madrosah-sunnah-XgMiKakDtjs-unsplash

Sumber: unsplash (madrosah sunnah)

oleh: *Kyai Habibullah – Pimpinan Pondok Pesantren Raudatul Mustarsyidin

A. Definisi Madzhab
Madzhab (مذهب) secara etimologi adalah tempat pergi (مكان الذهاب), isim makan dari kata kerja ذهب. Yang dimaksud di sini adalah “jalan” atau lorong.

Sedangkan secara terminologi (menurut istilah) adalah:

الأحْكامُ الَّتِي اشْتَمَلَتْ عَلَيْها المَسائِلُ

“Hukum-hukum yang mencakup beberapa masalah”

Madzhab dalam fiqh adalah kumpulan aturan-aturan yang memuat masalah-masalah agama, digali dengan metode tertentu oleh seorang imam mujtahid dan kemudian disempurnakan oleh pengikut sesudahnya.

Penggunaan kata “madzhab” terhadap “kumpulan aturan-aturan” dalam kesusastraan Arab dikenal dengan majaz isti’arah, yaitu meletakkan sebuah nama pada obyek yang tidak semestinya, dengan tujuan untuk menyamakan (taysbih). Semisal kalimat berikut:

رَاَيْتُ اَسَدًا يقْرَأُ الْكِتَابَ

“Saya melihat singa sedang membaca kitab”

“Singa” pada redaksi di atas bukanlah singa yang kita ketahui, akan tetapi, seorang laki-laki yang terkenal pemberani laksana singa. Redaksi يقرأ (membaca) adalah qorinah (dalil yang membersamai) yang mencegah lafadz اسد diartikan dengan makna yang sesungguhnya.

Kata “madzhab” dipinjam untuk nama sebuah aliran hukum-hukum agama dikarenakan memiliki kesamaan (jami’). “Jalan” adalah sarana yang bisa mengantarkan seseorang untuk menempuh kehidupan di dunia. Sedangkan “aturan-aturan agama” merupakan sarana yang dapat mengantarkan kehidupan di akhirat. Kedua-duanya berfungsi “mengantarkan”. (Bujairami ala khotib, bitsharrufin waa ziyadah).

B. Hukum bermadzhab
Syekh Muhammad Ibn Alisy dari kalangan Maliki dalam Fathul Aly berkata:

فتح العلي المالك في الفتوى على مذهب الإمام مالك ١/‏٦٠ محمد بن أحمد عليش (ت ١٢٩٩)
وأمّا العالِمُ الَّذِي لَمْ يَصِلْ رُتْبَةَ الِاجْتِهادِ والعامِّيُّ المَحْضُ فَإنَّهُ يَلْزَمُهُما تَقْلِيدُ المُجْتَهِدِ لِقَوْلِهِ تَعالى ﴿فاسْألُوا أهْلَ الذِّكْرِ إنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ﴾ [النحل ٤٣]

“Orang alim yang tidak mencapai pada level mujtahid mutlak dan orang awam murni wajib bagi mereka berdua bertaqlid kepada seorang mujtahid.”

Berdasarkan firman Allah:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [النحل : ٤٣]

“Bertanyalah pada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.”

Senada dengan pendapat di atas, Imam Jalaluddin al Mahalli dari kalangan syafi’iyah dalam syarah jam’ul jawami’ juga berkata:

و)الأصَحُّ (أنَّهُ يَجِبُ) عَلى العامِّيِّ وغَيْرِهِ مِمَّنْ لَمْ يَبْلُغْ رُتْبَةَ الِاجْتِهادِ (التِزامُ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ) مِن مَذاهِبِ المُجْتَهِدِينَ (يَعْتَقِدُهُ أرْجَحَ) مِن غَيْرِهِ (أوْ مُساوِيًا) لَهُ وإنْ كانَ نَفْسُ الأمْرِ مَرْجُوحًا

“Menurut pendapat yang lebih shahih, wajib bagi orang awam dan lainnya yang tidak mencapai level mujtahid mutlak untuk berpegang pada madzhab tertentu dari beberapa madzhab para mujtahid yang dia yakini lebih unggul dari yang lain atau sama meskipun pada kenyataan pendapat itu dikalahkan.”

Bahkan Syekh Ahmad ibn Ghanim dari kalangan malikiyah dalam kitab alfawakih ad-dawany menyatakan bahwa taqlid terhadap salah satu madzhab yang empat merupakan ijma’ ulama.

