
Sumber: langkar.id
Albanjari.com, Martapura – Dalam agama islam, kita diajarkan untuk selalu berbuat kebajikan, entah itu ketika mukim (berada di daerah) atau ketika berlayar. Pun juga ketika siang ataupun malam.
Semua itu diatur sedemikian rupa dalam agama kita. Tuntunan untuk berbuat bajik pun tidak sedikit, mulai dari Al-Qur’an, Hadits sampai ajaran para ulama. Sebagaimana firman Allah:
QS. Al-Qashash: Ayat 77 (Juz 20)
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah memerintahkan kepada kita untuk berbuat kebajikan. Perintah dalam ayat tersebut bersifat muthlak (tanpa ada pengkaitan). Artinya, Allah tidak memberikan batasan waktu dan tempat, serta kepada siapa kita berbuat kebaikan tersebut.
Ada banyak cara untuk merealisasikan perintah agar selalu berbuat kebajikan tersebut. Diantaranya adalah dengan cara berzikir dan berdoa. Hal ini senada dengan firman Allah:
QS. Al-A’raf: Ayat 55 (Juz 8)
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ
Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Melalui ayat ini Allah secara gamblang memerintahkan kita untuk berdoa. Selain sebagai bentuk implementasi dari perbuatan baik, berdoa juga merupakan realisasi dari perintah Tuhan.
Dalam agama kita, berdoa bukan hanya untuk meminta atau memohon sesuatu kepada Allah. Tetapi, juga merupakan sebuah bukti penghambaan diri kepada-Nya. Selain itu, bagi sebagian muslim berdoa juga merupakan kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama.
Diantara kebiasaan berdoa yang dilakukan oleh sebagian muslim adalah saat hendak berlayar atau bepergian jauh. Hal ini lazim kita temui di sekitar kita, karena sudah menjadi adat.
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan misalnya, ada beberapa kegiatan keagamaan yang memang sudah menjadi adat masyarakat. Seperti pergi berziarah saat mendekati ramadan, dan sebagainya.
Ada satu kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin di Martapura, tepatnya di Sekumpul. Kegiatan keagamaan tersebut iyalah Maulid Nabi, setiap malam senin mulai dari ba’da magrib sampai isya.
Bertempat di Mushalla Arraudah, kegiatan maulid tersebut sama seperti kegiatan maulid pada umumnya. Maulid yang dilantunkan pun juga sama dengan maulid yang biasa dibawakan di Kalimantan Selatan yakni maulid simtudduror.
Namun di waktu tertentu, jamaah maulid Sekumpul bisa meningkat sangat drastis, dan itu terjadi dalam kurun waktu ± satu minggu. Yaitu ketika bulan Rajab, lebih tepatnya di awal-awal bulan tersebut.
Masyarakat yang hadir di acara maulid pada bulan rajab tersebut datang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Ada juga dari luar provinsi, ada dari luar pulau, bahkan ada yang datang dari mancanegara.
Martapura pun dalam kurun ± satu minggu menjadi bagaikan lautan manusia dengan jumlah yang tak terhingga.
Sebelum pergi ke Martapura untuk menghadiri Maulid Nabi di Mushalla Arraudah, Perhatikan Anjuran Imam Nawawi ini
Para ulama sudah sejak lama menjadi panutan bagi umat. Hal demikian dikarenakan ulama tak henti-hentinya memberikan ilmu dan nasehat kepada kita. Berbagai nasehat diajarkan, mulai dari perihal keagamaan sampai persoalam kehidupan.
Imam Nawawi diantaranya. Kali ini saya akan paparkan beberapa anjuran ulama besar dari Damaskus itu bagi masyarakat yang ingin menghadiri acara maulid di mushalla Arraudah. Terkhusus bagi jamaah yang berasal dari tempat yang jauh.
Imam Nawawi, dalam Al-Azkar, memberikan anjuran kepada kita sebelum berlayar untuk melakukan beberapa perbuatan kebajikan. Diantaranya dengan mempersiapkan niat dengan sebaik-baiknya. Karena niat adalah pondasi dari segala perbuatan. Sebagaimana sabda Nabi:
إنما الأعمال بالنيات……. الحديث الشريف
Artinya: “Semua perbuatan itu dilandasi dengan niat,” (HR. Bukhari Muslim).
