IMG-20260403-WA0035

Albanjari.com, Martapura – Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banjar datangkan LBM PBNU untuk menggelar Madrasah Bahtsul Masail.

Madrasah Bahtsul Masail tersebut merupakan kaderisasi bahtsul masail. Kegiatan tersebut diselenggarakan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas dalam berdiskusi secara ilmiah ala pesantren.

Pada dasarnya, untuk menjadikan seseorang piawai dalam berbahtsul masail ialah dengan membiasakan diri melakukan bahtsu itu sendiri. Namun, terkadang untuk memulai membiasakan diri berbahtsu tidak jarang menemukan berbagai macam kendala.

Ditambah lagi, seiring dengan berkembangnya zaman, persoalan yang muncul pun kian kompleks. Inilah yang mengahruskan kita untuk progresif dalam menjawab tantangan zaman tanpa harus meninggalkan diskusi ilmiah khas pesantren tersebut.

PCNU Kabupaten Banjar melalui Lembaga Bahtsul Masail menyambut perkembangan zaman tersebut. Selain untuk mencetak kader-kader yang piawai dalam berbahtsu. Madrasah tersebut juga untuk melestarikan dan mendakwahkan warisan tak benda berupa kekayaan intelektual dari para ulama terdahulu.

Narasumber yang didatangkan pun tidak kaleng-kaleng. Yaitu LBM Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Enam orang dari Tim LBM PBNU yang nantinya akan memipin dan memandu Madrasah Bahtsul Masail tersebut.

Kalo kita tarik lebih jauh, bahtsul masail sebenarnya bermuara kepada adat para ulama dan santri nuasantara sejak zaman dulu. Hal ini dapat dibuktikan dengan beredarnya buku-buku hasil diskusi, lengkap dengan pertanyaan, jawaban serta rujukannya.

Penulis pernah menemukan sebuah buku hasil musyawarah ulama Martapura lengkap dengan tahunnya. Di buku tersebut tertulis pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat kepada NU, setiap pertanyaan dijawab melalui musyawarah NU lengkap dengan referensinya.

Namun sayang, buku tersebut sudah tidak berada di tangan penulis, dikarenakan satu dua hal. Dan penulis tidak sempat memperbanyak buku tersebut sebelum akhirnya menghilang.

Dari buku itu kita memahami bahwa kegiatan diskusi ilmiah atau yang kita kenal sekarang sebagai bahtsul masail itu sudah dijalankan oleh ulama kita. Namun, hasil musyawarah tersebut belum tersimpan secara rapi.

Semoga nanti penulis dan Tim LTN bisa menemukan buku itu kembali dan akan kami rawat warisan tersebut dengan baik. Selain itu, kami juga akan mengabadikan setiap momen serta kegiatan NU (PCNU Kabupaten Banjar). Entah itu melalui tulisan, foto maupun video. Terlebih lagi kegiatan Bahtsul Masail.

Madrasah Bahtsul Masail yang diselenggarakan oleh LBM PCNU bersama LBM PBNU ini merupakan upaya meneruskan kegiatan ulama dulu serta melestarikan budaya intilektual khas pesantren itu.

Data yang kami terima dari panitia bahwa peserta kegiatan tersebut berjumlah lebih dari 90 orang. Peserta tersebut berasal dari berbagai pondok pesantren, MWC NU serta dari PCNU diluar Kabupaten Banjar.

Dari 90 an peserta tersebut, sebagian besar diantaranya adalah perempuan. Ini merupakan tonggak awal kaderisasi ulama perempuan di Martapura.

Madrasah tersebut berlangsung selama dua hari, dari hari Ahad-Senin (5-6 April 2026). Dan dibimbing langsung oleh pakar Bahtsul Masail dari LBM PBNU.

Sekedar informasi, bahwa Madrasah Bahtsul Masail bersama LBM PBNU ini merupakan kali pertama dilaksanakan di Kalimantan.


Penulis: Muhammad Fahrie