
Foto Istimewa
oleh: Muhammad Abdillah*
Albanjari.com, Tabalong – Masa-masa menjadi santri di Pondok Pesantren Darussalam merupakan waktu yang paling berkesan, terutama dalam menjalani proses menuntut ilmu. Penulis menjadi santri di Pondok Pesantren Darussalam sekitaran tahun 2017 masuk di tingkat Wustho dan lulus di tahun 2023 di tingkat Ulya. Selama menjadi santri, tentunya memiliki banyak cerita yang tidak terlupakan, salah satunya kenangan saat mengaji bersama para ulama masyayikh Martapura.
Di penghujung tahun 2022, ada hal yang paling mengejutkan pernah terjadi yaitu ketika seorang ulama sepuh yang dikenal masyarakat dekat dengan ulama besar Syaikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) yaitu KH. Muaz Hamid tiba-tiba kembali mengajar di Pondok Pesantren Darussalam, namun hanya mengajar di dua kelas saja dengan waktu satu kali seminggu.
Jika tidak salah ingat, waktu itu penulis duduk di kelas 3 ulya dan kebetulan juga kelas kami tidak mendapatkan jadwal beliau untuk mengajar. Lantas, kelas yang mendapatkan kesempatan tersebut menjadi kelas yang “dihiri’i” dalam artian banyak yang ingin bergabung di kelas tersebut dan merasakan bagaimana rasanya belajar bersama Guru Muaz di dalam kelas (bukan dalam pengajian saja).
Dari kabar yang tersiar, ketika mengajar di kelas, Guru Muaz sangatlah tegas dan disiplin dalam waktu. Jika ada santri yang terlambat 5 menit saja, maka pintu kelas akan dikunci dan tidak ada yang boleh masuk. Hal ini sangat menarik, sebab tanda bahwa beliau sangat menekankan adab seorang santri dalam belajar yaitu adalah datang tepat waktu sebelum pembelajaran dimulai.
Pada suatu hari, hujan turun sangat lebat dan deras di hari itu. Sudah bisa dibaca bahwa jika hujan maka banyak santri yang memilih untuk rebahan di asrama dan tarik selimut, dibandingkan berangkat menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Darussalam. Dan ini merupakan salah satu cara untuk melihat siapa saja yang benar-benar memiliki himmah atau semangat dalam menuntut ilmu.
Dalam waktu hujan, penulis berjalan melewati lorong bawah jembatan Martapura untuk menuju ke kelas sambil membawa payung kecil. Tiba-tiba melintas sosok ulama Guru Muaz bersama cucu beliau menggunakan jas hujan pergi untuk mengajar di kelas. Deg… Melihat peristiwa tersebut penulis merasa tersentuh hati dan merasa malu!. Beliau bukanlah seseorang yang berusia muda, namun memiliki semangat nasyrul ilm (menyebarkan ilmu) yang sangat membara melebihi semangat jiwa muda.
Lantas, dalam keadaan seperti itu, penulis pelan-pelan memasuki kelas. Tetapi, melihat guru yang saat itu mengajar di kelas terlambat masuk, akhirnya penulis berinisiatif masuk ke kelasnya Guru Muaz yang ternyata baru saja dimulai. Alhamdulillah, setiap kata yang beliau ucapkan terekam dalam tulisan singkat di belakang lembaran Kitab Kifayatul Atqiya yang penulis bawa. Saat itu beliau membacakan Kitab Minhajul Abidin, tetapi penulis belum mampu membeli karena keterbatasan biaya akhirnya membawa kitab Kifayatul Atqiya sebagai ganti jika ada pelajaran Tasawuf (sepertinya waktu itu salah bawa kitab, hehe).
Dalam catatan ringkas tersebut, Guru Muaz mengatakan tentang niat dalam menuntut ilmu.
“Siapa menuntut ilmu supaya bermegah-megah dengan ulama, supaya mujadalah (berdebat) dengan orang bungul atau memalingkan muha manusia kepadanya, maka Allah masukan ke dalam neraka”.

Namun kata beliau, jangan menyangka ketika mengetahui bahaya salah niat dalam menuntut ilmu sangat besar, lalu berhenti menuntut ilmu, maka itu bodoh. Banyak orang yang masuk neraka adalah orang faqir dengan ilmu, sebab siapa yang kada belajar kada mungkin baginya memperbuat ibadah seperti semestinya. Maka, niat yang utama menuntut ilmu adalah untuk membantu dalam beribadah kepada Allah.
Hujan deras tersebut, ternyata memberikan hujan keberkahan. Tiba-tiba banyak santri dari kelas lain yang ikut masuk ke kelas dan duduk menyimak pembacaan Kitab dari Guru Muaz Hamid yang sangat berlimpah dengan pesan-pesan mengena di dalam hati. Kenangan tersebut hingga kini masih saja melekat, namun tidak bisa diulang karena kami sekarang semua sudah pulang ke kampung halaman masing-masing.
Dari hal tersebut, sebagai santri kami banyak belajar kepada beliau bahwa dalam menyampaikan ilmu tidak hanya melalui kata-kata (lisanul maqal) tapi perlu adanya tindakan nyata (lisanul hal) dari seseorang yang katanya memiliki ilmu.
*)Muhammad Abdillah merupakan seorang Alumni PP. Darussalam Martapura tahun 2023, Sekarang menjadi Pengajar di SDN 2 Mabuun dan Mahasiswa S1 Tarbiyah di STIT Syekh Muhammad Nafis Tabalong.