Berikut redaksinya:

الفواكه الدواني على رسالة ابن أبي زيد القيرواني – (٨/ ٤٦٩)
وقَدْ انْعَقَدَ إجْماعُ المُسْلِمِينَ اليَوْمَ عَلى وُجُوبِ مُتابَعَةِ واحِدٍ مِن الأئِمَّةِ الأرْبَعِ: أبِي حَنِيفَةَ ومالِكٍ والشّافِعِيِّ وأحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رضي الله عنهم وعَدَمِ جَوازِ الخُرُوجِ عَنْ مَذاهِبِهِمْ، وإنَّما حَرُمَ تَقْلِيدُ غَيْرِ هَؤُلاءِ الأرْبَعَةِ مِن المُجْتَهِدِينَ، مَعَ أنَّ الجَمِيعَ عَلى هُدًى لِعَدَمِ حِفْظِ مَذاهِبِهِمْ لِمَوْتِ أصْحابِهِمْ وعَدَمِ تَدْوِينِها،

“Telah menjadi ijma’ ulama orang islam pada hari ini atas kewajiban mengikuti salah satu dari imam yang empat, Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad ibn Hambal dan tidak boleh keluar dari madzhab mereka. Haram taqlid kepada selain mereka yang empat padahal mereka semua berada di atas petunjuk. Alasannya, karena selain yang empat, madzhab mereka tidak terjaga dikarenakan pengikut-pengikut mereka mati dan madzhab mereka tidak terbukukan.”

Untuk memahami al-Qur’an dan sabda nabi harus menyerahkan kepada ahlinya. Mujtahid mutlak adalah orang yang hafal ratusan ribu sumber dan mampu memilah mana yang harus dijadikan sebagai dalil dan mana yang gugur. Dan keahliannya benar-benar teruji dan mendapat pengakuan dari ulama yang hidup pada masanya dan yang datang sesudahnya.

Berikut contoh pengakuan orang yang masyhur keilmuannya terhadap orang yang layak menyandang ahludz dzikri (ahli ilmu).

Imam Ahmad adalah guru imam Bukhari, hafal satu juta hadits, hidup semasa dengan Imam Syafi’i sekaligus menjadi muridnya. Dalam Siyaru A’lam Annubala, Addzhabi menceritakan dialog Imam Ahmad dan Abdullah, putranya.

سير أعلام النبلاء – (١٠ / ٤٥)
قُلْتُ لأبِي: أيَّ رَجُلٍ كانَ الشّافِعِيُّ، فَإنِّي سَمِعتُكَ تُكْثِرُ مِنَ الدُّعاءِ لَهُ؟
قالَ: يا بُنِيَّ، كانَ كالشَّمْسِ لِلدُّنْيا، وكالعافِيَةِ لِلنّاسِ، فَهَلْ لِهَذَيْنِ مِن خَلَفٍ، أوْ مِنهُما عِوَضٌ

“Saya (Abdullah) bertanya kepada ayahku: Syafi’i itu seperti apa ? Saya mendengarmu banyak mendoakan beliau.
Imam Ahmad menjawab: wahai anakku, Imam Syafi’i laksana matahari untuk dunia dan bagaikan kesehatan bagi manusia, apakah untuk dua perkara ini ada gantinya.”

Pernyataan Imam Ahmad menunjukkan bahwa kealiman Imam Syafi’i tidak ada yang menandinginya.

Imam Al-baihaqi dengan keluasan ilmunya pantas untuk menjadi mujtahid mutlak dan mendirikan madzhab. Imam haramain berkata:

مَا مِنْ فَقِيْهٍ شَافِعِيٍّ إِلَّا وَلِلشَّافِعِيّ عَلَيْهِ مِنَّةٌ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ البَيْهَقِيْ، فَإِنَّ الْمِنَّةَ لَهُ عَلَى الشَّافِعِيّ لِتَصَانِيْفِهِ فِي نُصْرَةِ مَذْهَبِهِ

“Tidak ada seorang faqih (ahli agama) yang bermadzhab Syafi’i kecuali Imam Syafi’i memiliki hak menyebut-nyebut kebaikannya yang diberikan kepada pengikutnya, kecuali Abu Bakar Al-baihaqi, maka dia punya hak untuk menyebut-nyebut kebaikannya yang diberikan kepada Syafi’i karena karya-karyanya di dalam membantu madzhabnya.”