Apabila niat kita sudah benar, maka perjalanan berlayar kita akan terasa mudah walaupun dengan jarak yang relatif jauh. Setelah itu kita juga harus mempersiapkan kebutuhan kita mulai dari persiapan keberangkatan, di jalan, sampai di tempat tujuan.
Selain persiapan logistik. Imam Nawawi juga mengingatkan kita akan hal yang tak kalah penting, yaitu mengetahui jalur, tempat tinggal saat di tujuan dan keperluan operasional lainnya. Hal tersebut dijabarkan Imam Nawawi dalam Al-Azkar:
فإذا استقرَّ عزمُه على السفر، فليجتهدْ في تحصيل أمور، منها: أن يستحلّ كلَّ من بينه وبينه معاملة في شيء أو مصاحبة، ويسترضي والديه وشيوخه، ومن يُندب إلى برّه واستعطافه، ويتوبُ إلى الله تعالى، ويستغفره من جميع الذنوب والمخالفات، وليطلبْ من الله تعالى المعونةَ على سفره، وليجتهدْ على تعلّم ما يحتاج إليه في سفره.
Artinya: “Jika ia telah memutuskan untuk bepergian, ia harus berusaha untuk memperoleh beberapa hal tertentu, termasuk: meminta maaf kepada setiap orang yang berinteraksi atau berhubungan dengannya, meminta ridha kepada orang tua dan guru, serta kepada orang-orang yang dianjurkan untuk diperlakukan dengan baik dan meminta dukungan mereka, bertaubat kepada Allah Yang Maha Kuasa dan memohon ampunan-Nya atas segala dosa dan maksiat, memohon pertolongan Allah Yang Maha Kuasa dalam perjalanannya, dan berusaha mempelajari apa yang dibutuhkannya dalam perjalanannya,” (Al-Azkar).
Setelah hal diatas sudah terasa aman. Kemudian Imam Nawawi memberikan anjuran kepada kita untuk melaksanakan salat sunah dua rakaat sebelum berangkat untuk melakukan perlayaran.
يُستحبّ له عند إرادتِه الخروجَ أن يصلِّي ركعتين لحديث الْمُقَطَّم بن المقدام الصحابي رضي الله عنه، أن رسول الله ﷺ قال: «ما خَلَّفَ أحَدٌ عِنْدَ أَهْلِهِ أفْضَلَ من ركعتين يَرْكَعُهُما عنْدَهُمْ حينَ يريدُ سَفَرًا رواه الطبراني
Artinya: “Disunahkan mengerjakan salat dua rakaat saat hendak melakukan perlayaran. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan muqottom bin miqdam, bahwa Rasulullah bersabda: Perbuatan paling afdhal yang dilakukan seseorang sebelum melakukan perlayaran adalah salat sunnah dua rakaat,” (HR. Thabrani).
Kemudian setelah melakukan salat sunah dua rakaat, sunah pula untuk membaca surah Al-Quraisy. Dengan tujuan memohon perlindungan kepada Allah, setelah membaca surah itu, bacalah doa yang diajarkan para ulama:
ويُستحبّ أن يقرأ سورة ﴿لِإِيلافِ قُرَيْشٍ﴾، فقد قال الإِمام السيد الجليل أبو الحسن علي بن عمر الحزبي القزويني، الفقيه الشافعي، صاحب الكرامات الظاهرة، والأحوال الباهرة، والمعارف المتظاهرة: إنها أمانٌ من كل سوء.
