Oplus_131072

Maulana Nur, M.I.Kom (Foto: istimewa)

Maulana Nur, M.Ikom menilai Jenderal Soeharto telah berjasa besar membangun bangsa, menjaga stabilitas nasional, dan memperkuat peran umat Islam dalam kehidupan bernegara.

Banjarbaru – Isu pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal (Purn.) H. M. Soeharto, terus menjadi sorotan publik. Di tengah pro dan kontra yang berkembang, Maulana Nur, M.I.Kom, tokoh pemuda asal Kalimantan Selatan yang juga mantan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) periode 2019–2022, menyatakan dukungan penuh terhadap wacana tersebut.

Menurut Maulana, Soeharto adalah salah satu tokoh besar bangsa yang memiliki kontribusi monumental terhadap pembangunan Indonesia dan konsolidasi nasional pasca-1965.

“Kita harus menilai Jenderal Soeharto secara objektif. Di bawah kepemimpinan beliau, Indonesia mampu keluar dari masa sulit, membangun stabilitas ekonomi, menciptakan swasembada pangan, dan memperkuat peran umat Islam dalam pembangunan nasional,” ujar Maulana di Banjarbaru, Rabu (5/11/2025).

Ia menilai bahwa dalam konteks sejarah, jasa Soeharto terhadap negara tidak bisa dihapus hanya karena kontroversi politik masa lalu.

“Setiap pemimpin pasti memiliki sisi positif dan negatif. Namun, yang patut dicatat adalah dedikasi dan keberhasilan Soeharto membawa Indonesia menjadi negara yang disegani di Asia Tenggara,” ungkapnya.

Maulana menambahkan, usulan yang turut diusung oleh Kementerian Sosial melalui proses administratif yang melibatkan kepala daerah dan masyarakat merupakan bentuk penghargaan terhadap perjalanan panjang bangsa ini.

“Bila para pendiri bangsa seperti Soekarno dan Hatta sudah lebih dulu dihargai, maka Soeharto juga layak mendapat tempat di hati bangsa ini sebagai tokoh nasional,” tegasnya.

Sebagai mantan pengurus pusat IPNU dan bagian dari generasi muda Nahdlatul Ulama, Maulana menilai bahwa hubungan NU dengan Jenderal Soeharto juga tidak bisa hanya dilihat dari sisi politik masa lalu.

“Kita harus jujur, di masa kepemimpinan Soeharto, NU diberi ruang untuk berkiprah kembali dalam sosial dan pendidikan setelah menerima asas tunggal Pancasila tahun 1984. Itu langkah strategis yang membuka peluang besar bagi generasi muda NU untuk berkembang,” tambahnya.

Maulana berharap agar masyarakat dan para sejarawan dapat melihat pengusulan gelar tersebut dari perspektif rekonsiliasi dan penghargaan terhadap jasa, bukan dari dendam sejarah.

“Sudah waktunya kita berdamai dengan masa lalu. Memberi penghargaan kepada Jenderal Soeharto bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, tapi mengakui kontribusi besar beliau terhadap bangsa ini,” ujarnya

Ia juga mengapresiasi langkah Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang mengakomodasi aspirasi masyarakat dalam daftar calon pahlawan nasional tahun ini.

“Saya menilai ini langkah tepat dan berani. Gus Ipul hanya menjalankan prosedur yang sesuai mekanisme, dan masyarakat berhak mengusulkan tokoh yang dianggap berjasa,” kata Maulana.

Sebagai penutup, Maulana mengajak seluruh generasi muda Indonesia untuk meneladani semangat kerja keras, nasionalisme, dan kedisiplinan yang diwariskan oleh Soeharto.

“Generasi sekarang perlu belajar dari ketegasan dan ketulusan Soeharto dalam membangun bangsa. Itulah semangat kepemimpinan yang harus kita warisi,” tutupnya.


Kontributor: A. Nasihul Anwar