederhana.
Anak dua tahun belum bisa menyerap ceramah. Tapi mereka bisa menangkap nada suara. Nada lembut lebih masuk daripada kalimat panjang.
– Pilih pelukan, bukan perlawanan.
Anak yang tantrum tidak sedang menantangmu. Ia sedang kewalahan. Dan pelukan, meski kamu sendiri sedang lelah, bisa menenangkan lebih dari seribu kalimat.
– Isi ulang energimu.
Orang tua yang kosong tak bisa mengisi hati anak. Tidur cukup, makan bergizi, ngobrol dengan teman, atau sekadar menyendiri 15 menit bukanlah kemewahan. Itu kebutuhan.
Kamu tidak gagal, kamu sedang bertumbuh.
Menjadi orang tua muda sering terasa seperti berjalan dalam kabut. Kita belajar sambil jalan. Sering ragu, sering bingung, dan sering merasa sendirian. Apalagi di zaman serba banding-banding seperti sekarang.
Tapi percayalah:
Setiap pelukan yang kamu berikan,
Setiap tangisan yang kamu redam,
Setiap malam tanpa tidur yang kamu lalui dengan dada sesak…
Itu semua bukan bukti kegagalan. Itu bukti bahwa kamu sedang berjuang.
Anakmu mungkin belum bisa mengucap terima kasih. Tapi kelak, ketika ia tumbuh, ia akan tahu bahwa dibalik tubuh kecilnya yang dulu sering menangis ada seorang orang tua muda yang memilih untuk tetap hadir. Meskipun capek, bingung, meskipun kesabaran tinggal setipis benang.
Dan itu, adalah bentuk cinta yang tak semua orang bisa berikan.
Sedikit Penutup
Kalau kamu membaca sampai sejauh ini, barangkali kamu sedang benar-benar lelah. Atau mungkin, kamu hanya sedang butuh diingatkan: bahwa kamu tidak sendiri.
Menjadi orang tua bukan tentang tidak pernah marah. Tapi tentang mau belajar dari setiap amarah. Mau mengembalikan diri ke jalur lembut, setiap kali tersesat oleh letih.
Sabar itu memang berat. Tapi sabar itu juga kerja hati.
Dan kamu, sedang bekerja keras mencintai.
Bagikan tulisan ini ke teman-temanmu yang juga sedang menjalani hari-hari penuh ujian bersama anak-anak kecil. Karena kita semua butuh tahu: bahwa meski sabar ada batasnya, cinta yang tulus selalu menemukan jalannya.
*) Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Al-Falah Puteri Banjarbaru
Editor: Muhammad Fahrie








