
Sumber: tebuireng online
Oleh: M. Ali Syahbana – Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Banjar
Albanjari.com, Martapura – Di tengah derasnya arus informasi, gemuruh opini, dan maraknya kontestasi narasi di ruang-ruang digital, kita semakin sering mendengar keluhan yang serupa: “Zaman sekarang sudah tidak ada etika.” Kalimat itu muncul dari keresahan yang diam-diam tumbuh dalam benak masyarakat tentang lunturnya sopan santun, kaburnya rasa hormat, dan pudarnya kehalusan budi pekerti.
Namun, benarkah etika telah hilang? Ataukah ia sekadar terlupakan, tertutup debu zaman yang gemar menyanjung kecepatan dan mencibir keteduhan?
Etika dalam Tradisi Islam dan Pesantren
Dalam pandangan Islam, terutama dalam tradisi keilmuan pesantren, etika bukanlah pelengkap; ia adalah fondasi peradaban. Bukan sekadar cara berbicara atau bersikap, tetapi cermin dari kedalaman iman dan kematangan akal. Di pesantren-pesantren, adab bahkan diajarkan sebelum ilmu. Seorang santri tidak hanya diminta pandai membaca teks, tetapi juga terampil membaca situasi tahu kapan harus berbicara, dan lebih tahu kapan sebaiknya diam.

Etika juga bukan hanya perkara hubungan antarindividu, tetapi jalinan nilai yang merawat harmoni sosial. Ia adalah benang halus yang menjahit hubungan antargenerasi, antara pemimpin dan rakyat, antara guru dan murid, antara manusia dan Tuhannya. Ketika etika ditanggalkan, yang tersisa bukanlah kebebasan, melainkan kekacauan.
Dari Rakyat Hingga Pemimpin: Adab yang Sama-Sama Bisa Hilang
Di jalanan, seorang pemuda berteriak mencaci pengendara lain hanya karena disenggol spion. Di ruang kantor, rekan kerja dengan mudahnya menjatuhkan nama orang lain demi mendapat pujian atasan. Di dunia maya, akun anonim menyebar fitnah tanpa dasar, merasa bebas karena berlindung di balik layar. Di ruang sidang, seorang pemimpin mencaci lawannya tanpa menimbang akhlak, seolah jabatan membolehkan menghapus sopan santun.
Adab ternyata tidak memilih strata. Ia bisa hilang dari siapa saja: dari penjual sayur di pasar hingga pejabat tinggi di podium politik. Kadang, lulusan universitas terbaik bisa menjadi yang paling tajam lidahnya di kolom komentar. Kadang pula, mereka yang berdakwah dengan serban dan mikrofon tak sadar sedang menyakiti saudara seimannya, hanya karena berbeda pendapat.
Baca juga: Manusia Modern dan Dakwah dalam Lanskap Multikultural
Kita hidup di zaman di mana jabatan tidak menjamin kebijaksanaan, dan popularitas tidak selalu bersanding dengan akhlak. Karena kehilangan etika bukan soal pendidikan atau status sosial, melainkan kerendahan hati dan kesadaran batin.
Krisis Bentuk yang Melupakan Makna
Sayangnya, perkembangan zaman sering kali menggeser perhatian manusia dari makna ke bentuk. Etika yang dahulu dijunjung tinggi kini mulai kalah oleh citra. Orang lebih sibuk membangun persona daripada menata batin. Di ruang maya, banyak yang berani berbicara, tetapi lupa menjaga kata. Banyak yang cepat mengoreksi, namun lupa berkaca.
Padahal dalam ajaran Islam, salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah tumbuhnya rasa malu, halusnya tutur kata, dan lembutnya sikap. Rasulullah tidak hanya menjadi suri teladan karena wahyu yang beliau bawa, tetapi karena akhlak mulia yang memancar dalam keseharian. Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi, ia menjawab:
كان خلقه القرآن
Artinya: “Akhlaknya adalah al-Qur’an itu sendiri”. (HR. Muslim)
Dakwah Etika di Zaman yang Gelisah
Tantangan kita hari ini bukan sekadar bagaimana menyampaikan kebenaran, tapi bagaimana menyampaikannya dengan adab. Di sinilah pentingnya dakwah bil hikmah dakwah dengan kelembutan, keteladanan, dan ketenangan. Karena sejatinya, akhlak tak butuh panggung besar untuk bersinar; cukup menjadi cahaya di tengah gelapnya pergaulan.
Baca juga: Kapan Tenang Jika Ukuran Hidup Selalu Orang Lain?
Sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, khususnya melalui peran Lembaga Dakwah, kita memikul tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai ini. Menjadi penyeru, sekaligus penjaga—bukan hanya penjaga ibadah, tapi juga penjaga adab. Karena selama masih ada yang memperjuangkan etika, maka peradaban belum benar-benar runtuh.
Menyalakan Ulang Kesadaran
Maka daripada hanya mengeluhkan kerusakan zaman, lebih baik kita mulai dari diri sendiri: menjaga tutur, menahan lisan, menundukkan ego.
Karena sebagaimana dikatakan para arif: “Adab bukan sesuatu yang diajarkan dengan lisan, tetapi diwariskan dengan keteladanan. Ia tak banyak bicara, tapi menetap dalam sikap.”
Dan selama adab masih hidup di hati sebagian orang, harapan untuk zaman yang lebih teduh akan tetap menyala.
Editor: Muhammad Fahrie







