
Ilustrasi belajar membaca Al Qur'an (sumber: canva/Ahmad Mursyidi)
Albanjari.com, Martapura – Seorang da’i/da’iyah (pendakwah) adalah figur yang menjadi panutan umat, baik dalam ucapan maupun perbuatannya. Ketika seorang pendakwah menyampaikan pesan-pesan keislaman, terlebih saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an di hadapan jamaah, maka ketepatan dalam membaca, menjadi bagian penting yang tak boleh diabaikan.
Namun realitanya, tidak sedikit pendakah yang masih luput dalam bacaan Al-Qur’an. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: bagaimana solusinya agar para pendakwah tersebut dapat memperbaiki bacaan mereka tanpa menjatuhkan wibawa?
Pertama, perlu disadari bahwa membaca Al-Qur’an dengan benar adalah kewajiban. Rasulullah SAW bersabda:
الَّذِي يَقرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكرَامِ البررَةِ
Artinya: “Barang siapa membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan taat kepada Allah,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini memberikan motivasi bagi umat Islam untuk senantiasa membaca Al-Quran, dan bagi yang sudah mahir, untuk terus meningkatkan kemampuan membacanya agar mendapatkan keutamaan yang lebih besar di akhirat.
Maka, memperbaiki bacaan tajwid adalah bagian dari upaya menunaikan amanah dakwah dengan sebaik-baiknya.
Salah satu solusi awal adalah dengan mengikuti pembelajaran tajwid secara rutin, baik melalui pengajian, halaqah, maupun kursus daring. Jika merasa kurang nyaman belajar di depan publik, maka mengikuti kelas privat atau belajar secara daring bisa menjadi pilihan tepat.
Di era digital seperti sekarang ini, banyak tersedia aplikasi belajar tajwid seperti Learn Quran Tajwid, Ayat, atau Tarteel maupun youtube yang bisa dimanfaatkan secara mandiri.
Langkah kedua, para pendakwah juga dapat mengadakan halaqah internal bersama sesama pendakwah atau ustadz, untuk saling muroja’ah bacaan Al-Qur’an. Dalam forum semacam ini, perbaikan bisa dilakukan dengan cara yang santai, terbuka, dan penuh kasih sayang. Bahkan bisa menjadi jalan untuk saling menasihati dan meningkatkan kualitas dakwah bersama.
Selain itu, mengikuti pelatihan yang diadakan oleh masing-masing metode pembelajaran Al Qur’an yang tersebar di seantaro negeri seperti Standarisasi Guru Al Qur’an Metode Tilawati, Sertifikasi Guru Al Qur’an Metode Ummi, Pelatihan Tartily Banjary (metode banua), dll adalah pilihan yang tepat.
Alangkah baiknya setelah ikut pelatihan, pendakwah mengajar di TPA/RQ yang menerapkan metode tersebut agar semakin terasah kualitas bacaannya. Karena ada suatu hadits tentang keutamaan belajar dan mengajar Al-Qur’an yang diriwayatkan oleh Sayyidina Usman bin Affan berikut ini:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Artinya: “Sebaik-baik kamu adalah mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya,” (HR. Bukhari)
Hadits ini menekankan bahwa belajar sambil mengajar Al Qur’an mendapatkan pahala dua kali lipat. Guru yang tidak sempurna bacaannya namun tetap mengajarkan dasar-dasar Al-Qur’an sesuai kemampuan, sambil terus memperbaiki diri, memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah.
Setiap metode ini punya cara tersendiri untuk membekali guru yang akan mengajarkan sesuai metode yang dipilihnya dan berjenjang dari jilid paud, jilid satu hingga enam dan Al Quran.
Materi yang diajarkan meliputi bidang fashohah (wakaf wal ibtida, mura’atul huruf wal harakat, mura’atul kalimat wal ayat), tajwid (makharijul huruf, ahkamul huruf, sifat huruf, ahkamul mad wal qosr), dan gorib musykilat.
Setiap jilid terdapat pokok bahasan yang harus dikuasai agar tercapai target yang diharapkan.
Diakhir pelatihan akan diadakan munaqosyah sampai dimana kemampuan menguasai pokok bahasan secara empat mata dihadapan tim munaqisy yang telah mengantongi sertifikasi munaqisy nasional.
Seperti Metode Tilawati menggunakan lagu rost dengan 3 nada yaitu datar, naik, turun suatu irama yang enak didengar, mudah dipahami dan menyenangkan. Dengan menggunakan peraga dan baca simak buku sehingga memudahkan untuk mempelajari dan mengingatnya.
Metode Ummi menggunakan lagu rost dua nada yaitu tinggi dan rendah. Metode Tartily Banjary adalah metode berasal dari banua Kalsel hanya menggunakan empat jilid dengan berbagai tangga lagu.
Dan banyak lagi metode lainnya sebagai pilihan para pendakwah untuk mengembangkan kualitas bacaannya tanpa merasa malu dan tanpa jatuh wibawanya karena kualitas bacaannya hanya ia dan pemunaqisy saja yang tahu.
Andai bacaannya tidak memenuhi target pokok bahasan ia bisa menghubungi pemunaqisy selanjutnya untuk belajar secara privat kapanpun dimanapun.
Kemudian, penting juga bagi pendakwah untuk mendengarkan dan menirukan qari-qari terkenal. Ini dapat membantu memperbaiki makharijul huruf dan mengenali kesalahan bacaan secara perlahan. Merekam suara sendiri saat membaca kemudian dibandingkan dengan rekaman standar juga dapat menjadi media belajar yang sangat efektif.
Yang tak kalah penting adalah kerendahan hati dalam menerima masukan. Ketika ada yang menegur dengan cara baik, maka pendakwah sepatutnya bersyukur karena masih ada yang peduli terhadap kualitas dakwahnya. Justru sikap terbuka terhadap kritik akan menunjukkan sikap bijak dan memperkuat wibawa seorang pendakwah.
Menjadi pendakwah bukan hanya tentang pandai berbicara, tetapi juga tentang bagaimana menampilkan akhlak dan adab terhadap Al-Qur’an. Ketika bacaan Al-Qur’an diperbaiki, maka bukan hanya suara yang menjadi indah, tetapi juga pesan yang disampaikan menjadi lebih kuat dan menyentuh hati.
Penutup
Memperbaiki bacaan Al-Qur’an bukanlah aib, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah dan penghormatan terhadap firman-Nya. Semoga para pendakwah terus diberi kekuatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan menjadi pelita bagi umat yang tak hanya fasih menyampaikan kebenaran, tetapi juga menghadirkannya dalam kesempurnaan adab dan bacaan yang benar.
*) Penulis adalah Guru TPA/RQ Metode Tilawati dan Wakil Ketua LTN PCNU Kab.Banjar 2025-2030
Penulis: Ahmad Mursyidi Editor: Muhammad Fahrie