Setelah mengutip pernyataan Imam Haramain di atas, Ad-Dhahabi berrkata :

سير أعلام النبلاء – (١٨ / ١٦٩)
قُلْتُ: أصاب أبُو المَعالِي، هَكَذا هُوَ، ولَوْ شاءَ البَيْهَقِيّ أنْ يَعمل لِنَفْسِهِ مَذْهَبًا يَجتهد فِيهِ؛ لَكانَ قادِرًا عَلى ذَلِكَ، لسعَة علُومه، ومَعْرِفَته بِالاخْتِلاَف، ولِهَذا تراهُ يُلوِّح بِنَصْر مَسائِلَ مِمّا صَحَّ فِيها الحَدِيثُ

“Saya (Ad-Dhahabi) berkata; benar apa yang dikatakan Abu Ma’ali (Imam Haramain), kenyataannya memang demikian. Jika Imam Baihaqi berkehendak membuat madzhab sendiri, niscaya dia mampu melakukan itu, dikarenakan luasnya ilmu dan pengetahuanya terhadap ikhtilaf (ulama). Oleh karenanya, kamu melihat Imam Baihaqi memberi catatan/penjelasan dengan membantu beberapa masalah yang terdapat hadits yang shahih di dalamnya.”

Namun Imam Baihaqi sendiri memilih bermadzhab kepada imam syafi’i. Dalam kitabnya Ma’rifatus sunan wal atsar, beliau berkata:

“Dengan pertolongan Allah, saya telah membandingkan perkataan satu-persatu para iman dengan batas maksimal pengetahuanku terhadap al-Quran, lalu apa yang aku kumpulkan dari hadits dan atsar sahabat nabi yang membahas tentang kewajiban-kewajiban, sunnah-sunnah, halal haram, had dan beberapa hukum, maka saya melihat bahwa Syafi’i paling banyak diikuti, paling kuat hujjahnya, paling shahih cara mengqiyasnya, paling terang dalam memberi petunjuk. Dan itu terdapat pada kitab yang beliau karang, baik kitab qoul qodim maupun kitab qoul jadid yang memuat ushul dan furu’ dan dengan menggunakan redaksi yang paling jelas dan paling fashih. (dalam kesusastraan arab)”

Alasan Imam Baihaqi untuk bermazdhab Syafi’i sebenarnya sangat panjang, tapi saya cukupkan sampai di sini, bisa sampean baca redaksi aslinya di bagian bawah.

Dalam tulisan kali ini saya tidak menampilkan pujian-pujian ulama kepada selain syafi’i, karena ini hanya sekedar contoh dan juga untuk menghemat pembahasan tentang madzhab.

Dari beberapa pengakuan di atas dapat disimpulkan.
1. Imam yang empat sudah teruji kealiman dan kepakarannya dalam memahami nash-nash syariah.
2. Banyak orang-orang alim sesudahnya yang sudah sampai pada level mujtahid tapi lebih memilih bermadzhab dari pada membuat madzhab sendiri, ini menunjukkan bahwa mereka menganggap para imam mujtahid adalah maha guru.

Dari pada membuat yang baru dan hasilnya sama atau dengan cara nyontek, lebih baik mentakhrij dalil-dalil hadits yang digunakan, memberi penjelasan kalam-kalamnya yang sulit di pahami orang-orang awam dan mencetuskan hukum-hukum baru yang belum disinggung imamnya dengan menggunakan manhaj mereka.

معرفة السنن والآثار للبيهقي – (١ / ١٢٢)

وقَدْ قابَلْتُ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ تَعالى أقْوالَ كُلِّ واحِدٍ مِنهُمْ بِمَبْلَغِ عِلْمِي مِن كِتابِ اللَّهِ عز وجل ، ثُمَّ بِما جَمَعْتُ مِنَ السُّنَنِ والآثارِ فِي الفَرائِضِ والنَّوافِلِ والحَلالِ والحَرامِ والحُدُودِ والأحْكامِ، فَوَجَدْتُ الشّافِعِيَّ رحمه الله أكْثَرَهُمُ اتِّباعًا وأقْواهُمُ احْتِجاجًا وأصَحَّهُمْ قِياسًا وأوْضَحَهُمْ إرْشادًا. وذَلِكَ فِيما صَنَّفَ مِنَ الكُتُبِ القَدِيمَةِ والجَدِيدَةِ فِي الأُصُولِ والفُرُوعِ وبِأبْيَنِ بَيانٍ وأفْصَحِ لِسانٍ

