
Gambar ilustrasi, sumber: muhammad hatim
Albanjari.com, Martapura – Belakangan ini kekhawatiran orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke pesantren kian mencuat, pasalnya para orang tua menganggap bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang kolot dan ketinggalan zaman, bahkan ada juga anggapan bahwa pesantren membuat anak tidak berkembang.
Padahal jika kita cermati secara seksama, pesantren memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Pendidikan umum (non pesantren) pada biasanya hanya mengandalkan pendekatan deduksi akal untuk memperoleh ilmu. Sementara pesantren menekankan pentingnya dimensi rohani, spiritual, dan pengalaman batin dalam proses pendidikan.
Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI mengatakan, bahwa pesantren bukan sekadar tempat mereguk ilmu, pesantren merupakan pusat kehidupan, pesantren membentuk manusia secara intelektual dan spiritual.
“Pesantren bukan sekadar tempat belajar melainkan pusat kehidupan, ia memiliki kekhasan yang membedakannya dari lembaga pendidikan umum, pesantren membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga matang secara spiritual.”
Adapun dalam hal kurikulum, pesantren juga memiliki keunggulan nya tersendiri, di antaranya adalah Integrasi Ilmu agama dan penanaman karakter sejak dini. Para ustadz tidak hanya mengajarkan materi dan teori, tetapi menghidupinya dalam praktik harian seperti sholat berjamaah, adab, dzikir dan yang lainnya. Begitu pula dengan pendidikan karakter. Di pesantren para santri diajarkan untuk tidak hanya melatih kejujuran, kesabaran dan tawadhu’ tapi juga di barengi dengan praktik nyata seperti menghormati dan merendahkan diri di hadapan ustadz, kyai, dan orang yang lebih tua.
Di pesantren, para ustadz tidak hanya mengajarkan secara teori belaka, tapi juga menjadi bagian penting pembentukan akhlak dan karakter mereka agar mereka siap untuk terjun langsung bersosialisasi dengan masyarakat di masa mendatang.
Mahmud Yunus, salah seorang pelopor pendidikan islam modern di Indonesia (1899-1982) pernah mengatakan: “Tujuan pendidikan Islam adalah menyiapkan anak-anak supaya diwaktu dewasa kelak mereka cakap melakukan pekerjaan dunia dan amalan akhirat, sehingga terciptanya kebahagiaan bersama dunia akhirat.”
Pesantren memiliki konsep yang sama dengan gagasan pendidikan yang diperkenalkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, gagasan tersebut dikenal dengan konsep pawiyatan. Pawiyatan sendiri adalah model full day education di mana para santri ataupun santriwati tinggal satu lokasi bersama guru, yang memungkinkan santri ataupun santriwati tidak hanya memperoleh ilmu hanya dari ruang kelas, namun juga bisa memperolehnya di mana saja baik itu di musholla, kamar asrama, halaman pesantren, maupun tempat-tempat lainnya.
Keunggulan lainnya adalah pesantren merupakan wadah pendidikan holistik, artinya mendidik para santri ataupun santriwati secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada aspek keagamaan saja, namun juga berfokus pada pengembangan diri sesuai dengan minat dan bakat mereka. Sering kita temui, pesantren menyediakan berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler seperti hadrah, beladiri, seni, olahraga dan lainnya sebagai sarana pengembangan diri.
Dalam bidang keilmuan sudah tidak diragukan lagi, pesantren adalah lembaga pendidikan yang relevan untuk menjawab tantangan zaman bagi masyarakat, terkhusus di Indonesia yang mana mayoritas masyarakatnya penganut agama Islam.
Sering kita temui kekeliruan di lingkungan masyarakat baik itu di kehidupan nyata maupun di media sosial. Para santri dan santriwati muncul sebagai tameng sekaligus ujung tombak untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut dengan ilmu yang mereka peroleh saat di pesantren dulu.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya mencetak generasi alim yang berakhlak, tetapi juga sosok yang mandiri, bersahaja, dan mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya. Inilah kekuatan pesantren sebagai model pendidikan khas Indonesia yang relevan di tengah perkembangan zaman.
KH. Hasyim Asy’ari pernah berdauh: “Tujuan utama pendidikan pesantren adalah membentuk manusia berakhlakul karimah, bukan hanya sekedar pintar.”
Penulis : Muhammad Hatim Editor : Muhammad Fahrie