Artinya: “Dusunahkan pula membaca surah Al-Quraisy. Imam Abul Hasan Ali bin Umar Al-Quzwini berkata: Bahwasanya faedah surah Al-Quraisy itu memberikan perlindungan dari kejahatan.” (Al-Azkar)
Kemudian baca doa ini:
اللَّهُمَّ بِكَ أسْتَعِينُ، وَعَلَيْكَ أتَوَكَّلُ؛ اللَّهُمَّ ذَلِّلْ لي صعُوبَةَ أمْرِي، وَسَهِّلْ عَليَّ مَشَقَّةَ سَفَرِي، وَارْزُقْنِي مِنَ الخَيْرِ أكْثَرَ مِمَّا أطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ؛ رَبّ اشْرَحْ لي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أمْرِي؛ اللَّهُمَّ إني أسْتَحْفِظُكَ وأسْتَوْدِعُكَ نَفْسِي وَدِينِي وأهْلِي وأقارِبي وكُلَّ ما أنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَليْهِمْ بِهِ مِنْ آخِرَةٍ وَدُنْيا، فاحْفَظْنَا أجمعَينَ مِنْ كُلّ سوءٍ يا كَرِيمُ.
Setelah itu, ketika sudah ingin bangkit dari tempat duduk maka bacalah doa ini:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ اعْتَصَمْتُ؛ اللَّهُمَّ اكفني ما أهمني وَمَا لا أَهْتَمُّ لَهُ؛ اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لي ذَنْبِي وَوَجِّهْنِي لِلْخَيْرِ أينما توجهت
Ketika sudah berada di kendaraan dan akan memulai melakukan kepergian inilah doanya:
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَسألُكَ فِي سفَرِنَا هَذَا البِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنْ العَمَلِ ما تَرْضَى اللهم هون عَلَيْنا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنّا بُعْدَهُ؛ اللَّهُمَّ أنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالخَلِيفَةُ في الأهل؛ اللهم إني أعوذ بك مِنْ وَعْثاءِ السَّفَرِ، وكآبَةِ المَنْظَرِ، وَسُوءِ المُنْقَلَبِ في المَالِ والأهْلِ
Kemudian, ketika ingin singgah atau sudah sampai ketempat tujuan, inilah doanya:
أعُوذُ بِكَلِماتِ الله التامات من شر ما خلق
Ketika kita ingin bepergian dengan tujuan kebaikan, seperti menghadiri maulid nabi di mushalla Arraudah. Sangat disayangkan apabila kita mengabaikan apa yang telah dianjurkan oleh Imam Nawawi tersebut.
Apalagi kita tahu, bahwa satu perbuatan kebaikan akan mendapatkan sepuluh balasan kebaikan pula. Sangat indah rasanya apabila perjalanan kita diiringi dengan zikir dan doa kepada-Nya.
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa sohibul bait adalah orang yang sangat gemar beramal saleh. Niatkan dalam hati untuk mengikuti jejak langkah beliau, agar kelak kita dikumpulkan bersama beliau.
Doa Ketika Kembali dari Perlayaran
Setelah pulang dari perlayaran, Imam Nawawi juga menganjurkan untuk membaca beberapa doa. Diantaranya doa ketika kita kembali ke tempat kita masing-masing.
آيِبُونَ تائِبُونَ عابِدُون لِرَبِّنا حامِدُونَ. رواه مسلم
Doa masuk rumah ketika balik dari perlayaran:
تَوْبًا، تَوْبًا، أوْبًا، لا يُغادِرُ حَوْبًا
Anjuran Imam Nawawi dalam Al-Azkar ini semuanya berdasarkan hadits Nabi. Sangat disayangkan ketika kita ingin hadir di acara maulid di Martapura tanpa melaksanakan anjuran tersebut. Apakan lagi bagi mereka yang berasal dari tempat yang jauh.
Semoga kita bisa merealisasikan perbuatan kebajikan yang dianjurkan Imam Nawawi tersebut. Juga semoga kita mendapatkan barokah dari Maulid Nabi dan dari sohibul bait yaitu Kai Guru Sekumpul.
Semoga apa yang dianjurkan Imam Nawawi, dan apa yang diajarkan Kai Guru Sekumpul benar-benar masuk kedalam jiwa kita dan semoga kelak kita akan dikumpulkan bersama mereka.
Muhammad Fahrie, Ketua LTN PCNU Kabupaten Banjar & Pengurus PW IPNU Kalimantan Selatan
Penulis: Muhammad Fahrie








