lisan-yang-selamat

Gambar ilustrasi, sumber: pesantrenmaqi.net

Oleh: M. Ali Syahbana – Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kab. Banjar

Albanjari.com, Martapura – Dalam hidup seorang mukmin, lisan adalah cermin dari jiwanya. Kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan pancaran dari apa yang tersembunyi di dalam qalb. Maka siapa yang menjaga lisannya, sejatinya sedang menjaga martabat dan kemuliaan dirinya sendiri.

Banyak kerusakan lahir bukan dari tangan, tetapi dari lisan. Sebuah fitnah mungkin berawal dari kalimat yang tampaknya ringan. Permusuhan kadang berpijar dari satu celetukan yang tidak ditimbang. Sering kali kita menyaksikan bagaimana satu kata bisa mengguncang tatanan batin seseorang, mencederai hubungan sosial, bahkan menggugurkan amal-amal yang bertahun-tahun dibangun dengan peluh dan keikhlasan.

Baca juga: Apa yang Paling Berharga di Dunia Ini?

Dalam tradisi para ulama, menjaga lisan bukan sekadar soal etika, melainkan bagian dari riyāḍah ruhani. Ia termasuk dalam jalan suluk. Para salik menahan lidah bukan karena tidak tahu, melainkan karena tahu bahwa satu kalimat bisa menjadi hujjah di hadapan Allah apakah mengundang rahmat atau justru murka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

هل يكب الناس فى النار على وجوههم، إلا حصائد ألسنتهم (رواه الترمذي)

Artinya: “Tidaklah manusia dilemparkan ke dalam neraka, tersungkur di wajah mereka, kecuali akibat panen dari lidah mereka.” (HR. Tirmizi)

Sabda ini tidak hanya tegas, tetapi juga sarat makna. Ia mengandung peringatan bahwa celaka bukan selalu datang dari niat buruk, tetapi sering kali dari kelalaian dalam berbicara.

Dalam kehidupan sosial hari ini, lidah sering menjadi alat yang menyakiti tanpa disadari. Kata-kata meluncur tanpa adab, bahkan atas nama kejujuran atau candaan. Padahal dalam psikologi sosial, ini bisa disebut sebagai bentuk kekerasan simbolik, ucapan yang menurunkan harga diri orang lain secara halus namun dalam. Luka karena lisan kadang lebih lama sembuhnya daripada luka fisik, apalagi jika datang dari orang terdekat atau dari sosok yang seharusnya menjadi penyejuk.

M. Ali Syahbana, Sekretaris LDNU Banjar

Sebagian dari kita mulai terbiasa menertawakan yang lemah, mengomentari kekurangan, atau mengulang aib orang lain tanpa berpikir panjang. Celakanya, semua itu sering dibungkus dengan istilah spontan, ekspresif, atau bahkan dianggap “sudah biasa”. Padahal lisan yang tidak dijaga oleh dzikir hanya akan menjadi alat untuk menyebarkan luka dan kegelisahan batin.

Seorang kiai pernah berpesan kepada santrinya, “Kalau engkau ingin dikenal, cukupkanlah amalmu berbicara. Tapi kalau engkau ingin dikenang, diamlah dengan adab, dan biarkan Allah yang menyampaikan siapa engkau.” Pesan ini tidak hanya menyentil mereka yang sibuk mengejar pengakuan, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa keikhlasan itu sunyi, tetapi buahnya tak pernah tertutup.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, lisan bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sarana penyambung berkah. Ucapan yang jernih lahir dari batin yang jernih. Bahkan dalam senda gurau, ulama kita mengajarkan agar tidak sampai menyentuh cela. Karena lisan adalah tempat keluarnya dua hal: ilmu dan aib. Siapa yang memaksakan lisannya untuk berbicara di luar kejernihan hati, maka yang keluar bukanlah ilmu, melainkan cela, meskipun dibalut dengan bahasa dalil.

Menjaga lisan adalah mujahadah yang tidak pernah selesai. Ia bukan hanya tentang menahan bicara, tapi tentang membangun kesadaran ruhani dalam setiap kata yang keluar. Dalam setiap pertemuan sosial, ada potensi dosa dari satu komentar remeh atau satu tawa yang melukai. Bahkan satu kata bisa meruntuhkan harga diri seseorang, dan satu kalimat bisa merobohkan maqām ruhani yang lama dibangun.

Yang dibutuhkan hari ini bukan banyaknya kata, tetapi jernihnya kata. Bukan yang lantang, tapi yang mendalam. Kita butuh pribadi yang memilih diam meski tahu, dan hanya berbicara bila kata-katanya membawa keselamatan, baik di dunia maupun di yaumil hisab. Sebab lisan tidak hanya disaksikan manusia, tapi kelak akan bersaksi di hadapan Allah, sebagaimana firman-Nya:

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Artinya: “Pada hari itu, Kami kunci mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka perbuat.” (QS. Yasin: 65)

Siapa pun kita, dari mana pun latar dan kedudukan kita, tidak ada yang benar-benar aman dari bahaya lisan kecuali mereka yang menjaga ucapannya karena takut kepada Allah. Diam bukan kelemahan, dan bicara tidak selalu menunjukkan kemuliaan. Keberkahan ada pada kata yang dijaga, dan kehancuran ada pada kata yang lepas dari pengawasan ruh.

Baca juga: Menimbang Ulang: Apakah Etika Telah Hilang di Zaman Sekarang?

Semoga kita termasuk golongan yang lisannya menjadi sebab datangnya cahaya, bukan kegelapan. Dan semoga kita diberi kekuatan untuk menahan kalimat yang sia-sia.


Editor: Muhammad Fahrie