وكَيْفَ لا يَكُونُ كَذَلِكَ وقَدْ تَبَحَّرَ أوَّلًا فِي لِسانِ مَن خَتَمَ اللَّهُ النُّبُوَّةَ بِهِ وأنْزَلَ بِهِ القُرْآنَ مَعَ كَوْنِهِ عَرَبِيَّ اللِّسانِ قُرَشِيَّ الدّارِ والنَّسَبِ مِن خَيْرِ قَبائِلِ العَرَبِ مِن نَسْلِ هاشِمٍ والمُطَّلِبِ
ثُمَّ اجْتَهَدَ فِي حِفْظِ كِتابِ اللَّهِ عز وجل وسُنَّةِ نَبِيِّهِ ﷺ وآثارِ الصَّحابَةِ وأقْوالِهِمْ وأقْوالِ مَن بَعْدَهُمْ فِي أحْكامِ اللَّهِ عز وجل حَتّى عَرَفَ الخاصَّ مِنَ العامِ، والمُفَسَّرَ مِنَ المُجْمَلِ، والفَرْضَ مِنَ الأدَبِ، والحَتْمَ مِنَ النَّدْبِ، واللّازِمَ مِنَ الإباحَةِ، والنّاسِخَ مِنَ المَنسُوخِ، والقَوِيَّ مِنَ الأخْبارِ مِنَ الضَّعِيفِ، والشّاذَّ مِنها مِنَ المَعْرُوفِ، والإجْماعَ مِنَ الِاخْتِلافِ
ثُمَّ شَبَّهَ الفَرْعَ المُخْتَلِفَ فِيهِ بِالأصْلِ المُتَّفَقَ عَلَيْهِ مِن غَيْرِ مُناقَضَةٍ مِنهُ لِلْبِناءِ الَّذِي أسَّسَهُ ولا مُخالَفَةٍ مِنهُ لِلْأصْلِ الَّذِي أصَّلَهُ، فَخَرَجَتْ بِحَمْدِ اللَّهِ ونِعْمَتِهِ أقْوالُهُ مُسْتَقِيمَةً وفَتاوِيهِ صَحِيحَةً

البجيرمي على الخطيب ج ١ ص ٥١
ﻭاﻟﻤﺬﻫﺐ ﻟﻐﺔ ﻣﻜﺎﻥ اﻟﺬﻫﺎﺏ ﻭﻫﻮ اﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭاﺻﻄﻼﺣﺎ اﻷﺣﻜﺎﻡ اﻟﺘﻲ اﺷﺘﻤﻠﺖ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ﺷﺒﻬﺖ ﺑﻤﻜﺎﻥ اﻟﺬﻫﺎﺏ ﺑﺠﺎﻣﻊ ﺃﻥ اﻟﻄﺮﻳﻖ ﻳﻮﺻﻞ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﻌﺎﺵ ﻭﺗﻠﻚ اﻷﺣﻜﺎﻡ ﺗﻮﺻﻞ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﻌﺎﺩ ﺃﻭ ﺑﺠﺎﻣﻊ ﺃﻥ اﻷﺟﺴﺎﺩ ﺗﺘﺮﺩﺩ ﻓﻲ اﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭاﻷﻓﻜﺎﺭ ﺗﺘﺮﺩﺩ ﻓﻲ ﺗﻠﻚ اﻷﺣﻜﺎﻡ ﺛﻢ ﺃﻃﻠﻖ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺬﻫﺐ ﻓﻬﻲ اﺳﺘﻌﺎﺭﺓ ﻣﺼﺮﺣﺔ ﻭﻫﻞ ﻫﻲ ﺃﺻﻠﻴﺔ ﺃﻭ ﺗﺒﻌﻴﺔ ﻗﻮﻻﻥ اﻷﺭﺟﺢ ﻣﻨﻬﻤﺎ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻓﻴﻘﺎﻝ ﺷﺒﻪ ﻣﺎ ﺫﻫﺐ ﺇﻟﻴﻪ اﻹﻣﺎﻡ ﻣﻦ اﻷﺣﻜﺎﻡ ﺑاﻟﺬﻫﺎﺏ ﻓﻲ اﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭاﺳﺘﻌﺎﺭ اﻟﺬﻫﺎﺏ ﻟﻤﺎ ﺫﻫﺐ ﺇﻟﻴﻪ اﻹﻣﺎﻡ

*Penulis adalah Pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM PWNU Kalsel)  masa khidmat 2019-2024


Editor: Muhammad Fahrie