
Sumber: nyatamedia.com
Albanjari.com – Tragedi di Pondok Al-Khoziny baru-baru ini menimbulkan gelombang narasi miring terhadap pesantren, khususnya terkait praktik Ro’an. Ada pihak yang buru-buru menuding bahwa santri dipaksa bekerja layaknya buruh bangunan, sehingga pesantren dianggap abai terhadap fungsi utamanya: mendidik dan mengajar.
Narasi ini, bila tidak diluruskan, akan menimbulkan stigma keliru terhadap pesantren, sebuah lembaga pendidikan yang telah menjadi pilar kebudayaan bangsa sejak ratusan tahun lalu.
Padahal, bila ditelaah lebih cermat, Ro’an bukanlah eksploitasi. Ia adalah tradisi gotong royong khas pesantren, sebuah praktik kebersamaan yang berakar dalam budaya Nusantara. Santri yang ikut Ro’an bukanlah tukang, melainkan laden, pembantu kerja tukang. Tugas mereka sederhana: mengaduk adonan, mengangkut bahan, atau menyiapkan peralatan ringan.
Sementara pekerjaan teknis yang membutuhkan keahlian seperti pengukuran, dimensi bangunan, hingga racikan material selalu ditangani oleh tukang atau tenaga profesional yang diikat akad kerja secara jelas.
K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, pernah menekankan bahwa santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu, tetapi juga harus ditempa dengan akhlak, kesederhanaan, dan kemandirian.
Dalam kerangka itu, Ro’an hadir sebagai sarana pendidikan non-formal: ia melatih kerja sama, kesabaran, dan rasa tanggung jawab. Maka, ketika muncul ungkapan “santri membangun pondok”, maknanya bukan santri menjadi tukang utama, melainkan ikut serta dengan semangat kebersamaan.
Lebih jauh, kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak pesantren berdiri dari jerih payah seorang kiai dan masyarakat sekitar, dengan kemampuan finansial terbatas. Pesantren bukan korporasi dengan aliran dana besar.
Maka, Ro’an menjadi bentuk partisipasi nyata untuk mengurangi biaya pembangunan. Bahkan, di banyak pesantren, santri yang ingin ikut Ro’an tidak serta-merta diterima, ada pertimbangan: apakah tenaga mereka cukup? apakah jadwal belajar tidak terganggu? apakah motivasinya murni ikhlas? Artinya, Ro’an bukan paksaan, melainkan ruang pengabdian.
Sejarah mencatat, tradisi serupa sudah hidup sejak lama di lingkungan masyarakat Jawa dan Nusantara. Konsep gotong royong yang disebut oleh Bung Karno sebagai “roh asli bangsa Indonesia” telah menjelma di pesantren dalam bentuk Ro’an.
Pesantren bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga pusat pembentukan watak kebangsaan. Di dalam Ro’an, santri belajar bahwa kebersamaan lebih berharga daripada individualisme, dan pengabdian lebih utama daripada kepentingan diri sendiri.
Prof. Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren menyebutkan bahwa salah satu kekuatan pesantren adalah kemampuannya mempertahankan tradisi sambil beradaptasi dengan zaman.
Ro’an adalah contoh nyata meski dunia modern menuntut efisiensi finansial, pesantren tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan melalui partisipasi santri, Ro’an bukan sekadar membantu pembangunan, melainkan membangun rasa memiliki. Gedung-gedung yang berdiri di pesantren adalah saksi bahwa di sana ada keringat santri, doa, dan keikhlasan mereka.
Dalam kacamata pendidikan, Ro’an sejatinya adalah laboratorium karakter, pendidikan di pesantren tidak hanya berhenti pada penguasaan kitab, tetapi juga mendidik jiwa untuk hidup sederhana, terbiasa bekerja keras, serta berkontribusi untuk lingkungan. Inilah yang membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lain. Santri tidak hanya “diajar”, tetapi juga “dilatih” melalui pengalaman konkret. Ro’an adalah bagian dari itu.
Karena itu, menyebut Ro’an sebagai eksploitasi adalah penyederhanaan yang keliru. Tentu, tragedi di Pondok Al-Khoziny harus menjadi pelajaran penting. Aspek keselamatan kerja dan pengawasan wajib diperkuat agar peristiwa serupa tidak terulang. Namun, menuding Ro’an sebagai biang masalah sama saja dengan menghapus salah satu nilai luhur pesantren yang sudah terbukti membentuk generasi tangguh.
Ro’an adalah wajah solidaritas, ia adalah simbol kemandirian pesantren, ia adalah cermin dari falsafah hidup yang diajarkan ulama: “ngaji, ngamal, ngudi ilmu, lan urun gawe” belajar, beramal, mencari ilmu, dan berkontribusi.
Maka, alih-alih memandang Ro’an sebagai masalah, seharusnya kita melihatnya sebagai kekuatan. Ia membuktikan bahwa pesantren mampu berdiri dengan kekuatan internalnya: cinta santri, kerja sama, dan semangat gotong royong. Justru di tengah arus individualisme modern, tradisi seperti Ro’an layak dipelihara sebagai penyeimbang dan pengingat bahwa kebersamaan adalah inti peradaban bangsa.
Penulis: Muhammad Syarofi Editor: Muhammad Fahrie







